IHSG Dibuka Memerah dan Dibayangi Koreksi, Bursa Asia-Pasifik Melemah Cermati Isu Greenland
IHSG dibuka melemah 40 poin atau 0,44 persen di level 9.094 pada pembukaan perdagangan Rabu, 21 Januari 2026.
Head of Retail Research PT BNI Sekuritas, Fanny Suherman memprediksi, IHSG berpotensi terkoreksi pada perdagangan hari ini.
"IHSG berpotensi koreksi hari ini," kata Fanny dalam riset hariannya, Rabu, 21 Januari 2026.
Pergerakan IHSG
Pergerakan pasar saham Asia-Pasifik sebagian besar melemah pada perdagangan Selasa kemarin, seiring investor yang mencermati kembali ancaman tarif AS yang terkait dengan isu Greenland.
Ketegangan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan semakin meluasnya jarak hubungan antara Washington dan negara-negara Eropa.
Sejumlah negara Eropa dilaporkan tengah membahas opsi tarif balasan hingga langkah-langkah ekonomi represif lainnya, sebagai respons atas ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump. Langkah tersebut berpotensi memperkeruh hubungan diplomatik terkait Greenland.
Di kawasan Asia, pelaku pasar juga mencermati perkembangan di Jepang, setelah PM Sanae Takaichi menyatakan pada Senin bahwa ia berencana membubarkan parlemen dan menggelar pemilihan umum lebih awal (snap election) pada 8 Februari mendatang.
Indeks Nikkei 225 Jepang menurun 1,11 persen dan Topix turun 0,84 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi terkoreksi 0,39 persen, sedangkan Kosdaq naik 0,83 persen. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,66 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,29 persen.
"Support IHSG berada di level 9.025-9.075 sementara resist IHSG di rentang 9.180-9.220," ujarnya.
Sebagai informasi, indeks-indeks saham Wall Street kompak melemah pada Selasa kemarin, setelah Presiden AS, Donald Trump, kembali memanaskan tensi geopolitik dengan ancaman tarif baru terkait rencananya mengakuisisi Greenland. Pernyataan tersebut menimbulkan aksi jual besar-besaran di Wall Street.
Indeks Dow Jones Industrial Average menurun 1,76 persen, S&P 500 anjlok 2,06 persen, dan Nasdaq Composite melemah 2,39 persen. Pelemahan tersebut terjadi setelah Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif terhadap impor dari delapan negara anggota NATO. Kebijakan tersebut akan diberlakukan hingga tercapai kesepakatan pembelian Greenland oleh AS.