Menangis saat Diuji Bukan Tanda Lemah, Buya Yahya Ungkap 3 Hikmah Besar di Balik Musibah

Buya Yahya
Buya Yahya

 Ketika menghadapi masalah hidup yang berat, tidak sedikit orang yang merasa sedih hingga meneteskan air mata. Sebagian bahkan bertanya-tanya, apakah menangis saat tertimpa musibah menunjukkan kurangnya keimanan? Pertanyaan inilah yang dijawab oleh Buya Yahya dalam sebuah kajian yang banyak menarik perhatian masyarakat.

Menurut Buya Yahya, kehidupan di dunia sejatinya adalah tempat ujian. Setiap manusia akan menghadapi berbagai bentuk cobaan, baik yang terlihat menyenangkan maupun yang terasa menyakitkan. Karena itu, seseorang tidak seharusnya menganggap ujian hanya hadir dalam bentuk kesedihan atau musibah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Buya Yahya menjelaskan bahwa kekayaan, jabatan, dan berbagai kenikmatan dunia juga merupakan ujian dari Allah SWT. Melalui berbagai nikmat tersebut, manusia diuji apakah mampu bersyukur dan menggunakannya untuk kebaikan atau justru terlena hingga melupakan Sang Pencipta.

“Seorang hamba di dunia di Darul Ibtila di negeri ujian. Sesungguhnya kita senantiasa dalam ujian. Bagi orang cerdas sangat tahu bahwasanya ujian itu untuk naik pangkat. Yang tidak pernah ujian tidak naik kelas,” ujar Buya Yahya yang dikutip dari YouTube pada Senin, 8 Juni 2026. 

Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa orang beriman tidak boleh menangis ketika ditimpa kesulitan. Padahal, Buya Yahya menegaskan bahwa menangis merupakan reaksi manusiawi yang diperbolehkan dalam Islam.

Beliau mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW pernah menangis saat putranya, Ibrahim, wafat. Kesedihan yang dirasakan Nabi Muhammad SAW tidak membuat beliau kehilangan keimanan atau memprotes takdir Allah.

“Walinna al-'aina tadma'u walqalbu yahzan, air mata mengalir, hati sedih. Tapi aku tidak melakukan kecuali yang diridai oleh Allah Subhanahu wa taala,” tambahnya. 

Menurut Buya Yahya, yang tidak diperbolehkan bukanlah air matanya, melainkan sikap tidak menerima ketentuan Allah atau bahkan marah kepada-Nya.

“Menangis adalah sah, menangis wajar. Ada orang mendapat musibah menangis-menangis. Yang tidak boleh adalah tidak terima dengan apa yang Allah berlakukan kepadanya. Apalagi marah kepada Allah,” kata Buya. 

Buya Yahya menjelaskan bahwa seorang mukmin perlu melihat musibah dari sudut pandang yang lebih luas. Ada tiga kemungkinan kebaikan yang Allah siapkan di balik ujian yang sedang dialami.

Pertama, musibah bisa menjadi sarana penghapusan dosa. Ketika seseorang memiliki banyak kesalahan dan belum maksimal dalam memohon ampunan, Allah dapat membersihkannya melalui ujian hidup.

“Allah sayang kepada hamba ini. Akan tetapi banyak dosa tapi kok tidak banyak minta ampun. Maka Allah beri musibah kepadanya karena Allah tidak ingin menyiksanya nanti di akhirat,” jelas Buya Yahya.

Kedua, ujian bisa menjadi jalan untuk mengangkat derajat seseorang di sisi Allah SWT. Ada kalanya seseorang belum memiliki amal yang cukup untuk mencapai kedudukan tertentu, sehingga Allah memberinya ujian agar derajatnya meningkat.

Ketiga, musibah dapat menjadi sebab datangnya pahala yang sangat besar melalui kesabaran.

“Kalau amal baik itu kadang disebutkan 10 kali lipat, 700 kali lipat. Tapi untuk kesabaran tidak,” jelasnya lagi. 

Meski musibah memiliki hikmah, Buya Yahya mengingatkan bahwa seorang Muslim tetap dianjurkan untuk berusaha mencari jalan keluar. Islam tidak mengajarkan seseorang meminta musibah agar mendapatkan pahala lebih besar.

“Tidak boleh kita berkata, 'Berikan aku musibah biar naik pangkat.' Enggak, enggak diizinkan begitu,” tuturnya. 

Sebaliknya, umat Islam dianjurkan berdoa memohon kebaikan dunia dan akhirat serta berikhtiar agar terhindar dari kesulitan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di akhir kajiannya, Buya Yahya mengingatkan bahwa kesedihan dan tangisan bukanlah tanda kelemahan. Selama seseorang tetap menerima takdir Allah dan berusaha bersabar, maka ujian yang datang bisa menjadi jalan pengampunan dosa, pengangkat derajat, sekaligus sumber pahala yang besar di sisi-Nya.

“Jika Anda harus bersedih, menangis boleh, tapi ingat menangis karena musibah diperkenankan asalkan bukan dalam irama marah atau tidak terima dengan apa yang Allah perlakukan kepada kita,” tandasnya.