Rezeki Lancar Padahal Tak Pernah Salat dan Zakat? Buya Yahya Ungkap Bahaya Istidraj, Nikmat yang Bisa Jadi Azab

KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya, Apa Itu Istidraj?, Ketika Nikmat Justru Menjadi Bencana, Penjelasan Kemenag tentang Istidraj, Ciri-Ciri Seseorang yang Mengalami Istidraj, Bagaimana Terhindar dari Istidraj?
KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya

 Pernahkah kamu melihat seseorang yang hidupnya tampak selalu berkecukupan, usahanya sukses, rezekinya mengalir deras, padahal ia tak pernah salat, tak menunaikan zakat, bahkan gemar bermaksiat? Banyak orang mungkin bertanya-tanya, bagaimana bisa orang yang jauh dari perintah Allah justru mendapatkan nikmat dunia yang berlimpah.

Ulama kharismatik Buya Yahya mengingatkan, fenomena semacam itu bukanlah pertanda keberkahan, melainkan bisa jadi tanda bahaya yang disebut istidraj, sebuah kondisi ketika Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang bukan karena cinta, melainkan untuk menjerumuskannya perlahan-lahan ke dalam kehancuran.

Apa Itu Istidraj?

Dalam penjelasan Buya Yahya yang dikutip dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, istidraj merupakan kondisi di mana seseorang yang terus melakukan dosa justru mendapatkan limpahan rezeki, kesenangan, dan kemudahan hidup. Namun di balik nikmat itu, tersimpan azab yang ditangguhkan.

“Takutlah dengan segala karunia, kebaikan-kebaikan yang Allah berikan kepadamu, sementara kamu masih maksiat terus. Awas, jangan-jangan itu istidraj,” kata Buya Yahya.

Beliau menegaskan, istidraj terlihat seperti karunia, padahal sejatinya siksa yang tersembunyi.

“Kelihatannya karunia, tapi sesungguhnya itu adalah siksa. Kelihatannya nikmat, tapi sesungguhnya adalah bencana,” lanjutnya.

Ketika Nikmat Justru Menjadi Bencana

Menurut Buya Yahya, seseorang yang mendapat banyak kenikmatan namun terus jauh dari Allah, sedang diberi “bencana dalam bentuk nikmat”. Artinya, harta, kesehatan, dan kesuksesan yang tampak menyenangkan itu sesungguhnya menjadi jalan untuk menjerumuskan dirinya ke dalam neraka.

Ilustrasi kaya raya.

Fenomena istidraj ini juga dijelaskan dalam Al-Quran Surah Al-A’raf ayat 182–183, yang berbunyi:

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.”

Ayat ini menjadi pengingat keras bahwa tidak semua kemudahan dan kesuksesan dunia adalah tanda cinta Allah. Bisa jadi, itu justru “penundaan azab” agar manusia semakin terjerumus dalam dosa hingga waktunya tiba untuk dihisab.

Penjelasan Kemenag tentang Istidraj

Dilansir dari situs resmi Kementerian Agama (Kemenag), istidraj disebut sebagai bentuk “pemanjaan agar manusia semakin terjerumus kepada kehinaan”. Orang yang diuji dengan istidraj mengira bahwa kenikmatan yang diterimanya adalah tanda kemuliaan dari Allah, padahal sebenarnya Allah sedang menghinakan secara perlahan-lahan.

Kemenag menegaskan, istidraj bukanlah ujian dalam bentuk musibah, melainkan ujian yang dibungkus dengan kenikmatan. Justru karena nikmat itu, seseorang menjadi semakin lalai, sombong, dan enggan bertobat.

Ciri-Ciri Seseorang yang Mengalami Istidraj

Buya Yahya mengingatkan agar umat Islam berhati-hati terhadap tanda-tanda istidraj. Beberapa cirinya dapat dikenali sebagai berikut:

  • Nikmat dunia semakin bertambah, tetapi keimanan semakin menurun. Orang yang terkena istidraj kerap merasakan peningkatan rezeki dan kemudahan dunia, namun hatinya semakin jauh dari Allah.
  • Tetap mendapat kemudahan hidup meski bermaksiat. Ia terus melakukan dosa, tetapi hidupnya seolah tanpa hambatan.
  • Rezeki lancar walau lalai ibadah. Shalat ditinggalkan, zakat diabaikan, namun usahanya justru makin berkembang.
  • Semakin kaya, tetapi semakin kikir. Harta yang berlimpah tidak membuatnya dermawan. Sebaliknya, ia makin pelit dan sombong.
  • Jarang sakit, tetapi hatinya keras. Secara fisik tampak sehat dan kuat, namun hatinya tertutup dari kebaikan dan nasihat.

Bagaimana Terhindar dari Istidraj?

Buya Yahya mengajarkan agar umat Islam selalu introspeksi diri. Jika hidup terasa mudah dan penuh kenikmatan, namun ibadah semakin jarang, maka sebaiknya segera beristighfar dan memperbaiki diri.

“Kalau engkau diberi nikmat tapi masih maksiat, jangan bangga. Itu bisa jadi Allah sedang menjauhimu. Maka segeralah kembali sebelum nikmat itu menjadi azab,” pesan Buya Yahya.