Mengapa Anak Usia 10 Tahun Bisa Berpikir Nekat? Belajar dari Tragedi Siswa SD di Ngada NTT

Psikolog, Mengapa Anak Usia 10 Tahun Bisa Berpikir Nekat? Belajar dari Tragedi Siswa SD di Ngada NTT, Kronologi dan Surat Terakhir untuk Sang Ibu, Analisis Psikologis, Mengapa Anak 10 Tahun Memiliki Pikiran Nekat?, Singgung Dampak Fatherless dan Ketahanan Mental, Kontak bantuan

Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Seorang siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di sebuah pohon cengkeh di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026).

Tragedi memilukan ini diduga kuat dipicu oleh tekanan ekonomi yang menghimpit keluarga korban.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, YBR nekat mengakhiri hidupnya lantaran keinginannya untuk membeli buku tulis dan pena seharga Rp 10.000 tidak terpenuhi.

Kronologi dan Surat Terakhir untuk Sang Ibu

Ibu kandung korban, MGT (47), menceritakan momen-momen terakhir sebelum buah hatinya ditemukan tak bernyawa. Pada pagi hari kejadian, YBR sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah.

Namun, karena khawatir anaknya tertinggal pelajaran, MGT tetap meminta YBR berangkat menggunakan jasa ojek.

"Saya kaget ada kabar dari tetangga (YBR meninggal), saya pikir dia pergi sekolah," ungkap MGT dengan nada lirih saat dijumpai di rumah duka, Selasa (3/2/2026).

Saat ditemukan oleh warga pada siang hari, YBR masih mengenakan seragam olahraga berwarna merah. Di lokasi kejadian, ditemukan sepucuk surat dalam bahasa daerah (bahasa Bajawa) yang ditujukan untuk ibunya.

Isi surat tersebut menggambarkan keputusasaan mendalam seorang anak kecil:

"Kertas ti'i Mama Reti. Mama galo ze'e. Mama molo, galo ja'o mata, Mama ma'e rita ee Mama..."

Terjemahan: "Kertas untuk Mama Reti. Mama terlalu kikir (pelit). Mama baik sudah, saya kalau mati jangan sampai menangis ee Mama. Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. Baik sudah Mama."

Analisis Psikologis, Mengapa Anak 10 Tahun Memiliki Pikiran Nekat?

Psikolog, Mengapa Anak Usia 10 Tahun Bisa Berpikir Nekat? Belajar dari Tragedi Siswa SD di Ngada NTT, Kronologi dan Surat Terakhir untuk Sang Ibu, Analisis Psikologis, Mengapa Anak 10 Tahun Memiliki Pikiran Nekat?, Singgung Dampak Fatherless dan Ketahanan Mental, Kontak bantuan

anak-anak bisa mengalami depresi saat orangtua berselingkuh

Psikolog dari Lembaga Pelayanan Psikologi (LPP) EKSHAFIT Banyuwangi, Fitriatul Masruroh, memberikan tinjauan mendalam terkait fenomena ini.

Menurutnya, pemikiran untuk mengakhiri hidup pada anak usia 10 tahun bukanlah keinginan untuk mati dalam konsep orang dewasa.

"Saya memandang pikiran tersebut sebagai manifestasi keputusasaan emosional yang mendalam. Pada tahap perkembangan ini, anak umumnya belum memiliki kematangan kognitif untuk memahami konsekuensi hidup dan kematian secara permanen," jelas Fitriatul kepada Kompas.com, Rabu (4/1/2026).

Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut kerap muncul sebagai respons terhadap:

  • Rasa tidak berdaya dan keyakinan bahwa tidak ada solusi atas masalahnya.
  • Tekanan emosional yang melampaui kapasitas pengelolaan emosi anak.
  • Pengalaman negatif seperti penolakan sosial atau tuntutan lingkungan yang berlebihan.
  • Keterbatasan dalam strategi coping (penyelesaian masalah) yang belum optimal.

"Apa yang diekspresikan anak bukanlah keinginan untuk mati, melainkan upaya untuk menghentikan penderitaan emosional yang dirasakannya," tambah Dosen Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangib tersebut.

Singgung Dampak Fatherless dan Ketahanan Mental

Fakta lain yang terungkap adalah ayah korban diketahui telah merantau selama 12 tahun.

Kondisi fatherless atau absennya peran ayah, menurut Fitriatul, menjadi faktor risiko psikososial yang besar bagi stabilitas emosional anak laki-laki.

"Sosok ayah berfungsi sebagai figur pengatur emosi eksternal. Melalui ayah, anak belajar mengelola impuls agresif, menghadapi frustrasi, dan membangun rasa aman. Ketidakhadiran figur ini dapat mengganggu proses pembelajaran emosi," papar Fitriatul.

Anak yang tumbuh tanpa figur ayah berpotensi mengalami kerentanan seperti:

  • Melemahnya rasa aman secara psikologis.
  • Munculnya perasaan tidak diinginkan atau kurang berharga.
  • Hambatan dalam pengembangan kontrol diri.
  • Kecenderungan perilaku bermasalah sebagai mekanisme pelampiasan.

Meski demikian, Fitriatul menekankan bahwa dampak negatif ini bisa diminimalisir jika ada figur pengganti seperti kakek, paman, atau guru yang memberikan pengasuhan responsif.

"Dampak fatherless tidak selalu berupa kesedihan eksplit, bisa muncul lewat kemarahan atau sikap defensif. Yang paling menentukan bukan hanya siapa yang tidak hadir, melainkan siapa yang hadir secara konsisten dalam kehidupan anak," pungkasnya.

Kontak bantuan

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang