Umrah Berkali-kali Bisa Hapus Dosa? Buya Yahya Ungkap Fakta Penting yang Sering Disalahpahami
Banyak umat Muslim meyakini bahwa ibadah umrah memiliki keutamaan luar biasa. Bahkan, tidak sedikit yang berlomba-lomba berangkat umrah berkali-kali dengan harapan dosa-dosa mereka diampuni Allah SWT.
Namun, benarkah umrah yang dilakukan berulang kali otomatis menghapus seluruh dosa? Apakah umrah di bulan Ramadan benar-benar setara dengan ibadah haji?
Dalam salah satu kajiannya, Buya Yahya memberikan penjelasan lengkap mengenai keutamaan umrah, khususnya umrah Ramadan, sekaligus meluruskan sejumlah pemahaman yang sering keliru di tengah masyarakat.
Menurut Buya Yahya, Islam memang menganjurkan umatnya untuk memperbanyak amal saleh, termasuk melaksanakan umrah jika memiliki kemampuan. Namun, ada beberapa hal penting yang harus dipahami agar tidak salah mengartikan keutamaan ibadah tersebut.
Buya Yahya menjelaskan bahwa umrah yang dilakukan pada bulan Ramadan memiliki nilai istimewa dibandingkan umrah di bulan lainnya.
Hal itu berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang menyebut bahwa umrah di bulan Ramadan memiliki pahala yang sangat besar. Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengutip hadis Nabi SAW yang berbunyi, "Umratun fi Ramadhana ta'dilu hajjatan."
Hadis tersebut menjelaskan bahwa umrah di bulan Ramadan memiliki pahala yang setara dengan pahala haji.
Namun Buya Yahya menegaskan bahwa kesetaraan tersebut berada pada sisi pahala, bukan menggantikan kewajiban haji bagi orang yang sudah mampu.
"Sesungguhnya jika orang tersebut memiliki kewajiban haji, kemudian dia umrah duluan di bulan Ramadan, maka umrahnya tidak bisa menggugurkan kewajiban haji fardu," jelas Buya Yahya yang dikutip pada Senin, 8 Juni 2026.
Dengan kata lain, seseorang yang sudah wajib haji tetap harus menunaikan ibadah haji meskipun telah melaksanakan umrah Ramadan.
Salah satu keutamaan terbesar umrah adalah menjadi sebab diampuninya dosa-dosa seorang hamba. Artinya, satu umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya.
Menurut Buya Yahya, hadis tersebut menunjukkan bahwa umrah merupakan sarana pembersihan diri yang sangat besar nilainya di sisi Allah SWT.
"Umrah penghapus dosa. Jadi dosa-dosa kecil yang dilakukan seorang hamba antara umrah dan umrah akan terhapus," terang Buya.
Selain menjelaskan keutamaan umrah, Buya Yahya juga menyinggung kedudukan haji mabrur. Artinya, haji yang mabrur tidak memiliki balasan selain surga.
Menurut Buya Yahya, haji mabrur adalah haji yang diterima Allah SWT karena dilakukan dengan niat yang ikhlas, tata cara yang benar, serta menghasilkan perubahan akhlak yang lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci.
Di balik besarnya keutamaan umrah dan haji, Buya Yahya mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada hawa nafsu atau motivasi yang keliru.
Ia mencontohkan seseorang yang terus berulang kali umrah hanya demi prestise atau ingin dipuji orang lain.
"Haji sudah, umrah sudah, tapi jangan sampai ditumbangi hawa nafsu," ujar Buya Yahya.
Ia juga mengingatkan bahwa ada kalanya membantu keluarga yang sedang kesulitan, membiayai pengobatan kerabat, atau memenuhi kebutuhan orang tua bisa lebih utama dibanding melakukan ibadah sunnah berulang kali.
"Jangan sampai ponakan, bibi, atau keluarga sakit membutuhkan bantuan, malah kita asyik umrah karena mengikuti hawa nafsu," tegasnya.
Menariknya, Buya Yahya menjelaskan bahwa manfaat umrah tidak hanya berkaitan dengan penghapusan dosa. Menurutnya, ibadah haji dan umrah juga dapat membersihkan hati serta menjadi sebab datangnya keberkahan rezeki.
Ia mengibaratkan umrah seperti api yang membakar kotoran pada logam emas dan perak hingga tersisa bagian yang murni.
"Haji dan umrah itu pembersih," jelasnya.
Tak hanya membuat seseorang lebih tenang secara batin, ibadah tersebut juga dapat menghadirkan kekayaan hati yang jauh lebih berharga dibanding sekadar kekayaan materi.
Karena itu, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk menjadikan umrah dan haji sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sekadar perjalanan religi atau simbol status sosial. Dengan niat yang benar, ibadah tersebut dapat menjadi jalan penghapus dosa, penenang hati, sekaligus ladang pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT.