Bursa Asia Perkasa saat Wall Street Terguncang Koreksi Tajam Bitcoin

Gedung Liebian dengan air terjun di China
Gedung Liebian dengan air terjun di China

Bitcoin anjlok sekitar 6 persen hingga diperdagangkan di bawah US$86.000 pada Ssnin, 1 Desember 2025. Penurunan tajam ini menandai hari terburuknya sejak bulan Maret 2025 dan menekan pasar saham secara keseluruhan. 

Aset digital ini telah berjuang untuk tetap berada di atas harga US$90.000 sejak jatuh di bawah level tersebut pada akhir bulan lalu untuk pertama kalinya sejak bulan April 2025. Emiten saham terkait kripto, seperti Coinbase dan MicroStartegy ikut ambruk pada sesi penutupan perdagangan semalam.

Saham perusahaan kecerdasan buatan (AI) juga ambrol sejalan penurunan Bitcoin. Saham Broadcom  dan  Super Micro Computer  masing-masing turun lebih dari 4 persen dan 1 persen yang menunjukkan lebih banyak aksi ambil untung di sektor tersebut.

Dikutip dari CNBC Internasional, indeks acuan Jepang, Nikkei 225, naik 0,54 persen saat pembukaan. Indeks Topix melonjak sebesar 0,44 persen.

Di Korea Selatan, indeks Kospi melesat 1,02 persen. Namun, indesk Kosdaq yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil melemah 0,13 persen.

Di Australia, indeks ASX/S&P 200 menguat 0,12 persen. Kontrak Berjangka untuk Indeks Hang Seng Hong Kong naik ke level 26.219 dari posisi sebelumnya di level 26.033,26.

Wall Street terbakar imbas koreksi tajam Bitcoin. Indeks S&P 500 melemah 0,53 persen dan ditutup pada level 6.812,63.

Nasdaq Composite kehilangan 0,38 persen dan ditutup pada level 23.275,92. Indeks Dow Jones Industrial Average  melemah 427,09 poin atau 0,9 persen menjadi 47.289,33.