Ekonomi Global Melambat, Bos OJK: Sektor Jasa Keuangan RI Tetap Terjaga

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar melaporkan, berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Oktober 2025, dipastikan bahwa sektor jasa keuangan Indonesia masih tetap terjaga.

Dia menjelaskan, keterjagaan sektor jasa keuangan nasional itu antara lain turut didukung oleh sejumlah aspek, seperti misalnya ekonomi kuartal III-2025 yang tumbuh 5,04 persen serta Indeks PMI Manufaktur yang tetap berada di zona ekspansif.

"OJK menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga," kata Mahendra dalam telekonferensi pers RDKB Oktober 2025, Jumat, 7 November 2025.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar

Stabilitas sektor jasa keuangan nasional itu menurut Mahendra merupakan sebuah capaian positif, di tengah berbagai indikator kinerja perekonomian global yang menunjukkan perlambatan aktivitas di berbagai kawasan.

Meski demikian, IMF pada World Economic Outlook yang ketika tahun 2020-2025 merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan global, yang dilakukan seiring dengan tercapainya kesepakatan perdagangan dan kebijakan moneter global yang lebih akomodatif.

Di Amerika Serikat, kinerja perekonomian mengalami pelemahan dengan pasar tenaga kerja yang mulai tertekan. Berlanjutnya government shutdown serta default beberapa perusahaan, telah menjadi perhatian para pelaku pasar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar.

"Di sisi lain, Bank Sentral Amerika, The Fed, dinilai atau lebih akomodatif dengan menurunkan suku bunga kebijakan," ujarnya.

Sementara di Tiongkok, beberapa indikator utama di sisi permintaan tercatat berada di bawah ekspektasi pasar. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025 juga melambat, seiring dengan konsumsi rumah tangga yang masih tertahan dan mengindikasikan masih lemahnya konsumsi domestik di ekonomi Tiongkok. Penjualan retail dan aktivitas di sektor poperti juga mencatatkan perlambatan.

Sementara untuk di dalam negeri, Mahendra memastikan bahwa kerekonomian Indonesia masih terpantau solid, dengan ekonomi kuartal III-2025 yang tumbuh 5,04 persen dan Indeks PMI Manufaktur yang juga tetap berada di zona ekspansif.

"Sementara itu, perlu dicermati bahwa perkembangan permintaan domestik yang masih memerlukan dukungan lebih lanjut, terjadi seiring dengan moderasi inflasi inti, tingkat kepercayaan konsumen, serta tingkat penjualan retail, semen, dan kendaraan," ujarnya.