Siswa SD di Ngada Bunuh Diri, Sosiolog UGM Sebut Negara Gagal Penuhi Kebutuhan Dasar Warga
Kasus bunuh diri seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian banyak pihak.
Korban berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia setelah nekat mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1/2026).
Sebelum kejadian, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena, tetapi permintaannya tidak dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Kejadian ini menjadi perhatian serius berbagai kalangan, termasuk Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta alias Ab.
Ia menekankan bahwa peristiwa meninggalnya YBS bukan sekadar persoalan individu.
Menurutnya, kasus bunuh diri anak mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin kebutuhan dasar warga negara.
"Negara terlalu banyak menuntut anak untuk menjadi generasi unggul, tetapi tidak mampu menyediakan fasilitas dasar untuk hidup layak. Ini merupakan ironi," ujar Ab dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (5/2/2026).
Kasus Bunuh Diri Siswa SD di Ngada Bukan Persoalan Individu
Ab menambahkan, meninggalnya YBS menjadi tanda struktur negara yang gagal dalam melindungi anak-anak.
Fenomena anak atau remaja bunuh diri sebenarnya memperlihatkan masalah sosial yang kompleks dan bersumber dari ketimpangan struktural.
Ab juga menilai, meninggalnya YBS merupakan puncak akumulasi tekanan sosial karena negara gagal menyediakan layanan dasar secara merata.
“Fenomena ini harus dilihat sebagai problem sosial yang bersifat struktural," katanya.
"Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar menyebabkan sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrem, bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan paling mendasar,” sambung Ab.
Pembangunan Lebih Menguntungkan Kelompok ELite
Ab menjelaskan, kegagalan struktural negara dapat dilihat secara jelas dalam praktik pembangunan yang lebih menguntungkan kelompok elite.
Sementara itu, masyarakat miskin malah menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Hal ini, menurut Ab, menimbulkan keputusasaan yang mendalam bagi anak-anak.
Ia menjelaskan bahwa keputusan anak melakukan bunuh diri sebenarnya bentuk dari kebuntuan karena hilangnya harapan terhadap masa depan.
Sebabnya, anak belum mempunyai kemandirian secara penuh terkait keputusan finansial.
“Pilihan bunuh diri menjadi bahasa kegelapan ketika anak tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan, kecemasan, dan harapannya. Ini menunjukkan hilangnya ekspektasi terhadap masa depan,” tandas Ab.
Berkaca dari kasus bunuh diri di Ngada, Ab menekankan bahwa peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pusat pendidikan utama belum menciptakan ruang dialogis yang aman bagi anak.
Relasi kekuasaan yang otoriter membuat anak sulit menyampaikan perasaan dan pemikirannya.
“Di keluarga sering tidak ada afeksi, di masyarakat tidak ada pengakuan terhadap hak anak, dan di sekolah guru masih diposisikan sebagai pusat kebenaran. Anak akhirnya tidak memiliki ruang untuk menyuarakan apa yang mereka rasakan,” jelas Ab.
Peran Keluarga-Masyarakat Perlu Diperkuat
Agar kejadian serupa tidak terulang, Ab meminta penguatan peran keluarga, sekolah dan masyarakat.
Ia juga meminta pentingnya menciptakan ruang afeksi di keluarga, menghapus stigma terhadap anak di masyarakat, serta menjadikan sekolah sebagai ruang dialog yang sehat dan inklusif.
Khusus pemerintah, Ab mengingatkan pemangku kepentingan agar membuat kebijakan yang dapat menanggulangi kemiskinan secara akurat, bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) supaya layanan sosial dapat dirasakan secara merata.
"Kepiluan anak-anak adalah kepiluan bangsa. Fenomena bunuh diri anak menunjukkan retaknya wajah Indonesia dan menjadi peringatan bahwa negara harus segera berbenah dalam melindungi generasi mudanya," pungkas Ab.
Sementara itu, Bupati Ngada, Raymundus Bena, menepis narasi ekonomi sebagai penyebab utama. Ia menyebut bunuh diri YBS lebih dipicu oleh kemiskinan ekstrem, kurangnya perhatian orang tua, dan tekanan sosial.
Kata Bupati Ngada soal Siswa SD Bunuh Diri
Sementara itu, Bupati Ngada Raymundus Bena mengatakan, tidak ada pernyataan dari keluarga YBS bahwa korban mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena.
Berdaasarkan penelusuran Pemkab Ngada, faktor terbesar yang mendorong YBS untuk nekat bunuh diri adalah kemiskinan ekstrem, keluarga, kurang perhatian dari orangtua, dan beban ekonomi.
YBS sejak usia 1 tahun 7 bulan sudah tinggal bersama neneknya di kebun, sementara ibu korban tinggal di rumah adat bersama anak ke-3 dan ke-4.
Ayah YBS tidak tinggal di Ngada karena ia sudah pergi merantau ke Kalimantan, namun tidak lagi memberikan nafkah.
Begitu juga dengan kakak ke-1 dan ke-2 YBS yang sudah merantau ke Kalimantan dan Papua.
"Korban dikenal sebagai anak berprestasi, ceria, taat, dan tidak memiliki masalah perilaku di sekolah," ujar Raymundus saat konferensi pers di Desa Naruwolo, Kamis (5/2/2026).
Kontak Bantuan
Bunuh diri bukanlah jalan keluar dari persoalan apa pun.
Setiap masalah, seberat apa pun, selalu memiliki kemungkinan untuk dibicarakan dan dicarikan bantuan.
Jika Anda atau orang terdekat sedang mengalami tekanan emosional, merasa putus asa, atau membutuhkan teman untuk berbagi, jangan ragu untuk mencari pertolongan profesional.
Berbagi cerita dan meminta bantuan adalah langkah berani, bukan tanda kelemahan.
Layanan dukungan kesehatan mental dan konseling dapat diakses melalui Into The Light Indonesia di tautan berikut: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang