Hukum Tidur Seharian Saat Puasa Ramadhan, Puasa Tetap Sah?

Beberapa umat Islam memilih tidur seharian saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Hal ini lantaran saat puasa, tubuh akan lebih lemas dan mudah mengantuk.
Selain itu, bagi beberapa Muslim, memilih tidur ketimbang beraktivitas juga dianggap bisa meminimalkan peluang berbuat hal-hal yang bisa membatalkan puasa.
Namun, bolehkah tidur sehariaan saat puasa Ramadhan?
Apakah akan tetap mendapatkan pahala puasa?
Hukum tidur seharian saat puasa
Dilansir dari (4/3/2025), Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag RI Arsad Hidayat menjelaskan, secara hukum Islam atau fikih, tidur seharian tidak akan membatalkan puasa seseorang.
Menurut Arsad, hal ini dijelaskan dalam isi fatwa dari Darul Ifta atau Lembaga Fatwa Mesir.
"Bahwa orang yang istirahat atau tidur, baik sebentar atau lama, tidak merusak puasa seseorang," ujarnya kepada Kompas.com.
Selain itu, dalam kitab Raudhatut Thalibin karya Imam Nawawi yang bermazhab Syafi'i juga dijelaskan, bahwa tidur dalam waktu yang lama tidak akan membatalkan puasa.
"Kalau seandainya seseorang tidur lama dalam waktu siang maka puasanya tetap sah," ucap Arsad, menyampaikan penggalan isi kitab tersebut.
Hal yang sama juga tertera dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah yang bermazhab Hambali.
"Tidur tidak akan memengaruhi batal atau tidaknya puasa seseorang, baik tidurnya dari pagi sampai sore," terang Arsad, menyampaikan sebagian isi kitab tersebut.
Apakah tidur saat puasa adalah ibadah?
Beberapa orang percaya bahwa tidur saat berpuasa Ramadhan termasuk ibadah. Padahal, hadis yang menjelaskan bahwa tidurnya orang berpuasa merupakan sebuah ibadah, tidak sahih menurut Guru Besar Tafsir Hukum UIN Raden Mas Said Surakarta, Hasan el-Qudsy.
"Mayoritas ulama menyebut hadis tersebut dhoif (lemah). Bahkan sebagian ulama menghukumi hadis tersebut palsu," ujarnya.
Menurut para ulama, hadis tersebut bertentangan dengan semangat yang terkandung di dalam puasa itu sendiri. Di mana Islam mendidik umatnya melalui puasa untuk memperbanyak aktivitas, berkarya, dan produktif yang bernilai ibadah.
"Sejarah juga sudah membuktikan kebanyakan peperangan di zaman Rasulullah terjadi di bulan Ramadhan. Kemerdekaan Indonesia juga terjadi pada bulan Ramadhan," jelas Hasan.
Sehingga kurang tepat jika seseorang beranggapan tidur saat puasa merupakan ibadah.
Menurut Hasan, jika hadis tersebut bisa dijadikan dalil, tidurnya seseorang yang berpuasa bisa berpahala hanya dalam koridor menghindari dari keburukan yang sekiranya bisa dilakukan saat tidak tidur.
"Itupun sebuah kebaikan yang sifatnya pasif, padahal di Islam menginginkan menjadi sosok manusia yang memiliki karya yang produktif dan tidak malas-malasan," pungkasnya.
Senada, Arsad Hidayat juga menegaskan bahwa tidur seharian memang kurang bagus untuk kondisi badan dan produktivitas dalam beribadah.
Namun, lain soal jika hal itu dilakukan oleh pekerja yang bekerja di malam hari.
"Kita tidak bisa mengakimi bahwa tidur seharian itu tidak ada gunanya. Bagi mereka yang bekerja malam sampai pagi hari, tentu mereka akan beristirahat pada siang hari," ucap Arsad.
"Bagi orang yang pada malam sudah tidur, maka lebih baik saat siang digunakan untuk hal-hal produktif yang bernilai ibadah," pungkasnya.
(Sumber: Muhammad Iqbal Amar/Editor: Inten Esti Pratiwi)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang