Waspada saat Lebaran! Ini 3 Kesalahan Silaturahmi yang Bisa Jadi Dosa Menurut Buya Yahya
Hari Raya Idul Fitri identik dengan momen penuh kebahagiaan. Setelah sebulan menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, umat Muslim merayakan kemenangan dengan saling bermaaf-maafan dan menjalin kembali hubungan baik melalui silaturahmi.
Namun, di balik suasana hangat tersebut, ada hal penting yang sering luput dari perhatian. Tanpa disadari, aktivitas silaturahmi yang seharusnya bernilai ibadah justru bisa berubah menjadi penyebab datangnya murka Allah jika tidak dilakukan dengan benar.
Dalam sebuah kajian, Buya Yahya mengingatkan bahwa menjaga hubungan dengan sesama manusia di bulan Syawal harus tetap sejalan dengan ketaatan kepada Allah.
“Jangan sampai kita bersilaturahmi ke sebuah tempat di sana kita melakukan dosa,” ujar Buya Yahya yang dikutip dari kanal YouTube-nya pada Jumat, 20 Maret 2026.
Silaturahmi Harus Tetap Dalam Koridor Syariat
Buya Yahya menjelaskan bahwa setelah Ramadan, umat Islam seharusnya tidak hanya mempertahankan hubungan baik dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Namun, keduanya tidak boleh saling merusak.
“Di bulan Syawal kita berdamai dengan hamba Allah. Hasilnya kita baik kepada Allah dan baik kepada sesama manusia,” ujarnya lagi.
1. Mengadakan Acara yang Mengandung Unsur Dosa
Kesalahan pertama yang sering terjadi saat Lebaran adalah menggelar acara keluarga atau reuni yang justru mengandung hal-hal yang dilarang dalam Islam. Misalnya, adanya hiburan yang melanggar batas syariat, membuka aurat, atau aktivitas lain yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
“Acara kegembiraan keluarga adalah sangat diperkenankan dan dianjurkan. Tapi jangan mengadakan acara menjadi sebab Allah murka,” jelas Buya.
Ia juga menambahkan bahwa kebahagiaan di hari raya tetap boleh dirayakan, asalkan tidak melanggar aturan. Bahkan di masa Nabi, hiburan tradisional diperbolehkan, selama tidak mengandung unsur haram.
2. Melalaikan Salat Demi Silaturahmi
Kesalahan berikutnya yang cukup sering terjadi adalah meninggalkan salat karena terlalu sibuk berkunjung ke sana-sini. Banyak orang yang rela menunda bahkan melewatkan salat hanya demi menjaga momen kebersamaan. Padahal, hal ini justru sangat berbahaya.
“Jangan sampai kita melakukan menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, tapi dengan Allah kita rusak, Allah akan murka,” jelasnya lagi.
Ia menekankan bahwa dalam kondisi apa pun, salat tetap harus dijaga. Bahkan saat perjalanan mudik atau macet di jalan, salat masih bisa dilakukan dengan berbagai cara yang telah diajarkan dalam Islam.
3. Silaturahmi yang Menjadi Alasan Melanggar Batas
Kesalahan ketiga yang sering tidak disadari adalah menjadikan momen Lebaran sebagai alasan untuk melanggar batasan yang sebelumnya dijaga. Misalnya, pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dengan dalih silaturahmi.
Buya Yahya menyoroti fenomena ini dengan serius. Ia menyebut bahwa ada orang yang memanfaatkan Lebaran untuk bebas beraktivitas tanpa memperhatikan aturan agama.
Padahal, tujuan utama silaturahmi adalah mempererat hubungan dalam kebaikan, bukan membuka celah untuk melakukan pelanggaran.
Jadikan Syawal Penyempurna Ramadan
Lebaran seharusnya menjadi kelanjutan dari kebaikan yang telah dibangun selama Ramadan. Bukan justru menjadi titik balik untuk kembali pada kebiasaan buruk.
Buya Yahya menutup dengan pesan penting, bahwa keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan manusia (hablum minannas) adalah kunci kebahagiaan.
Dengan menjaga keduanya, seorang Muslim tidak hanya meraih kebahagiaan di dunia, tetapi juga di akhirat.
Jadi, saat bersilaturahmi di hari raya nanti, pastikan setiap langkah tetap berada dalam koridor kebaikan. Karena sejatinya, Lebaran bukan hanya tentang berkumpul, tetapi juga tentang menjaga nilai ibadah dalam setiap momen kebersamaan.