Terungkap! Raja Charles Diduga Bantu Biayai Perdamaian Adiknya dengan Korban Kasus Epstein
Keluarga Kerajaan Inggris kembali menjadi perhatian publik setelah Andrew Mountbatten-Windsor lagi-lagi dikaitkan dengan skandal Jeffrey Epstein. Di tengah bergulirnya kasus ini, banyak pihak mulai mempertanyakan peran dan sikap Raja Charles III di dalam kasus itu. Apalagi sebelumnya ia juga sempat ditanya soal seberapa jauh pengetahuannya mengenai keterlibatan sang adik dengan Jeffrey Epstein.
Kini, Raja Charles III dinilai tidak lagi bisa berdalih tidak tahu menahu soal adiknya, mantan Pangeran Andrew untuk menghindari tanggung jawab atas dugaan pelecegan seksual terhadap Virginia Giuffre. Virginia diketahui merupakan salah satu korban perdagangan remaja yang paling dikenal dalam kasus Jeffrey Epstein.
Dalam laporannya pada Rabu lalu, The Sun menyebut bahwa Charles yang saat itu masih menyandang gelar Pangeran Wales disebut secara pribadi menyumbang uang senilai 2 juta dolar AS dari total pinjaman 16 juta dolar AS kepada Andrew Mountbatten-Windsor. Dana itu diduga digunakan Andrew untuk mencapai kesepakatan damai dengan Giuffre pada 2022, sehingga korban mencabut gugatan perdata yang diajukanya di Amerika Serikat.
Disebutkan pula bahwa sebagian besar pinjaman tersebut, yang dipakai untuk membiayai penyelesaian kasus Andrew di luar pengadilan, berasal dari mendiang Ratu Elizabeth II. Dengan tercapainya kesepakatan itu, Andrew tak perlu memberikan kesaksian di pengadilan, setelah sebelumnya selama tiga tahun keluarga kerajaan Inggris diterpa sorotan negatif akibat terungkapnya kedekatan Andrew dengan Epstein.
Bahkan Editor Daily Beast, Tom Sykes yang menulis di kanal Royalist Substack mengungkap bahwa benar Charles ikut membantu pendanaan penyelesaian kasus tersebut, hal itu menunjukkan ia dan kantornya terlibat penuh dalam upaya menutupi perilaku Andrew.
“Uang Charles dipakai untuk menyelamatkan Andrew dari pengadilan terbuka, menghentikan gugatan perdata yang berpotensi menyorot dugaan pelecehan seksual oleh anggota senior kerajaan terhadap remaja korban perdagangan manusia di ruang sidang New York,” tulis Sykes.
Ia menilai langkah itu sebagai perhitungan politik keras demi kepentingan takhta. Namun, perhitungan tersebut dinilai justru berbalik merugikan.
Sejak 2022, skandal hubungan Andrew dengan Epstein bukannya mereda, melainkan makin melebar, terlebih setelah Departemen Kehakiman AS merilis kembali email dan foto dalam berkas Epstein. Andrew telah lama membantah melakukan kesalahan apa pun terkait Epstein.
Dalam wawancara BBC yang kontroversial pada 2019, Andrew juga mengaku tak mengingat pernah bertemu Giuffre, meski Giuffre menyatakan ia mengalami tiga kali hubungan seksual dengan Andrew atas arahan Epstein. Giuffre meninggal dunia tahun lalu karena bunuh diri. Epstein sendiri tewas pada 2019, juga dalam dugaan bunuh diri, setelah ditahan atas tuduhan perdagangan seks federal.
Dokumen dalam berkas Epstein menunjukkan Andrew tetap menjalin hubungan dengan terpidana pelaku kejahatan seksual itu sejak lama setelah ia secara terbuka mengklaim telah memutus kontak dengan Epstein. Dokumen tersebut juga memunculkan pertanyaan baru, termasuk dugaan apakah Andrew menikmati fasilitas dari jaringan perdagangan seks Epstein dan apakah ia pernah membagikan laporan rahasia kepada mendiang pengusaha keuangan itu terkait kunjungannya ke sejumlah negara Asia saat menjabat sebagai utusan perdagangan Inggris pada 2010.
Rangkaian dokumen baru ini dilaporkan telah mendorong penyelidikan kepolisian Inggris dalam beberapa waktu terakhir. Situasi tersebut juga menempatkan Raja Charles pada posisi sulit yang sebelumnya nyaris tak terbayangkan, yakni harus mendukung penyelidikan terhadap anggota keluarganya sendiri.
Istana Buckingham pekan ini menyatakan bahwa sang raja telah menegaskan, baik melalui kata-kata maupun tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, keprihatinannya yang mendalam atas tuduhan yang terus bermunculan terkait perilaku Tuan Mountbatten-Windsor.
Pernyataan itu juga menyebutkan, jika Kepolisian Thames Valley meminta dukungan, pihak istana siap bekerja sama sebagaimana mestinya.
Terkait keprihatinan mendalam dan tindakan belum pernah terjadi sebelumnya tersebut, Charles memang mengikuti langkah mendiang ratu sejak 2019 dengan secara bertahap mengurangi peran publik Andrew dalam keluarga kerajaan. Namun, para kritikus menilai ia tetap bersikap terlalu lunak terhadap adiknya yang tercoreng skandal, dan tindakannya dianggap terlambat.
Tahun lalu, Charles mencopot gelar pangeran dan Duke of York dari Andrew serta secara resmi dan mengusirnya dari Royal Lodge, rumah mewah 30 kamar dekat Kastel Windsor Meski begitu, Andrew masih terlihat tinggal di sana, menunggang kuda di kawasan Windsor Great Park, bahkan sempat tertangkap kamera melambaikan tangan kepada warga.
Pekan lalu, Charles akhirnya memerintahkan Andrew benar-benar angkat kaki dari Royal Lodge, dan mantan duke itu dipindahkan pada malam hari ke Sandringham, kawasan pedesaan milik pribadi keluarga kerajaan.
Menurut Sykes, alih-alih mengambil langkah tegas sejak awal, pihak Charles justru berupaya membangun narasi bahwa sumber masalah Andrew berasal dari sang ratu. Dalam beberapa bulan terakhir, muncul berbagai laporan yang menyebut Ratu Elizabeth II terlalu memanjakan putra kesayangannya itu.
Sejarawan kerajaan sekaligus penulis biografi Andrew, Andrew Lownie, mengungkapkan bahwa ratu mengetahui bagaimana putranya memanfaatkan perjalanan resmi yang dibiayai pajak sebagai utusan dagang Inggris untuk kepentingan pribadi, bermain golf, hingga mengejar perempuan. Termasuk dugaan bahwa ia pernah memesan puluhan pekerja seks ke kamar hotel bintang lima saat melakukan kunjungan resmi empat hari ke Thailand pada 2006.
“Ia tahu persis apa yang terjadi,” kata Lownie dalam wawancara pada Oktober.
Ia mengaku mengetahui ada pejabat tinggi yang sempat mengadukan hal itu kepada sekretaris pribadi ratu, namun keluhan tersebut tak ditindaklanjuti.
Meski demikian, bagi Sykes, tetap tak pantas jika kubu Charles kini seolah melempar kesalahan kepada mendiang ratu atas skandal yang terus membayangi keluarga Windsor. Ia menyebut upaya saling menyalahkan itu sebagai noda terhadap warisan sang ratu.
“Terlepas dari rasa sayangnya kepada putra favoritnya, ratu pada akhirnya benar-benar menyingkirkan Andrew dari kehidupan publik. Sebaliknya, sejak naik takhta, bahkan dimulai dari pemakaman ibunya, Charles justru beberapa kali terlihat secara mencolok tetap melibatkan Andrew dalam berbagai momen resmi,” ujar Sykes.