Dua Santri Lamongan Jadi Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny, Dikenali Lewat Tes DNA

Lamongan, Gresik, Al Khoziny, al khoziny buduran sidoarjo, Ponpes Al Khoziny, ponpes al khoziny ambruk, ponpes al khoziny buduran, al khoziny buduran, al khoziny ambruk, Ponpes Al Khoziny berusia 125 tahun, Dua Santri Lamongan Jadi Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny, Dikenali Lewat Tes DNA

Duka mendalam masih menyelimuti keluarga para korban ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Salah satu korban yang menjadi perhatian adalah Ghifari Haikal Nur (17), santri asal Desa Wangen, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, yang meninggal dunia tertimbun reruntuhan.

Jenazah Haikal telah dimakamkan di pemakaman desa pada Rabu (8/10/2025) pagi, berdampingan dengan sang ayah yang meninggal empat tahun lalu.

Haikal dikenal sebagai sosok pendiam dan tekun beribadah. Ia duduk di kelas tiga Madrasah Aliyah di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo dan dikenal bercita-cita menjadi ulama besar.

“Cita-citanya jadi ulama,” tutur ibunda korban, Sundari, saat ditemui di rumah duka, Rabu (8/10/2025).

Menurut Sundari, sebelum musibah tragedi ambruknya Ponpes Al Khoziny, tidak ada firasat apapun yang dirasakannya. Ia bahkan sempat berkomunikasi dengan sang anak yang meminta izin untuk segera libur dari kegiatan pesantren.

"Jadi tidak ada firasat apa-apa,” katanya lirih.

Sundari menuturkan, Haikal merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia dikenal rajin belajar dan telah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan di pesantren tersebut setelah lulus nanti.

“Haikal sempat bilang mau tetap di pondok setelah lulus Aliyah. Dia ingin terus menuntut ilmu agama,” ujar Sundari.

Kabar duka diterima keluarga pada Selasa (7/10/2025) malam, setelah hasil pencocokan DNA antara sampel milik Sundari dan jenazah yang ditemukan dinyatakan cocok oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Surabaya.

Jenazah Haikal kemudian diserahkan kepada keluarga pada Rabu pagi untuk dimakamkan. Proses pemakaman dilakukan secara sederhana di kampung halamannya, dengan shalat jenazah di masjid desa sebelum dikebumikan di pemakaman keluarga tak jauh dari rumah almarhum ayahandanya.

Kisah Haru Ibu Santri yang Menunggu Jenazah Anak di RS Bhayangkara

Di tempat berbeda, suasana pilu juga terlihat di Posko Ante-Mortem RS Bhayangkara Surabaya pada Selasa (7/10/2025) malam.

Di ruang tunggu itu, Fitri, ibu dari Virgiawan Narendra Sugiarto (16), tampak lemah bersandar di kursi besi berwarna biru. Kantung matanya menebal, pipinya sembab sebagai tanda air mata yang tak kunjung kering selama hampir sepekan mencari sang anak.

Fitri hanya ditemani dua kerabat saat menunggu proses penyerahan jenazah putra sulungnya, yang akrab disapa Rendra. Ia tampak mematung, menatap kosong ke arah lantai berpaving.

“Saya kalau cerita nanti teringat-ingat lagi. Saya enggak kuat ngomong,” ujarnya lirih saat ditemui di RS Bhayangkara Surabaya.

Fitri mengenang Rendra sebagai anak yang penurut, rajin, dan istiqamah beribadah.

Ia yakin putranya meninggal dunia dalam keadaan terbaik, karena saat musibah terjadi, Rendra sedang menunaikan ibadah Salat Asar berjamaah bersama teman-teman santrinya.

Firasat akan kepergian sang anak justru dirasakan oleh adik Rendra. Beberapa hari sebelum tragedi ambruknya Ponpes Al Khoziny, adiknya terus-menerus menangis meminta agar sang kakak segera pulang.

“Kemarin firasat adiknya yang nangis terus karena kangen, ‘Mas pulang, Mas pulang,’” kata Fitri dengan suara bergetar.

34 Jenazah Korban Ponpes Al Khoziny Berhasil Diidentifikasi

Lamongan, Gresik, Al Khoziny, al khoziny buduran sidoarjo, Ponpes Al Khoziny, ponpes al khoziny ambruk, ponpes al khoziny buduran, al khoziny buduran, al khoziny ambruk, Ponpes Al Khoziny berusia 125 tahun, Dua Santri Lamongan Jadi Korban Ambruknya Ponpes Al Khoziny, Dikenali Lewat Tes DNA

Foto udara petugas mengevakuasi jenazah korban runtuhnya bangunan mushalla di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (6/10/2025). Menurut data BNPB total korban yang telah dievakuasi Tim SAR mencapai 167 orang, dengan rincian korban selamat 104 orang dan 63 korban meninggal dunia di antaranya enam bagian tubuh dan tersisa sekitar 10 korban yang saat ini masih tertimbun reruntuhan dan masih dalam proses pencarian.

Sementara itu, tim DVI RS Bhayangkara Surabaya melaporkan perkembangan proses identifikasi korban ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo.

Hingga Selasa (7/10/2025) malam, sebanyak 17 jenazah korban baru berhasil diidentifikasi, menambah jumlah total menjadi 34 korban dari 64 kantong jenazah yang diterima rumah sakit.

Proses identifikasi dilakukan melalui pencocokan data Post-Mortem (PM) dan Ante-Mortem (AM), termasuk pengujian DNA dan identifikasi medis.

“Saat ini proses di Posko DVI masih berjalan dengan melakukan pendalaman dari AM dan PM,” kata Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol dr Khusnan Marzuki, Selasa malam.

Dari hasil identifikasi terbaru, diketahui beberapa jenazah korban berasal dari berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Gresik, Kediri, Bangkalan, hingga Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Salah satu temuan unik dalam proses identifikasi adalah adanya satu korban yang jasadnya terpisah dalam dua kantong jenazah, yakni Moch Ali Sirojuddin (13) asal Dupak, Krembangan, Kota Surabaya, yang diidentifikasi melalui uji DNA dari dua kantong berbeda bernomor PM RSBB B-012 dan PM RSB B-032.

Nama Virgiawan Narendra Sugiarto (16), santri asal Mayong Tengah, Karangbinangun, Lamongan, juga tercatat pada urutan keenam dalam daftar korban yang teridentifikasi.

Ia dikenali melalui hasil pencocokan DNA dan data medis antara kantong jenazah PM RSB B-010 dan AM 061.

Sebagian Artikel ini telah tayang di Surya.co.id dengan judul Sosok Haikal, Korban Ponpes Al Khoziny Asal Lamongan yang Bercita-Cita jadi Ulama

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.