Hanya 2 Presiden RI Resmikan Megaproyek RDMP, Bahlil: Soeharto dan Prabowo

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan, peresmian megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina oleh Presiden Prabowo Subianto di Balikpapan, Kalimantan Timur hari ini, merupakan salah satu tonggak sejarah Indonesia.

Pasalnya, Bahlil menjelaskan bahwa pasca pemerintahan orde lama, hanya dua orang Presiden Indonesia yang meresmikan mega proyek RDMP semacam ini. Yang pertama yakni Presiden Soeharto pada tahun 1994, dan Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2026.

"Kita meresmikan RDMP itu terakhir tahun 94. Jadi dalam sejarah bangsa pasca orde lama, cuma dua presiden yang meresmikan RDMP," kata Bahlil di acara peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan, Senin, 12 Januari 2026.

"Pertama adalah Presiden Pak Harto terakhir tahun 94, dan 32 tahun kemudian Presiden Prabowo Subianto meresmikan RDMP pada 2026," ujarnya.

Sebelumnya, Bahlil juga memastikan bahwa operasional kilang RDMP Balikpapan ini akan dapat membuat Indonesia menghemat devisa hingga mencapai Rp 60 triliun.

Dia menjelaskan, dengan adanya fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang bisa meningkatkan kapasitas kilang, maka hal itu akan turut menggenjot produksi yang bisa dihasilkan oleh kilang terbesar di Indonesia tersebut.

Apabila sebelumnya kilang itu hanya mampu mengolah 260 ribu barel per hari, maka saat ini RDMP Balikpapan dipastikan memiliki kapasitas kilang sebesar 360 ribu barel minyak per hari.

"Maka dengan adanya RDMP ini, ke depan kita akan mampu menghemat devisa hingga mencapai sekitar Rp 60 triliun lebih, karena dia bisa menambah 100 ribu barel," kata Bahlil.

"Maka dengan bensin itu, kita bisa menghasilkan 5,8 juta kiloliter per tahun," ujarnya.

Bahlil menambahkan, saat ini konsumsi bensin secara nasional berada di angka 38 juta kiloliter (KL) per tahun. Sementara, total produksi dalam negeri yang bisa dihasilkan yakni mencapai 14,25 juta KL.

"Dengan penambahan 5,8 juta, maka impor kita terhadap bensin itu tinggal 19 juta kiloliter," ujarnya.