IHSG Dibuka Menghijau Dibayangi Koreksi, Bursa Asia Variatif dan Wall Street Anjlok
IHSG dibuka menguat 39 poin atau 0,44 persen di level 9.072 pada pembukaan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026.
Head of Retail Research PT BNI Sekuritas, Fanny Suherman memprediksi, IHSG berpotensi terkoreksi pada perdagangan hari ini.
"IHSG berpotensi koreksi hari ini," kata Fanny dalam riset hariannya, Kamis, 15 Januari 2026.
Ilustrasi IHSG.
Bursa Asia beragam pada Rabu kemarin. Meskipun demikian, pasar saham Jepang kembali mencetak rekor tertinggi di tengah sentimen politik pemilu. Indeks Nikkei 225 menguat 1,48 persen dan Topix melanjutkan penguatan 1,26 persen.
Selain itu, indeks Nikkei Jepang didorong ekspektasi bahwa Perdana Menteri Sanae Takaichi akan mengumumkan pemilihan umum, yang diperkirakan berlangsung pada bulan Februari. Jika rencana tersebut terealisasi, pemilu ini akan menjadi ajang pertama bagi Takaichi untuk menghadapi langsung pemilih Jepang sejak menjabat.
Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,65 persen, sedangkan Kosdaq turun 0,72 persen. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 menguat 0,14 persen, seiring sikap investor yang masih berhati-hati.
Pelaku pasar menunggu sentimen baru di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Di sisi lain, Hang Seng Hong Kong naik 0,56 persen, Taiex Taiwan menguat 0,76 persen, dan pasar saham daratan China melemah masing-masing sebesar 0,40 persen dan 0,31 persen.
"Support IHSG berada di level 8.950-9.000 sementara resist IHSG di rentang 9.050-9.070," ujarnya.
indeks-indeks saham Wall Street kembali turun pada Rabu kemarin dan melanjutkan penurunan. Pelemahan tersebut terjadi karena melemahnya saham teknologi, seiring investor mencermati laporan kinerja emiten terbaru serta perkembangan geopolitik.
Indeks S&P 500 turun 0,53 persen, Dow Jones melemah 0,09 persen, dan Nasdaq Composite anjlok 1 persen dimana sektor teknologi menjadi penekan utama pasar. Di sisi lain, saham Broadcom menurun 4 persen sementara Nvidia dan Micron Technology masing-masing turun lebih dari 1 persen.
Selain itu, serangan Trump terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, berlanjut pada Selasa, 13 Januari 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran soal independensi bank sentral setelah Departemen Kehakiman AS melakukan penyelidikan pidana terhadap Powell. Para bankir sentral dunia pun menyatakan dukungan terhadap Powell.