Pengalaman Angga Turun 53 Kg, Ini Pandangannya soal Nasi hingga Air Es
Banyak orang masih percaya bahwa makanan tertentu seperti nasi atau kuning telur bisa langsung membuat berat badan naik, padahal tidak semua anggapan tersebut berlaku sama untuk setiap orang.
Hal ini juga sempat menjadi pertanyaan bagi Pramuda Angga Aditya saat menjalani program penurunan berat badan.
Dalam wawancara dengan pada Rabu (15/4/2026), Angga membagikan pengalamannya dalam memahami berbagai informasi seputar diet yang beredar di masyarakat.
Ia mengaku baru menyadari bahwa sebagian anggapan tersebut perlu dilihat lebih dalam setelah mempelajari nutrisi selama proses diet.
Pandangan soal kuning telur dan nasi selama diet
Angga mengatakan bahwa ia tetap mengonsumsi kuning telur selama menjalani program penurunan berat badan.
Menurutnya, ia tidak langsung menghindari makanan tersebut, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan dan pola makan secara keseluruhan.
“Menurut yang saya pelajari, kandungan lemak dalam kuning telur tidak selalu buruk, justru bisa membantu selama dikonsumsi dengan tepat,” ujar Angga.
Hal serupa juga ia terapkan pada nasi yang tetap menjadi bagian dari pola makannya.
Ia menilai konsumsi nasi masih memungkinkan selama porsinya terkontrol dan tidak berlebihan.
Soal air es yang sering dikaitkan dengan lemak
Tangkapan layar akun Tiktok Angga @fitwithangga. Pengalaman Angga menurunkan berat badan lebih dari 50 kilogram membuatnya mempertanyakan berbagai mitos diet, mulai dari nasi, kuning telur, hingga air es yang sering disalahpahami.
Angga juga menyinggung anggapan lama bahwa minum air es dapat membuat lemak dalam tubuh membeku.
Menurutnya, dari yang ia pelajari, hal tersebut tidak terjadi secara langsung seperti yang banyak dipercaya.
“Yang sering jadi masalah itu justru minuman manis dingin, bukan air esnya,” kata Angga.
Ia menjelaskan bahwa minuman seperti boba atau es kopi susu dengan gula tinggi lebih berpengaruh terhadap kenaikan berat badan.
Pemahaman sederhana tentang air dingin dan tubuh
Angga menambahkan bahwa tubuh akan menyesuaikan suhu ketika mengonsumsi air dingin.
Proses tersebut, menurut pemahamannya, membutuhkan energi dari tubuh meski dalam jumlah kecil.
Ia menekankan bahwa hal ini bukan berarti air es menjadi solusi utama untuk menurunkan berat badan.
Pandangan tersebut ia pahami sebagai bagian dari proses belajar selama menjalani perubahan gaya hidup.
Belajar memahami nutrisi selama proses diet
Angga mengaku banyak mempelajari dasar nutrisi agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.
Ia menyadari bahwa banyak anggapan yang beredar tanpa penjelasan yang utuh sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Pengalaman tersebut membuatnya lebih berhati-hati dalam menentukan pola makan sehari-hari.
Menurutnya, memahami kebutuhan tubuh menjadi hal yang lebih penting daripada sekadar menghindari jenis makanan tertentu.
Angga juga mendokumentasikan proses diet dan pembelajarannya melalui akun TikTok @fitwithangga, yang berisi pengalaman sehari-hari selama menjalani perubahan gaya hidup.
Setiap orang punya kondisi tubuh yang berbeda
Angga juga mengingatkan bahwa pengalamannya tidak bisa langsung diterapkan oleh semua orang tanpa penyesuaian.
Ia menyarankan agar setiap orang tetap mempertimbangkan kondisi tubuh masing-masing.
“Lebih baik cari tahu dulu sebelum langsung percaya, karena tiap orang punya kebutuhan yang berbeda,” ujar Angga.
Pengalaman tersebut ia bagikan sebagai gambaran proses belajar selama menjalani diet, bukan sebagai acuan medis yang berlaku untuk semua orang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang