Kebiasaan Minta Sorban hingga Cincin Kiai demi Berkah Disebut Buya Yahya Akhlak yang Keliru

KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya
KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya

 Pemandangan jemaah yang meminta sorban, kopiah, cincin, hingga aksesori milik ulama setelah pengajian mungkin sudah tidak asing lagi di berbagai daerah. Sebagian orang melakukannya dengan alasan ingin mendapatkan berkah atau tabaruk dari sosok yang dianggap saleh.

Namun, kebiasaan tersebut justru mendapat sorotan dari Buya Yahya. Dalam sebuah kajian, pengasuh LPD Al Bahjah itu menegaskan bahwa budaya meminta barang milik ulama demi mencari berkah bukanlah kebiasaan yang baik dan bahkan berpotensi menimbulkan mudarat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Buya Yahya, baik pihak yang meminta maupun pihak yang memanfaatkan kedudukannya untuk meminta-minta kepada orang lain sama-sama perlu berhati-hati.

Menanggapi pertanyaan mengenai jemaah yang sering meminta aksesori atau barang milik orang saleh untuk ngalap berkah, Buya Yahya memberikan jawaban tegas.

"Meminta-minta bukan hal yang baik,” ujar Buya Yahya yang dikutip dari kanal YouTube-nya pada Minggu, 7 Juni 2026. 

Ia menjelaskan bahwa sering kali orang tidak memahami nilai emosional yang melekat pada sebuah barang. Meski terlihat sederhana dan murah, bisa jadi barang tersebut memiliki kenangan yang sangat berharga bagi pemiliknya.

Sebagai contoh, sorban yang dipakai seorang ulama mungkin merupakan hadiah dari guru yang sangat dihormatinya atau memiliki nilai sentimental tertentu yang tidak bisa diukur dengan uang.

Buya Yahya juga mengingatkan agar seseorang tidak menggunakan alasan mencari berkah untuk memaksa orang lain menyerahkan barang miliknya.

Menurutnya, tindakan membuat orang merasa sungkan hingga akhirnya memberikan barang yang sebenarnya tidak ingin diberikan merupakan perbuatan yang tidak terpuji.

"Ngambil dengan cara bikin malu orang itu kayak ngerampok pakai pedang,” ujarnya lagi. 

Ia menggambarkan situasi ketika seseorang terus mendesak meminta sorban, cincin, atau barang lain di depan banyak orang sehingga pemilik barang merasa tidak enak untuk menolak.

Buya Yahya mengakui bahwa konsep tabaruk atau mengambil keberkahan memang dikenal dalam tradisi Islam. Namun, hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk membangun budaya meminta-minta.

"Kalau pengin berkah, beri. Yang ada memberi, bukan ngambil,” kata Buya. 

Ia menilai keberkahan justru lebih dekat dengan sikap gemar berbagi, membantu sesama, dan menghormati orang lain, bukan dengan meminta barang yang sedang digunakan oleh seorang ulama.

Menurutnya, jika ingin mendapatkan doa dan keberkahan dari guru atau ulama, cara yang lebih tepat adalah dengan meminta didoakan, menghormati mereka, dan meneladani akhlaknya.

Tak hanya menyoroti jemaah, Buya Yahya juga mengingatkan para ustaz dan tokoh agama agar tidak memanfaatkan posisi mereka untuk meminta-minta kepada murid atau jemaah.

Ia bahkan menyebut praktik tersebut sebagai bentuk "perampokan halus" apabila dilakukan dengan memanfaatkan rasa sungkan orang lain.

"Berpikirlah untuk memberi. Jangan meminta,” katanya lagi. 

Di akhir penjelasannya, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk memahami makna berkah secara lebih luas. Menurutnya, keberkahan tidak diperoleh dengan meminta sorban, cincin, atau barang milik orang saleh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebaliknya, berkah hadir melalui amal saleh, menghormati guru, membantu sesama, bersedekah, serta menjaga adab dalam kehidupan sehari-hari.

"Kalau ketemu guru, ngasih dong. Jangan minta,” tandasnya.