Tips Food Prepping Ramadan agar Nutrisi Tetap Terjaga

Bulan Ramadan membuat waktu memasak terasa lebih terbatas, terutama saat sahur dan menjelang berbuka.
Mengutip dari Kompas.com, untuk menyiasatinya, sebagian orang menerapkan metode food prepping, yakni menyiapkan bahan dan menu makanan lebih awal agar proses memasak lebih praktis.
Cara ini dinilai efektif karena dapat menghemat waktu dan tenaga, sehingga aktivitas harian dan ibadah tetap berjalan optimal.
Namun, pada saat menyimpan dan memanaskan ulang tetap perlu diperhatikan agar nutrisi dalam makanan tetap terjaga.
Berikut penjelasannya
1. Hindari pemanasan berulang kali
Makanan yang sudah disiapkan sebelumnya umumnya disimpan di lemari pendingin dan dipanaskan kembali sebelum disantap.
Praktik ini boleh dilakukan, tetapi sebaiknya tidak berulang kali pada makanan yang sama.
Pemanasan berulang dapat memengaruhi kualitas rasa, tekstur, serta kandungan nutrisi di dalam makanan.
Beberapa vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin C dan beberapa vitamin B, bisa berkurang jika makanan terlalu sering dipanaskan.
Sebaiknya, hangatkan makanan dalam satu porsi makan saja, sesuai kebutuhan saat itu.
Setelah dipanaskan, makanan sebaiknya langsung dihabiskan dan tidak disimpan kembali dalam kondisi sudah terkena panas.
Cara ini membantu menjaga kualitas rasa sekaligus meminimalkan penurunan nilai gizi.
2. Tingkatkan suhu secara bertahap
Makanan hasil food prepping biasanya disimpan di kulkas atau bahkan freezer agar lebih tahan lama.
Namun, cara mengembalikan suhu sebelum dipanaskan juga perlu diperhatikan. Makanan juga disarankan tidak langsung dipanaskan dari kondisi beku.
Perubahan suhu yang terlalu drastis bisa memengaruhi tekstur makanan dan berpotensi membuat pemanasan tidak merata.
Langkah yang dianjurkan adalah memindahkan makanan dari freezer ke chiller atau bagian bawah kulkas beberapa jam sebelum akan dikonsumsi.
Jika memungkinkan, makanan juga bisa didiamkan sebentar pada suhu ruang sebelum dihangatkan.
Proses bertahap ini membantu makanan kembali ke suhu yang lebih stabil sehingga saat dipanaskan, hasilnya lebih merata dan kualitasnya tetap terjaga.
3. Hindari pemanasan terlalu tinggi
Banyak orang memanaskan makanan hingga benar-benar panas atau bahkan mendidih kembali agar terasa lebih nikmat.
Namun, suhu yang terlalu tinggi justru bisa merusak tekstur dan kandungan nutrisi makanan.
Sebagai contoh, sup yang sudah matang sebelumnya tidak perlu dipanaskan hingga mendidih lagi.
Cukup hangatkan sampai mencapai suhu yang nyaman untuk dikonsumsi.
Pemanasan berlebihan tidak hanya membuat beberapa zat gizi berkurang, tetapi juga dapat mengubah rasa dan konsistensi makanan.
Kondisi hangat dinilai paling ideal karena tetap mempertahankan cita rasa sekaligus menjaga kandungan nutrisi agar tidak banyak terdegradasi akibat panas tinggi.
4. Batasi porsi yang dihangatkan
Menghangatkan makanan dalam jumlah besar sekaligus sering kali dianggap lebih praktis. Namun, cara ini justru meningkatkan risiko pemanasan berulang pada sisa makanan.
Seala mencontohkan, jika memiliki rendang satu kilogram dan ingin menyantapnya saat sahur, sebaiknya panaskan hanya sesuai porsi yang akan dimakan.
Sisa makanan tetap disimpan dalam kondisi dingin.
Dengan membatasi porsi yang dihangatkan, makanan yang belum dikonsumsi tidak terpapar panas berulang kali.
Selain menjaga kualitas rasa dan gizi, cara ini juga membantu menjaga keamanan pangan karena makanan tidak terlalu lama berada di suhu ruang.
Food prepping dapat menjadi solusi praktis selama Ramadan, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas padat.
Dengan perencanaan menu yang baik serta teknik penyimpanan dan pemanasan yang tepat, makanan tetap lezat, aman, dan bernutrisi tanpa perlu mengorbankan waktu dan energi selama bulan puasa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang