Stunting pada Anak Usia di Bawah 2 Tahun Bisa Berdampak Permanen pada Otak
Stunting pada anak tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan otak.
Jika terjadi pada usia dini, kondisi ini bahkan berpotensi menimbulkan dampak yang sulit dipulihkan.
Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University Prof. Ali Khomsan mengatakan, dampak stunting dapat menjadi permanen apabila anak mengalami kekurangan gizi berat pada usia di bawah dua tahun.
“Kalau itu terjadi, anak mengalami gizi buruk atau stunting pada usia di bawah dua tahun, kondisi otaknya bisa irreversible, tidak dapat pulih,” ujarnya dalam konferensi pers Program Pendampingan Gizi 2025 Nestlé di Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
Menurut Ali, usia di bawah dua tahun merupakan periode yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak karena pada fase tersebut perkembangan otak berlangsung sangat pesat.
Perkembangan otak pada usia dini
Ali menjelaskan bahwa perkembangan otak anak sebagian besar terjadi pada masa awal kehidupan.
Pada usia di bawah dua tahun, perkembangan otak dapat mencapai sekitar 80 hingga 90 persen dari kapasitas maksimalnya.
Maka dari itu, anak yang mengalami kekurangan gizi berat pada periode tersebut berisiko mengalami gangguan perkembangan otak yang bersifat permanen.
“Pada usia di bawah dua tahun itu perkembangan otak sangat pesat, mungkin sudah bisa mencapai 80 sampai 90 persen,” kata Ali.
Kondisi inilah yang membuat pemenuhan gizi pada masa awal kehidupan menjadi sangat penting bagi anak.
Dampaknya bisa sulit dipulihkan
Ali mengatakan bahwa dampak stunting yang terjadi pada masa awal kehidupan dapat memengaruhi kemampuan kognitif anak.
Ketika kekurangan gizi terjadi pada masa perkembangan otak yang sangat cepat, kemampuan otak untuk berkembang secara optimal dapat terganggu.
Akibatnya, anak berpotensi mengalami berbagai masalah dalam perkembangan, termasuk kemampuan belajar dan daya tangkap.
Namun, Ali menambahkan bahwa kondisi tersebut berbeda jika stunting terjadi pada usia yang lebih besar.
“Kalau stuntingnya sudah terjadi pada usia tiga atau empat tahun, kondisi otaknya masih bisa berkembang dengan baik,” ujarnya.
Menurutnya, pada usia tersebut perkembangan otak sudah tidak secepat masa awal kehidupan, sehingga dampaknya terhadap fungsi otak tidak sebesar ketika terjadi pada usia di bawah dua tahun.
Pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan
Melihat besarnya pengaruh gizi terhadap perkembangan otak anak, Ali menekankan pentingnya periode seribu hari pertama kehidupan atau 1.000 HPK.
Periode ini mencakup masa sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Pada fase tersebut, pemenuhan gizi yang baik sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
“Maka program seribu hari pertama kehidupan itu harus menjadi perhatian setiap orangtua,” kata Ali.
Dengan memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup sejak dini, risiko stunting dapat ditekan sekaligus mendukung perkembangan otak anak agar tumbuh secara optimal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang