Fakta Medis tentang Mata Juling yang Sering Disalahpahami
Penyandang mata juling (strabismus) masih mendapatkan stigma sosial sebagai kelompok yang ‘berbeda.’ Tak hanya rentan mengalami tekanan mental, secara medis, penyandang strabismus juga berpotensi terganggu fungsi penglihatannya. Kualitas hidup pun terancam.
Diperkirakan, prevalensi global mata juling mencapai 1,93 persen. Atau, penyandang strabismus setidaknya berjumlah 148 juta orang di seluruh dunia. Strabismus terjadi akibat terganggunya/lemahnya kontrol otak terhadap otot mata yang menyebabkan posisi kedua bola mata menjadi tidak sejajar.
Risikonya, penyandang mata juling sering mengalami pandangan kabur, penglihatan ganda, sakit kepala, dan kelelahan saat beraktivitas.
"Mata juling bukanlah kondisi yang terkait estetika semata, penyandangnya bisa terdampak lebih jauh, yakni ketidakpercayaan diri. Padahal, setiap individu berhak memiliki penglihatan optimal guna memungkinkannya belajar, bekerja dan berinteraksi dengan lebih leluasa. Sejalan dengan tema World Sight Day 2025 #LoveYourEyes, ‘Bakti Sosial Operasi Mata Juling JEC’ kembali kami laksanakan untuk mendukung para penyandang strabismus agar tak berkecil hati atas kondisinya, sekaligus mengedukasi masyarakat luas bahwa mata juling bisa ditangani dan dikoreksi,” ujar Dr. Ni Retno Setyoningrum, SpM(K), MMedEdu, Dokter Subspesialis Konsultan Strabismus JEC Eye Hospitals & Clinics, dalam keterangannya.
Lebih mengkhawatirkan lagi, studi menyebut penyandang strabismus riskan terserang gangguan mental 10 persen lebih tinggi. Di antaranya, depresi, ansietas, fobia sosial, hingga skizofrenia.
Temuan lain mendapat, 80 persen penyandang mata juling merasa malu atau terhina dalam berbagai situasi sosial, 89% mengalami kesulitan mempertahankan kontak mata saat berbicara, dan 75% bahkan mengadopsi postur atau perilaku tertentu untuk menyembunyikan kondisi mata mereka.
Solusi penanganan berupa operasi korektif terbukti bukanlah sekadar prosedur kosmetik, melainkan intervensi medis yang memberikan dampak positif jangka panjang. Riset di Jepang menunjukkan bahwa tiga bulan setelah operasi mata juling, para pasien mengalami peningkatan signifikan dalam fungsi penglihatan, kesehatan fisik, dan kesehatan mental mereka.
Yang menarik, penelitian ini juga mengukur seberapa "berharga" operasi tersebut dari sudut pandang ekonomi. Hasilnya mengesankan: investasi untuk tindakan operasi mata juling jauh lebih ekonomis ketimbang kerugian finansial apabila kondisi tersebut dibiarkan.
"Mata juling tidak seharusnya membuat hidup penyandangnya terhenti secara psikososial. Mereka harus termotivasi agar bangkit. Harapan kami, operasi yang kami fasilitasi mampu memulihkan fungsi penglihatan serta mengembalikan kepercayaan diri mereka. Dengan demikian, mereka bisa kembali berinteraksi dan berkontribusi di tengah masyarakat, tanpa perlu mendapatkan stigma apapun,” imbuh DR. dr. Soefiandi Soedarman, SpM(K) selaku Direktur Medik & Keperawatan Rumah Sakit Mata JEC Menteng.
‘Bakti Sosial Operasi Mata Juling JEC’ dalam rangka World Sight Day 2025 mengadakan intervens medis gratis dan dibarengi kegiatan pengayaan wawasan mengenai mata juling (strabismus).
Aktivitas berupa rangkaian kegiatan edukasi mengenai mata juling melaluichannel offline dan online (Podcast, Youtube, Sosmed) untuk masyarakat telah dilangsungkan dengan melibatkan partisipan dari kalangan tenaga kesehatan, sekolah, serta orang tua agar lebih memahami pentingnya deteksi dan penanganan strabismus sejak dini.
“Dengan pendekatan edukasi dan pelayanan medis yang berjalan berdampingan, JEC juga berupaya membangun ekosistem kesehatan mata di Indonesia yang lebih peduli dan responsif,” lanjut DR. dr. Soefiandi Soedarman, SpM(K).