Maknai Ramadhan, Habib Jafar Ungkap Rezeki yang Sering Diabaikan Tapi Tak Kalah Penting Dibanding Materi

Habib Jafar
Habib Jafar

 Ramadhan kerap dipahami sebagai momentum menahan diri dari lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Pada saat yang sama, realitas sosial menunjukkan meningkatnya aktivitas konsumsi dan gaya hidup selama bulan suci.

Hal itu disampaikan penulis sekaligus pendakwah Husein Jafar Al Hadar, di acara bertajuk 'Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan cuma Kaya Materi' di Jakarta. Menurutnya, dahaga dan lapar yang dirasakan menumbuhkan empati, sehingga meningkatkan keperdulian bagi sesama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Puasa membuat kita merasakan lapar dan haus. Dari situ empati tumbuh. Kita jadi paham betapa beratnya menjadi orang yang kekurangan, dan karena itu kita diajak untuk tidak membiarkan orang lain merasakannya sendirian,” ujar Husein Jafar, dikutip Jumat, 27 Februari 2026.

Menurutnya, Ramadhan bukan hanya soal menahan diri tetapi tentang belajar keluar dari pusat diri sendiri dan membuka ruang kepedulian bagi orang lain. Ia menekankan bahwa praktik berbagi tidak boleh berhenti pada simbol atau seremonial, melainkan lahir dari pengalaman empatik yang nyata.

Lebih jauh, sosok yang akrab disapa Habib Jafar ini mengingatkan bahwa rezeki kerap disempitkan maknanya menjadi sekadar materi. “Rezeki itu tidak selalu harta. Kesehatan, waktu luang, dan iman adalah rezeki yang nilainya jauh lebih tinggi dari materi,” katanya.

Di dalam konteks kehidupan urban yang sibuk, ia menyoroti kelangkaan kehadiran sebagai bentuk rezeki yang sering diabaikan. “Banyak keluarga bahagia bukan karena diberi uang, tapi karena diberi waktu. Kehadiran itu rezeki yang paling dibutuhkan hari ini,” tuturnya.

Husein juga menyinggung fenomena mengukur nilai diri dari kepemilikan dan pencapaian. “Sering kali masalahnya bukan pada harta tetapi pada mentalnya. Kekayaan sejati itu kekayaan mental, kekayaan hati,” ujar Husein.

Menurutnya, kepemilikan tanpa kesiapan mental justru berpotensi melahirkan kecemasan, perbandingan sosial, hingga dorongan pamer. Ramadhan, imbuh Husein, menjadi momen untuk menata ulang cara berpikir tentang sukses dan cukup agar manusia tidak terjebak pada standar semu yang melelahkan.

Menutup tausiah, Husein Jafar mengajak audiens memulai perubahan dari cara berpikir.

“Segala sesuatu diawali dari pikiran dan niat. Kalau pikiran dan hati kita benar, hidup kita akan ikut tertata,” katanya.

Pesan tersebut menggarisbawahi bahwa “kaya hati” bukan tujuan instan, melainkan proses membangun mentalitas cukup, empatik, dan hadir bagi sesama yang terus dilatih dari Ramadhan ke Ramadhan.

Di dalam kesempatan yang sama, CCO Katadata Heri Susanto menegaskan bahwa tema “kaya hati” sengaja diangkat sebagai refleksi atas kecenderungan masyarakat modern yang mengukur nilai diri dari capaian materi.

“Di era sekarang, kita sering terjebak dalam angka pencapaian atau status ekonomi. Padahal Ramadan mengajak kita berbenah dari fokus memiliki menjadi memaknai, dari hobi mengumpulkan menjadi semangat memberi, dan dari rasa takut kekurangan menjadi merasa tercukupi,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 245 untuk menegaskan, memberi bukanlah kehilangan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Sedekah dan zakat tidak membuat kita rugi. Justru Allah menjanjikan balasan yang berlipat. Ukuran seorang muslim bukan hanya dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang dibagikan dan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain,” kata Heri.