Laptop Nvidia RTX Spark Diuji Main Game AAA dan Edit Video, Ini Hasilnya

Nvidia, RTX Spark, hands-on, Laptop Nvidia RTX Spark Diuji Main Game AAA dan Edit Video, Ini Hasilnya

Nvidia memiliki misi besar untuk "menciptakan kembali" cara manusia menggunakan komputer personal (PC). Misi tersebut diwujudkan lewat kehadiran superchip bernama RTX Spark.

Chip laptop ini dirancang tidak hanya untuk mengeksekusi tugas kecerdasan buatan (AI) tingkat tinggi secara mandiri, tetapi juga menghadirkan efisiensi daya dan performa gaming dalam satu paket.

Kehebatan chip dari Nvidia ini rupanya bukan sekadar janji di atas kertas.

Jurnalis dari media teknologi Tom's Guide, Jason England, baru-baru ini berkesempatan menjajal langsung purwarupa laptop bertenaga Nvidia RTX Spark.

Pengalaman awal (hands-on) tersebut menghasilkan satu kesimpulan, dominasi Apple lewat MacBook Pro kini benar-benar mendapat ancaman nyata.

Sebagai pengguna harian MacBook Pro M5, England mengaku sangat menyukai laptop Apple tersebut karena performanya tinggi dan baterainya yang awet. Namun, karena MacBook lemah di sektor gaming, ia selalu terpaksa membawa konsol genggam Steam Deck ke mana-mana.

"Datanglah RTX Spark, dan keharusan (membawa dua perangkat) itu kini tidak ada," tulis England dalam ulasannya.

Salah satu keunggulan utama MacBook selama ini adalah kemampuannya mempertahankan performa tinggi meski laptop tidak dicolokkan ke sumber listrik. Menurut England, kelebihan tersebut kini tidak lagi eksklusif milik Apple.

Saat menguji laptop RTX Spark, England mendapati bahwa aplikasi editing video Adobe Premiere Pro mampu berjalan dua kali lebih cepat, terutama pada tugas-tugas memotong klip video "berat" yang sudah diolah oleh AI.

Di aplikasi desain 3D kelas berat, seperti Unreal Engine 5, laptop RTX Spark ini juga dengan mulus memuat dan menggerakkan lanskap kota yang terdiri dari triliunan poligon. Hebatnya, semua tugas berat ini bisa diselesaikan dengan lancar baik saat laptop terhubung ke listrik maupun saat murni menggunakan daya baterai.

Libas game AAA hingga di atas 100 fps

Sektor inilah yang menjadi "senjata pembunuh" bagi MacBook. Berbekal teknologi DLSS 4.5 dari Nvidia, laptop RTX Spark mampu menyajikan pengalaman bermain game yang mulus dan memanjakan mata.

England menjajal dua skenario gaming. Pertama, ia memainkan Alan Wake 2, sebuah game berat yang sudah dirancang untuk arsitektur Arm. Game ini berjalan sangat mulus dengan efek pantulan cahaya yang realistis.

Skenario kedua, ia memainkan Pragmata yang berjalan lewat emulator (dari sistem lawas ke sistem Arm). Meski diemulasi, game tetap berjalan tanpa kendala.

Meski Nvidia belum mengizinkan penguji melihat angka pasti frame rate (fps) pada layar, England menaksir kedua game AAA tersebut sukses melampaui angka 100 fps di layar laptop yang diasumsikan memiliki refresh rate 120Hz.

Nvidia, RTX Spark, hands-on, Laptop Nvidia RTX Spark Diuji Main Game AAA dan Edit Video, Ini Hasilnya

Pengujian chip Nvdia RTX Spark.

Menjajal Agentic AI 

Selain menjajal grafis, jurnalis Tom's Guide ini juga menguji kemampuan Agentic AI, yakni jenis AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi bisa mengambil alih kendali dan bertindak mandiri di dalam sistem.

Pengalaman pertama melibatkan skenario multi-device menggunakan fitur OpenClaw. Pengujian ini sebenarnya dilakukan di sebuah mini PC DGX Spark, yang chipnya identik dengan RTX Spark namun dioptimalkan untuk Windows.

Lewat obrolan langsung ke komputer, AI diuji dengan berbagai perintah. Mulai dari tugas rumit, seperti coding untuk membuat website, hingga tugas harian seperti menerjemahkan daftar menu makanan dan memilihkan hidangan rendah garam khusus untuk penderita darah tinggi.

AI mampu mengingat instruksi dengan sangat baik berkat kapasitas long memory context yang tersimpan dan dimuat ke dalam memori sistem.

Terkait coding, AI mendemonstrasikan kemampuan vibecoding (membuat program atau website hanya bermodalkan bahasa instruksi kasual).

Nvidia, RTX Spark, hands-on, Laptop Nvidia RTX Spark Diuji Main Game AAA dan Edit Video, Ini Hasilnya

Pengujian laptop Nvidia RTX Spark.

Meski England secara pribadi skeptis dan kurang setuju bahwa ini adalah cara yang ideal untuk membangun website dan aplikasi secara utuh, AI tetap menunjukkan kemampuannya lewat kontrol agentic pada situs web.

Kehebatan AI agentic ini juga terasa saat browsing di internet. PC mampu mengambil alih browser dan mengisi formulir data secara otomatis hanya dalam hitungan detik.

Pengalaman ini jauh melampaui fitur AI peramban lain, seperti Opera Browser Operator yang masih harus merekam layar dan mengirim datanya ke server cloud.

Karena diproses secara lokal di dalam laptop RTX Spark, proses ini berjalan jauh lebih cepat dan aman.

Ia juga menjajal pola kerja lintas aplikasi. Mulanya, ia membuat sketsa kasar burung. AI kemudian menyulap sketsa itu menjadi gambar realistis di Photoshop, mengubahnya menjadi model 3D, dan menganimasikannya lewat aplikasi ComfyUI dalam waktu yang sangat singkat.

Meski cepat, England mencatat bahwa model AI lokal ini masih sesekali mengalami "halusinasi". Saat burung itu dianimasikan, bagian kakinya tiba-tiba menghilang dari layar.

Kehebatan AI agentic ini juga terasa saat browsing di internet. PC secara otomatis mampu mengambil alih browser dan mengisi formulir data secara otomatis hanya dalam hitungan detik.

Karena diproses secara lokal di dalam laptop tanpa harus mengirim data ke server cloud, proses ini berjalan sangat aman dan jauh lebih cepat.

Nvidia, RTX Spark, hands-on, Laptop Nvidia RTX Spark Diuji Main Game AAA dan Edit Video, Ini Hasilnya

Pengujian chip Nvdia RTX Spark.

Deretan laptop RTX Spark

Dari serangkaian perangkat yang dibekali chip Nvidia RTX Spark ini, England mengaku paling terpikat dengan laptop Asus ProArt P14.

Namun, ia juga memuji kemewahan desain Microsoft Surface Laptop Ultra, kenyamanan mengetik di HP Omnibook 14X, kesan premium dari Dell XPS 16 Creator Edition, serta desain lipat yang solid dari MSI Prestige N16 Flip AI+.

Satu hal yang menarik perhatian, desain bodi jajaran laptop RTX Spark ini masih terlihat sangat familier layaknya laptop biasa.

Terkait hal ini, CEO Nvidia Jensen Huang menjelaskan secara langsung kepada England bahwa mereka ingin para pengguna "menjalani transisi teknologi ini dengan kecepatan mereka sendiri".

Dengan kata lain, Nvidia tidak ingin membuat konsumen ketakutan dengan perubahan wujud fisik laptop yang terlalu radikal.

"Setelah bertahun-tahun menunggu hadirnya Apple killer, Nvidia telah melangkah maju dan mewujudkannya. Ini adalah chip fenomenal yang memberikan efisiensi daya luar biasa, sekaligus menjadi mesin gaming kelas atas," tutup England, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Tom's Guide.

Nvidia, RTX Spark, hands-on, Laptop Nvidia RTX Spark Diuji Main Game AAA dan Edit Video, Ini Hasilnya

Laptop yang menggunakan chip Nvdia RTX Spark.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang