Profil 10 Pahlawan Nasional Baru 2025 Pilihan Presiden Prabowo, Termasuk Soeharto dan Gus Dur

Pelantikan presiden keempat Gus Dur pada 20 Oktober 1999
Pelantikan presiden keempat Gus Dur pada 20 Oktober 1999

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto resmi menetapkan sepuluh tokoh sebagai Pahlawan Nasional tahun 2025. Pengumuman dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Senin, 10 November 2025.

Kabar tersebut dibenarkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Ia menyebut bahwa nama-nama penerima gelar telah melalui proses seleksi panjang serta pertimbangan dari berbagai pihak, termasuk Ketua MPR Ahmad Muzani dan Wakil Ketua DPR.

“Insya Allah akan diumumkan (hari ini), kurang lebih ada sepuluh nama. Salah satunya Pak Harto juga masuk,” kata Prasetyo di kawasan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Senin, 10 November 2025 dikutip VIVA.co.id.

Ia menambahkan, keputusan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa para pendahulu bangsa yang telah memberikan kontribusi besar dalam perjalanan Indonesia.

Presiden RI Prabowo Subianto memberikan plakat penganugerahan gelar pahlawan untuk Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melalui sang istri, Sinta Nuriyah dan anaknya Yenny Wahid di Istana Negara

“Terutama para pemimpin kita, yang apapun sudah pasti memiliki jasa yang luar biasa terhadap bangsa dan negara,” ujarnya.

Berikut daftar lengkap 10 tokoh penerima gelar Pahlawan Nasional tahun 2025 beserta profil singkatnya:

1. Abdurrahman Wahid (Jawa Timur)

Dikenal sebagai Gus Dur, ia merupakan Presiden ke-4 Republik Indonesia dan tokoh besar Nahdlatul Ulama. Gus Dur dikenal sebagai simbol pluralisme, demokrasi, dan pejuang hak-hak minoritas di Indonesia.

2. Soeharto (Jawa Tengah)

Presiden ke-2 RI yang memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia mengalami stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi pesat, meski juga diwarnai kontroversi politik.

3. Marsinah (Jawa Timur)

Seorang buruh perempuan yang menjadi simbol perjuangan hak-hak pekerja di Indonesia. Marsinah tewas pada 1993 setelah memperjuangkan upah layak dan keadilan bagi rekan-rekan buruhnya.

4. Mochtar Kusumaatmadja (Jawa Barat)

Menteri Luar Negeri era Presiden Soeharto dan tokoh hukum internasional Indonesia. Ia dikenal sebagai perancang konsep “Wawasan Nusantara” yang memperkuat posisi Indonesia di forum dunia.

5. Rahma El Yunusiyyah (Sumatera Barat)

Pionir pendidikan Islam bagi perempuan di Indonesia. Ia mendirikan Madrasah Diniyyah Puteri Padang Panjang dan dikenal sebagai tokoh emansipasi pendidikan perempuan Muslim.

6. Sarwo Edhie Wibowo (Jawa Tengah)

Perwira tinggi TNI yang berperan penting dalam penumpasan G30S/PKI tahun 1965. Ia juga dikenal sebagai tokoh militer berintegritas dan ayah dari almarhum Ani Yudhoyono, istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

7. Sultan Muhammad Salahuddin (Nusa Tenggara Barat)

Raja Bima terakhir yang menentang kolonialisme Belanda dan memperjuangkan kemerdekaan rakyatnya. Ia dikenal sebagai pemimpin visioner yang menegakkan keadilan sosial di daerahnya.

8. Syaikhona Muhammad Kholil (Jawa Timur)

Ulama besar asal Bangkalan, Madura, yang menjadi guru bagi para pendiri Nahdlatul Ulama seperti KH Hasyim Asy’ari. Ia berjasa besar dalam perkembangan pendidikan Islam di Nusantara.

9. Tuan Rondahaim Saragih (Sumatera Utara)

Tokoh Batak Simalungun yang menentang penjajahan Belanda pada abad ke-19. Ia dikenal sebagai pejuang lokal yang membela tanah adat dan kedaulatan rakyat Simalungun.

10. Zainal Abidin Syah (Maluku Utara)

Sultan Ternate terakhir sebelum sistem kesultanan dilebur dalam Republik Indonesia. Ia berperan penting dalam memperjuangkan integrasi Maluku Utara ke dalam NKRI pasca-kemerdekaan.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini menjadi momen penting dalam refleksi sejarah bangsa, sekaligus pengingat akan perjuangan panjang para tokoh dari berbagai latar belakang dalam membangun Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan berkeadilan.