IHSG Dibuka Menghijau dan Berpotensi Lanjut Menguat Ikuti Bursa Asia

Karyawan mengamati layar yang menampilkan informasi pergerakan IHSG di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (26/6/2020). (Foto ilustrasi)
Karyawan mengamati layar yang menampilkan informasi pergerakan IHSG di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (26/6/2020). (Foto ilustrasi)

IHSG dibuka menguat 44 poin atau 0,50 persen di level 8.993 pada pembukaan perdagangan Rabu, 14 Januari 2026.

Head of Retail Research PT BNI Sekuritas, Fanny Suherman memprediksi, IHSG berpotensi lanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini.

"IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan sepanjang bertahan di support 8.900," kata Fanny dalam riset hariannya, Rabu, 14 Januari 2026.

IHSG

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Selasa kemarin, dipimpin oleh kenaikan saham Jepang setelah indeks Nikkei memimpin kenaikan. Sentimen positif investor terhadap sektor AI menjadi pendorong utama, meski ketidakpastian terkait independensi The Fed masih membayangi pasar global.

Indeks Nikkei Jepang melonjak 3,10 persen ditopang pelemahan yen serta spekulasi kebijakan stimulus fiskal. Sementara itu, Kospi Korea Selatan naik 1,47 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 0,90 persen, dan Taiex Taiwan bertambah 0,46 persen. Sedangkan, FTSE Straits Times menguat 0,85 persen dan FTSE Malay KLCI naik 0,75 persen.

Sementara itu, pasar menantikan rilis data inflasi konsumen AS bulan Desember 2025. Manajemen perbankan diperkirakan akan mendapat banyak pertanyaan, terkait rencana Presiden AS, Donald Trump, yang mengusulkan pembatasan bunga kartu kredit maksimal 10 persen selama satu tahun mulai 20 Januari 2026.

Bank-bank sebelumnya memperingatkan kebijakan ini berpotensi membatasi akses kredit bagi jutaan rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama menyatakan, telah menyampaikan kekhawatiran atas pelemahan Yen yang bersifat satu arah kepada Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. 

"Support IHSG berada di level 8.860-8.900 sementara resist IHSG di rentang 8.970-9.000," ujarnya.

Sebagai informasi, indeks-indeks saham Wall Street turun pada perdagangan Selasa kemarin, seiring tekanan pada saham JPMorgan dan meningkatnya volatilitas pasar akibat rangkaian kebijakan Donald Trump.

Indeks S&P 500 turun 0,19 persen, Dow Jones melemah 0,8 persen, dan Nasdaq Composite menurun 0,1 persen. Saham JPMorgan terkoreksi 4,2 persen, meskipun kinerja keuangan kuartal IV melampaui ekspektasi.

Kenaikan pendapatan perdagangan tidak mampu menutupi pelemahan biaya investment banking yang berada di bawah proyeksi. Goldman Sachs turun lebih dari 1 persen, sementara Mastercard dan Visa masing-masing melemah 3,8 persen dan 4,5 persen.