Program Gentengisasi Presiden Prabowo, Mengapa Penyeragaman Atap Bisa Berbahaya?

genteng, gentengisasi, Program Gentengisasi Presiden Prabowo, Mengapa Penyeragaman Atap Bisa Berbahaya?

Presiden Prabowo Subianto merancang program baru berskala nasional yang bertajuk "Gentengisasi". Program ini merupakan gerakan masif untuk mengganti atap rumah warga yang semula menggunakan seng menjadi atap genteng.

Wacana ini muncul sebagai respons atas keprihatinan pemerintah terhadap penggunaan atap seng yang dinilai tidak ideal bagi hunian di iklim tropis karena sifatnya yang menyimpan panas.

Namun, kebijakan ini memantik diskusi hangat di kalangan praktisi tata kota dan arsitektur.

Ahli Arsitektur dan Lansekap, Arif Wibowo, ST, memberikan catatan kritis terkait rencana pemerintah tersebut.

Menurutnya, penggunaan atap bukan sekadar persoalan estetika, melainkan hasil dari evolusi budaya dan adaptasi manusia terhadap lingkungan.

Fungsi Genteng Lebih dari Sekadar Peneduh

Secara mendasar, atap berfungsi melindungi penghuni dari panas dan hujan. Namun, Arif menjelaskan bahwa seiring perkembangan peradaban, atap juga menjadi ekspresi budaya dan spiritual suatu masyarakat.

"Atap genteng memang memiliki daya tahan tinggi dan durasi pemakaian cukup panjang yang bisa meredam panas dibanding jenis penutup atap yang lain," ujar Arif saat dihubungi, Selasa (10/2/2026).

Meski demikian, ia menekankan bahwa standar kenyamanan bersifat relatif. Bentuk atap seperti Limasan di Jawa belum tentu cocok atau nyaman jika diterapkan bagi masyarakat adat di Papua.

Risiko Penyeragaman: Ekologi hingga "Sampah Visual"

Arif menilai program gentengisasi yang bersifat top-down berisiko menciptakan penyeragaman ekspresi arsitektur rakyat di Indonesia. Dampaknya tidak hanya terasa pada sisi visual, tetapi juga pada aspek ekologis dan sosial.

"Praktik penyeragaman ini akan berdampak secara ekologi akibat eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan karena menggunakan bahan baku yang sama," kata Arif.

Selain itu, ia mengkhawatirkan hilangnya pengetahuan ketukangan lokal (indigenous craftsmanship) yang telah dimiliki masing-masing daerah selama berabad-abad. Dari sisi estetika kota, penyeragaman warna atau jenis genteng justru dianggap membosankan.

"Keberagaman bentuk dan jenis atap justru menjadikan kota lebih atraktif dan ekspresif. Jika diseragamkan, justru akan menciptakan sampah visual," tambahnya.

Bahaya Struktur dan Ancaman Bencana

Salah satu poin paling krusial yang disoroti adalah kemampuan struktur bangunan dalam menopang beban. Genteng memiliki bobot yang jauh lebih berat dibandingkan seng.

Arif memperingatkan bahwa mengganti atap secara instan tanpa memperhitungkan fondasi bisa membahayakan penghuni rumah.

"Jika sebuah rumah yang sebelumnya menggunakan atap seng tiba-tiba diganti genteng, berarti juga harus mengganti sistem struktur yang menopangnya. Sangat membahayakan penghuni jika dipaksakan, apalagi jika dihadapkan dengan tantangan bencana alam seperti gempa bumi," tegasnya.

Daripada sekadar mengganti genteng demi estetika foto udara, Arif menyarankan pemerintah untuk lebih fokus pada perbaikan permukiman kumuh dan penyediaan hunian layak bagi masyarakat di kota-kota besar.

Munculnya kawasan kumuh dinilai sebagai gejala sistemik akibat ketimpangan ekonomi dan pembangunan yang tidak merata antara desa dan kota.

"Kalau pemerintah serius, kenapa tidak fokus dengan perbaikan kampung-kampung kota yang kumuh saja sambil memberdayakan ekonomi warganya?" pungkas lulusan Teknik Arsitektur tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang