Usia Rata-rata Hikikomori di Jepang Meningkat, Lansia 90 Tahun Harus Urus Anak Usia 60 Tahun

hikikomori, Usia Rata-rata Hikikomori di Jepang Meningkat, Lansia 90 Tahun Harus Urus Anak Usia 60 Tahun

Fenomena hikikomori di Jepang memasuki babak baru, dengan usia rata-rata pelakunya bertambah tua. 

Adapun hikikomori merujuk pada orang yang menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka biasanya mengurung diri di dalam rumah dalam waktu yang lama.

Menurut hasil survei tahunan organisasi nirlaba Kazoku Hikikomori Japan (KHJ), usia rata-rata pelaku hikikomori terus meningkat. Pada tahun 2014, usia rata-rata mereka 33,1 tahun, sedangkan tahun ini meningkat jadi 36,9 tahun. 

Survei tahunan tersebut dilakukan dari Desember 2025 sampai Januari 2026, dengan melibatkan sekitar 280 keluarga yang punya anggota keluarga hikikomori, dilansir dari Soranews24.com, Jumat (8/5/2026).

Rata-rata usia hikikomori di Jepang bertambah tua

Orangtua 90 tahun merawat hikikomori 60 tahun

hikikomori, Usia Rata-rata Hikikomori di Jepang Meningkat, Lansia 90 Tahun Harus Urus Anak Usia 60 Tahun

Fenomena hikikomori di Jepang mulai menyentuh usia lanjut. Banyak orangtua usia 90 tahun masih harus merawat anak mereka yang berusia 60 tahun.

Fakta lain adalah komposisi usianya. Sebanyak 43,1 persen hikikomori ternyata sudah berusia di atas 40 tahun. Bahkan, ada 12,7 persen yang sudah berusia 50 tahun ke atas.

Sebagian besar hikikomori bergantung pada orangtua, khususnya uang pensiun atau pendapatan orangtua untuk biaya hidup.

Hal itu menciptakan beban ekonomi yang sangat berat bagi para lanjut usia (lansia) karena banyak orangtua yang seharusnya sudah beristirahat malah harus terus bekerja.

Bahkan, KHJ menemukan kasus yang ekstrem. Ada orangtua yang sudah berusia 90 tahun masih harus merawat anaknya yang sudah berusia 60-an tahun. 

Jika orangtua meninggal dunia, para hikikomori ini akan kehilangan safety net (jaring pengaman) karena mereka tidak memiliki penghasilan sendiri untuk bertahan hidup. 

Mengapa hal ini bisa terjadi dalam waktu yang sangat lama? Banyak yang mengira pemicunya adalah tekanan sekolah atau bullying (perundungan). Namun, bantuan untuk hikikomori dewasa ternyata masih sangat minim. 

"Ada persepsi umum bahwa inisiatif untuk membantu para hikikomori seharusnya berfokus pada dukungan bagi kaum muda, tapi kenyataannya masalah ini tidak hanya menimpa kelompok usia muda," kata salah satu direktur KHJ, Chikako Hibana.

Orangtua di Jepang disebut cenderung lebih sabar merawat anak dewasa mereka. Sebab, mereka merasa memiliki tanggung jawab penuh meski anak sudah berusia lanjut.

Namun, kesabaran tersebut tidak bisa menyelesaikan masalah secara permanen karena dukungan orangtua suatu saat pasti akan terhenti.

Oleh karena itu, bantuan yang lebih fokus sangatlah dibutuhkan saat ini. Para hikikomori dewasa perlu dibantu agar bisa lebih mandiri, dan mulai terintegrasi kembali dengan masyarakat luas.

Jika tidak, fenomena hikikomori akan menjadi bom waktu bagi sistem sosial masa depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang