Top 7+ Fakta Lengkap Kasus Reni Rahmawati, Jadi Korban “Pengantin Pesanan” di China
- 1. Berawal dari Tawaran Kerja Bergaji Rp 15–20 Juta
- 2. Baru Dua Hari di China, Reni Sudah Dinikahkan
- 3. Kasus Terbongkar Setelah Ibunya Melapor ke Dedi Mulyadi
- 4. Suami Mengaku Bayar Rp 476 Juta kepada Agen
- 6. Polda Jabar Tetapkan Dua Tersangka di Indonesia
- 7. Reni Tegaskan Tidak Mengalami Kekerasan di China
Kasus yang menimpa Reni Rahmawati (RR), perempuan 24 tahun asal Sukabumi, Jawa Barat, membuka kembali praktik “pengantin pesanan” yang masih terjadi pada 2025. Berangkat karena tawaran kerja, Reni justru dinikahkan secara resmi di China hingga akhirnya berhasil kembali ke Indonesia. Berikut tujuh fakta lengkap kasus tersebut.
1. Berawal dari Tawaran Kerja Bergaji Rp 15–20 Juta
Pada Mei 2025, Reni menerima tawaran pekerjaan dari seseorang yang dikenalnya lewat media sosial. Ia dijanjikan gaji Rp 15–20 juta per bulan. Dengan harapan memperbaiki ekonomi keluarga, Reni berangkat ke China pada 18 Mei 2025.
Namun tawaran tersebut ternyata menjadi bagian dari modus perdagangan orang dengan kedok “pengantin pesanan”.
2. Baru Dua Hari di China, Reni Sudah Dinikahkan
Pada 20 Mei 2025, hanya dua hari setelah tiba, Reni dinikahkan secara resmi dengan Tu Chao Cai, seorang wiraswasta asal Yongchun, Quanzhou, Fujian. Modus ini merupakan bagian dari praktik kawin kontrak lintas negara melalui perantara agen.
3. Kasus Terbongkar Setelah Ibunya Melapor ke Dedi Mulyadi
Kasus mencuat setelah ibu Reni, Emalia, melaporkan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada 19 September 2025, bahwa putrinya disekap di China. Laporan tersebut diteruskan kepada KJRI Guangzhou, yang kemudian meminta bantuan Public Security Provinsi Fujian untuk melacak keberadaan Reni.
Pihak keamanan setempat kemudian menemukan dan memastikan kondisi Reni di rumah suaminya.
4. Suami Mengaku Bayar Rp 476 Juta kepada Agen
Dalam pertemuan di Yongchun pada 10 Oktober 2025, Konsul Jenderal Ben Perkasa Drajat bertemu langsung dengan Tu Chao Cai bersama pejabat wilayah dan keluarga pihak suami.
Tu mengaku telah membayar 205.000 RMB (sekitar Rp 476,4 juta) kepada agen untuk menikahi Reni. Namun, Reni dan keluarganya tidak pernah menerima uang tersebut, selain Rp 11 juta yang diberikan seseorang bernama Abdullah.
Tu merasa ditipu karena Reni tidak menunjukkan penolakan saat dinikahkan dan mengakui dua orang yang hadir saat akad di Indonesia sebagai orangtuanya, padahal bukan. Setelah penyelidikan, diketahui Reni dipaksa agen untuk menandatangani dokumen pernikahan.
5. Pernikahan Dibubarkan dan Reni Dipulangkan pada 18 November
Melalui proses negosiasi dengan pemerintah setempat, pernikahan Reni akhirnya dapat dibatalkan. Ia dijadwalkan kembali ke Indonesia pada Selasa (18/11/2025).
Konsul Jenderal RI di Guangzhou, Ben Perkasa Drajat, menyampaikan penjelasan lengkap mengenai proses verifikasi kondisi Reni dan pembatalan pernikahannya.
“Dalam penyelesaian kasus ini, pada 10 Oktober 2025, KJRI Guangzhou telah memverifikasi langsung kondisi saudari RR dan tidak menemukan bukti kekerasan. Saya juga memimpin pertemuan dengan keluarga suami RR dan otoritas setempat hingga disepakati untuk mengakhiri pernikahan sesuai hukum setempat,” ujarnya, Senin (17/11/2025), dikutip dari Antara.
Pada Senin (17/11/2025), Reni diserahkan kepada Kepolisian Republik Indonesia melalui Kompol Nirwan Fakaubun dan AKP Ade Saepudin untuk proses lanjutan di tanah air.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Konjen dan staf KJRI Guangzhou atas upaya pemulangan saya,” kata Reni.
6. Polda Jabar Tetapkan Dua Tersangka di Indonesia
Setibanya di Indonesia, Reni hadir dalam konferensi pers di Mapolda Jabar. Dirreskrimum Polda Jabar, Kombes Rudi, menyatakan bahwa Reni diperdaya oleh seseorang yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Ini tipu muslihat para tersangka, sehingga Reni yang membutuhkan pekerjaan teperdaya mengikuti semua yang disampaikan hingga berangkat ke China,” ungkapnya.
Ia mengatakan Polda Jabar telah menetapkan dua tersangka dan masih memburu pelaku lainnya.
Rudi menilai faktor sulitnya warga di China mencari pasangan turut memicu munculnya agen-agen yang menawarkan jasa mencari pengantin.
“Kami melihat bahwa dari cerita ini ada suatu kemungkinan di China sana ada kehidupan yang sulit mendapatkan pasangan… sehingga salah satunya ada orang yang menawarkan jasa untuk mencari pasangan,” ujarnya.
7. Reni Tegaskan Tidak Mengalami Kekerasan di China
Reni mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantunya kembali ke Indonesia.
“Terima kasih kepada Konjen yang telah membantu bahkan turun tangan langsung, terima kasih Bu Indah dari KJRI, terima kasih buat Kapolda, banyak terima kasih untuk semua,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa selama berada di China dirinya tidak menjadi korban kekerasan.
“Selama di sana tidak ada pelecehan seksual dan tidak ada kekerasan fisik. Terima kasih,” katanya.
Konsuler KJRI Guangzhou, Indah Mekawati, menjelaskan bahwa proses negosiasi berlangsung cukup sulit.
“Pada tanggal 10 Oktober, KJRI langsung turun ke Guangzhou, melakukan negosiasi dengan para keluarganya. Keluarga saudara TCC itu dilapisi oleh perwakilan pejabat dari kantor urusan luar negeri Guangzhou,” jelasnya.
Namun setelah melalui proses panjang, perceraian disepakati dan Reni berhasil kembali ke tanah air.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.