Main Game Seharian Saat Puasa, Sah atau Sia-sia? Ini Penjelasan Fikihnya

Ilustrasi main game / gamer, Kajian Fikih, Ramadhan Bukan Bulan “Pelarian”, Bahaya Puasa Tanpa Ruh, Boleh, Tapi Jangan Menguasai Hari
Ilustrasi main game / gamer

 Fenomena ngabuburit di era digital mengalami pergeseran. Jika dulu menunggu waktu berbuka diisi dengan kegiatan sosial, membaca Quran atau berburu takjil, kini tak sedikit orang terutama generasi muda menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar ponsel untuk bermain game. Dari usai Subuh hingga menjelang Maghrib, waktu terasa melesat di dunia virtual.

Di satu sisi, cara ini dianggap ampuh mengalihkan lapar dan haus. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang kerap mengusik: apakah menghabiskan hari puasa hanya untuk bermain game diperbolehkan secara syariat? Apakah puasanya tetap sah?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kajian Fikih

Dalam kajian fikih, bermain game tidak termasuk hal yang membatalkan puasa. Puasa batal karena perbuatan yang secara jelas disebutkan dalam syariat, seperti makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari, atau tindakan yang bertentangan langsung dengan iman.

Artinya, seseorang yang berpuasa sambil bermain game sepanjang hari tetap sah puasanya selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan tersebut. Secara hukum asal, aktivitas hiburan seperti game termasuk mubah (boleh).

Namun kebolehan ini memiliki batasan penting. Aktivitas tersebut tidak boleh mengandung unsur haram, tidak melalaikan kewajiban seperti salat, dan tidak dilakukan secara berlebihan hingga menghabiskan waktu ibadah.

Ramadhan Bukan Bulan “Pelarian”

Para ulama mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tetapi momentum menyucikan jiwa. Ulama besar Yaman, Sayyid Abdullah Al-Haddad seperti dikutip dari NU Online, menekankan agar seorang Muslim tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi selama bulan suci. Beliau menulis dalam Nashaihud Diniyah:

وَمِنْ آدَابِهِ أَنْ لَا يُكْثِرَ التَّشَاغُلَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بَلْ يَتَفَرَّغُ عَنْهَا لِعِبَادَةِ اللَّهِ وَذِكْرِهِ مَا أَمْكَنَهُ

“Di antara adab yang dianjurkan adalah tidak terlalu sibuk dengan urusan dunia di bulan Ramadhan, tetapi sebaiknya mengosongkan diri untuk beribadah kepada Allah dan banyak mengingat-Nya sebisa mungkin.”

(Nashaihud Diniyah, hlm. 173)

Pesan ini relevan dengan fenomena saat ini. Bermain game bukan dosa, tetapi ketika waktu Ramadhan habis hanya untuk mengejar level dan skor, orientasi spiritual puasa bisa terkikis.

Bahaya Puasa Tanpa Ruh

Dalam hadits sahih, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tidak semua orang berpuasa memperoleh pahala utuh:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.”

(HR An-Nasa’i)

Hadits lain menegaskan esensi puasa bukan sekadar fisik:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ الصِّيَامُ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Puasa bukan hanya menahan dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan sia-sia dan keji.”

(HR Al-Baihaqi)

Dalam perspektif ini, bermain game berlebihan berpotensi masuk kategori laghwi (kesia-siaan) jika dilakukan tanpa manfaat dan melalaikan tujuan ibadah.

Boleh, Tapi Jangan Menguasai Hari

Para ulama tidak melarang hiburan ringan saat puasa. Bahkan, aktivitas santai bisa menjadi jeda agar ibadah tetap segar. Masalahnya muncul ketika hiburan berubah menjadi aktivitas utama sepanjang hari. Ramadan sejatinya melatih pengendalian diri dan manajemen waktu. Jika seseorang mampu menahan lapar, tetapi tidak mampu menahan distraksi layar, maka tujuan tarbiyah (pendidikan spiritual) puasa tidak tercapai optimal.

Solusi bijaknya, jadikan game sebagai selingan setelah target ibadah terpenuhi—misalnya setelah membaca Al-Qur’an atau menuntaskan pekerjaan. Dengan demikian, hiburan tetap ada tanpa menggerus ruh Ramadhan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bermain game seharian saat puasa tidak membatalkan dan hukumnya boleh secara fikih, selama tidak mengandung unsur haram dan tidak melalaikan kewajiban. Namun, menghabiskan mayoritas waktu Ramadhan untuk aktivitas yang tidak bernilai ibadah dapat mengurangi kualitas dan pahala puasa.

Puasa bukan sekadar sah secara hukum, tetapi juga harus hidup secara makna. Karena itu, bijaklah mengatur waktu: biarkan game menjadi hiburan sesaat, bukan pusat aktivitas. Dengan keseimbangan ini, Ramadhan dapat memperkuat fisik sekaligus menyuburkan spiritual.