Kader Posyandu Meninggal Saat Persalinan, Ini 7 Fakta Penting Kematian Irene Sokoy di Jayapura
- 1. Irene Mulai Merasakan Kontraksi
- 2. RSUD Yowari Menangani Awal, tetapi Dokter Kandungan Tidak Ada
- 3. Dirujuk dari Rumah Sakit ke Rumah Sakit tapi Ditolak
- 4. Irene dan Bayinya Meninggal di Perjalanan
- 5. Empat Rumah Sakit Saling Memberi Klarifikasi
- 6. Polda Papua Membentuk Tim Investigasi
- 7. Gubernur Papua dan Presiden Prabowo Angkat Suara

Minggu sore seharusnya menjadi hari penuh sukacita bagi keluarga Kabey di Kampung Hobong, Sentani. Namun, hari yang seharusnya menyambut kelahiran buah hati ketiga justru berubah menjadi tragedi kemanusiaan.
Seorang ibu hamil, Irene Sokoy (31), meninggal dunia bersama bayi dalam kandungannya setelah ditolak empat rumah sakit di Jayapura, pada Senin–Rabu (16–19/11/2025).
Kisah pilu ini memicu keprihatinan masyarakat Papua, menegangkan hubungan antar keluarga, hingga membuat pemerintah pusat dan daerah turun tangan melakukan audit layanan kesehatan.
Berikut 7 fakta lengkap terkait kematian ibu hamil Irene Sokoy yang dirangkum Kompas.com
1. Irene Mulai Merasakan Kontraksi
Pada Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 14.00 WIT, Irene Sokoy mengirim pesan kepada mertuanya, Abraham Kabey.
“Bapa dan mama, saya sudah rasa mau melahirkan,” tulis Irene.
Kader Posyandu kelahiran 1994 itu dibawa sang suami, Neil Kastro Kabey, menuju RSUD Yowari, tempat terdekat dari Kampung Hobong. Keluarga besar telah memanjatkan doa selama kehamilannya.
"Tuhan berikan generasi yang sehat,” ujar Abraham.
Namun, harapan itu mulai goyah ketika proses persalinan tak kunjung menunjukkan perkembangan.
2. RSUD Yowari Menangani Awal, tetapi Dokter Kandungan Tidak Ada
Irene tiba di RSUD Yowari sekitar pukul 16.00 WIT. Perawat membawa ibu hamil itu ke ruang bersalin dan melakukan penanganan awal.
Namun, bayi yang dikandungnya memiliki berat sekitar 4 kilogram, membuat persalinan semakin sulit.
Hingga pukul 01.00 WIT, Irene belum juga melahirkan. Pada saat genting itu, keluarga diberi tahu bahwa dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi sedang berada di luar kota.
Abraham tak kuasa menahan kecewa.
“Kenapa tidak bilang dari tadi!” keluhnya kepada petugas.
Direktur RSUD Yowari, drg Maryen Braweri, membenarkan bahwa rumah sakit hanya memiliki satu dokter kandungan, dan saat itu dokter tersebut sedang tidak bertugas.
3. Dirujuk dari Rumah Sakit ke Rumah Sakit tapi Ditolak
Setelah tak bisa ditangani, Irene dirujuk dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, selalu dengan alasan berbeda.
a. RS Dian Harapan
RSUD Yowari mengirim ambulans ke RS Dian Harapan. Namun, saat dalam perjalanan, RS Dian Harapan memberi tahu bahwa:
- Ruang BPJS Kelas III penuh
- Ruang NICU penuh
- Dokter Obgyn cuti
- Dokter anestesi mitra tak siaga
Sesampainya di sana, petugas hanya memberikan edukasi dan cap rumah sakit. Pasien diminta mencari rumah sakit lain.
b. RSUD Abepura
Rumah sakit kedua yang dituju adalah RSUD Abepura. Namun, di sana keluarga kembali ditolak.
RSUD Abepura menyampaikan bahwa ruang operasi sedang direnovasi, sehingga tidak bisa menerima pasien kegawatdaruratan kebidanan.
c. RS Bhayangkara Jayapura
Di rumah sakit ketiga ini, keluarga mendapat kendala berbeda. Irene, yang masuk sebagai pasien BPJS PBI Kelas III, tidak bisa dirawat karena ruang Kelas III penuh.
Petugas menyebut hanya ruang VIP yang tersedia dengan biaya Rp 10 juta, dan keluarga harus membayar uang muka Rp 4 juta.
Abraham memohon agar pasien ditangani terlebih dahulu.
"Tolong dulu, uang nanti kami urus. Kami tidak lari,” katanya.
Namun, menurut keluarga, pasien tidak diizinkan turun dari ambulans. Pemeriksaan hanya dilakukan dari pintu mobil.
d. RSUD Jayapura
Karena tidak ada pilihan, keluarga membawa Irene menuju RSUD Jayapura, rumah sakit terakhir yang tersisa. Namun, kondisi Irine melemah dan mengalami kejang di perjalanan.
Ambulans sempat berbalik kembali ke RS Bhayangkara, tetapi takdir berkata lain.
4. Irene dan Bayinya Meninggal di Perjalanan
Pada Rabu (19/11/2025) pukul 04.00 WIT, saat ambulans menuruni daerah Skyline menuju Entrop, Irene mengembuskan napas terakhir di pangkuan keluarga.
“Tuhan kenapa kah?” kata Abraham, tak mampu menahan air mata.
Bayi yang dikandungnya turut meninggal dunia.
5. Empat Rumah Sakit Saling Memberi Klarifikasi
Beberapa rumah sakit yang disebutkan keluarga memberikan klarifikasi resmi.
RS Bhayangkara Jayapura
Direktur RS Bhayangkara, AKBP dr Romy Sebastian, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menolak pasien Irene Sokoy.
“Karena tidak ada sistem rujukan dari rumah sakit asal, kami tidak mengetahui keluhan pasien sebelumnya,” ujar Romy.
Ia menambahkan bahwa RS Bhayangkara melarang naik kelas BPJS sesuai aturan dan pasien yang memilih ruang VIP harus mengikuti tarif umum. Ia menolak tuduhan bahwa petugas meminta uang rumah sakit.
Direktur RSUD Yowari, drg Maryen, menyampaikan duka mendalam dan menyebut bahwa pihaknya sudah menjalankan prosedur rujukan.
Ia mengakui hanya ada satu dokter Obgyn, sehingga koordinasi dilakukan jarak jauh.
“Ini menjadi pembelajaran berharga bagi kami,” katanya.
RSUD Yowari berjanji akan menambah lima dokter kandungan dan memperkuat kerja sama rujukan dengan enam rumah sakit di Jayapura.
RS Dian Harapan
RS Dian Harapan membantah menolak pasien dan menyebut sudah memberikan informasi lebih dulu kepada RSUD Yowari bahwa:
- Ruang NICU penuh
- Ruang kebidanan penuh
- Dokter Obgyn cuti
- Dokter anestesi tidak siaga
Mereka menyatakan tindakan sudah sesuai SOP.
6. Polda Papua Membentuk Tim Investigasi
Polda Papua membentuk tim investigasi yang dipimpin Irwasda Polda Papua, Kombes Pol Jeremias Rontini.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, mengatakan:
“Tim ini akan menyelidiki apakah pelayanan saat itu sudah sesuai standar atau tidak.”
Investigasi berfokus pada alur penanganan kegawatdaruratan di rumah sakit-rumah sakit rujukan.
7. Gubernur Papua dan Presiden Prabowo Angkat Suara
Kasus ini mendapat perhatian nasional. Gubernur Papua Matius Derek Fakhiri menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Irene Sokoy.
“Ini kebodohan jajaran pemerintah. Ini contoh kebobrokan pelayanan kesehatan di Papua,” kata Fakhiri.
Ia berjanji akan:
- Mengevaluasi seluruh rumah sakit
- Mengganti direktur-directur RS di bawah pemprov
- Meminta bantuan Menteri Kesehatan
- Memprioritaskan keselamatan pasien di atas administrasi
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan audit menyeluruh terhadap rumah sakit di Papua setelah Mendagri Tito Karnavian melaporkan kasus tersebut.
“Segera lakukan perbaikan dan audit. Jangan sampai terulang,” kata Prabowo.
Audit dilakukan bersama Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan untuk menelusuri akar persoalan mulai dari fasilitas, tata kelola, hingga peraturan daerah.
Kematian Irene Sokoy meninggalkan duka dan pertanyaan besar tentang kualitas pelayanan kesehatan di Papua. Meski klarifikasi disampaikan oleh semua rumah sakit, keluarga tetap menuntut keadilan.
Suami Irene, Neil Kastro Kabey, berkomitmen membawa kasus ini ke ranah hukum.
Abraham Kabey berharap tragedi ini menjadi titik balik.
“Saya hanya ingin memastikan, jangan ada lagi Irene yang gugur karena dokter sedang di luar kota atau ruang perawatan penuh,” ujarnya.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas. com dengan Judul dan di Tribun-Papua.com dengan judul Bayi Kami Mati di Tangan Medis: Kisah Pilu Irene Sokoy, Ibu Hamil Ditolak 4 RS di Ibu Kota Papua
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.