Bukan Diet Ketat, Cara Ini Bikin Chef Turun 75 Kg dalam 2 Tahun
Berat badan Nicholas Poulmentis terus naik hingga mencapai titik yang mengancam nyawanya, sebelum akhirnya ia berhasil menurunkannya hingga 75 kilogram tanpa diet ketat.
Melansir Men’s Health (24/3/2026), chef pemenang Chopped itu mengungkap perubahan hidupnya dimulai bukan dari program diet, melainkan dari momen ketika ia hampir kehilangan hidupnya akibat masalah jantung.
Peristiwa itu memaksanya berhenti sejenak dan melihat kembali bagaimana ia hidup selama ini.
Di titik itulah ia menyadari bahwa yang ia butuhkan bukan diet baru, melainkan kembali ke cara hidup yang pernah ia kenal sejak kecil.
Ketika tubuh mulai “memberi sinyal”
Kenaikan berat badan Nicholas tidak terjadi secara tiba-tiba.
Perubahan itu datang perlahan, seiring ia menjauh dari kebiasaan hidup sederhana yang dulu ia jalani di Pulau Kythira, Yunani.
Saat kecil, ia terbiasa makan makanan segar dari laut, memasak bersama keluarga, dan bergerak aktif sepanjang hari tanpa memikirkan olahraga sebagai rutinitas.
Namun semuanya berubah ketika ia pindah ke New York pada 2012. Ia mulai merokok, mengonsumsi alkohol berlebihan, dan makan tanpa kesadaran.
Berat badannya terus bertambah hingga mencapai sekitar 118 kilogram, jauh dari kondisi idealnya yang berkisar 73 kilogram hingga 79 kilogram.
Di balik itu, ia mulai merasa kehilangan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bentuk tubuh.
Titik balik yang mengubah segalanya
Ilustrasi diet. Setelah mengalami masalah jantung serius, seorang chef berhasil menurunkan 75 kilogram hanya dengan kembali ke pola makan sederhana dari masa kecilnya.
Momen paling menentukan datang ketika ia mengalami masalah jantung serius dan harus menjalani pemasangan stent.
Ia berada sangat dekat dengan kematian, dan pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia tidak lagi melihat tubuhnya sebagai sesuatu yang bisa diabaikan.
Dalam kondisi itu, ia teringat masa kecilnya, keluarganya, dan kehidupan di pulau yang membentuk dirinya.
“Saya tidak mencari diet baru, saya hanya kembali ke rumah secara mental,” ungkapnya.
Kalimat itu menjadi awal dari perubahan besar yang ia jalani.
Kembali ke makanan yang “jujur”
alih mengikuti tren diet, Nicholas memilih kembali ke makanan sederhana yang ia kenal sejak kecil.
Ia mulai memasak dengan bahan segar, seperti ikan, sayuran, kacang-kacangan, dan minyak zaitun. Ia tidak menghitung kalori secara ketat, tetapi fokus pada kualitas makanan yang ia konsumsi.
Seiring waktu, tubuhnya mulai beradaptasi.
Rasa kenyang datang lebih alami, porsi makan menjadi lebih terkontrol, dan energi terasa lebih stabil.
Ia tidak lagi merasa harus “menahan diri”, karena makanan yang ia pilih justru membuatnya merasa cukup.
Bergerak kembali, bukan memaksa diri
Perubahan juga terjadi pada kebiasaan bergeraknya.
Ia tidak langsung memulai olahraga berat, tetapi membangun rutinitas sederhana yang bisa ia lakukan setiap hari.
Ia mulai dengan kardio ringan selama 45 menit setiap pagi, lalu perlahan menambahkan latihan kekuatan.
Yang berubah bukan hanya tubuhnya, tetapi juga cara ia memandang aktivitas fisik. Bergerak tidak lagi menjadi beban, tetapi bagian dari ritme hidup yang ia nikmati.
Perubahan yang lebih dari sekadar angka
Dalam dua tahun, Nicholas berhasil menurunkan berat badan hingga 75 kilogram. Namun bagi dirinya, perubahan itu bukan hanya soal angka di timbangan.
Ia merasa kembali menemukan jati dirinya sebagai seseorang yang hidup dengan energi, keseimbangan, dan kesadaran.
Ia tidak lagi melihat kesehatan sebagai tujuan sementara, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Menjadi sehat bukan tentang larangan, tetapi tentang keseimbangan,” ujarnya.
Kisah Nicholas menunjukkan bahwa perubahan terbesar sering kali dimulai dari kesadaran yang paling sederhana.
Bukan tentang diet yang rumit atau aturan yang ketat, tetapi tentang kembali memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh.
Dalam banyak kasus, solusi yang dicari jauh di luar justru sudah pernah dimiliki sejak awal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang