Kasus Bocah SD di Ngada, Mengapa Anak Sering Menyimpan Beban dalam Diam?

Ngada, depresi pada anak, kemiskinan, Kasus Bocah SD di Ngada, Mengapa Anak Sering Menyimpan Beban dalam Diam?, 1. Keterbatasan kosakata emosi (emotional literacy), 2. Tahap perkembangan kognitif, 3. Ketakutan akan stigma atau reaksi orangtua, 4. Normalisasi perasaan

Kasus YBR (10), bocah kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidup pada Kamis (29/1/2026), menjadi tamparan bagi banyak pihak.

Diberitakan, YBR pada pagi itu sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah.

YBR juga sempat meminta dibelikan buku dan pena, namun tak bisa dikalbulkan oleh sang ibu lantaran keterbatasan ekonomi.

DIberitakan , Rabu (4/2/2026), sebelum mengakhiri hidupnya, korban meninggalkan secarik surat tulisan tangan yang ditujukan kepada ibunya.  

Dalam surat terakhirnya itu, YBS berpamitan dan meminta ibunya agar tidak menangisi kepergiannya.

Kasus ini menampar banyak pihak termasuk pemangku kebijakan lantaran korban diduga mengambil keputusan nekat akibat menghadapi persoalan ekonomi keluarga.

Kasus pilu dari Ngada ini juga menimbulkan tanda tanya besar di benak orangtua. Apa sebenarnya gejala depresi pada anak, dan mengapa anak-anak sering tak bisa mengungkapkan masalah-masalah dan kerisauannya secara gamblang kepada orangtua.

Kemiskinan picu stres toksik

Danti Wulan Manunggal, psikolog dari Ibunda.id mengatakan, kemiskinan bukan sekadar kurangnya saldo pada rekening atau minimnya lembaran uang di dalam dompet.

"Secara psikologis, ia bertindak sebagai beban kognitif yang konstan. Ketika seseorang hidup dalam kemiskinan ekstrem, otak mereka terus-menerus beroperasi dalam mode 'bertahan hidup', yang memicu apa yang disebut sebagai stres toksik," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu.

Berbeda dengan stres biasa yang bersifat sementara, stres toksik adalah aktivasi sistem respons stres yang berkepanjangan dan berlebihan tanpa adanya dukungan yang memadai.

Menurut Danti, stres toksik memicu pelepasan hormon kortisol secara terus-menerus. Jika ini terjadi sejak masa kanak-kanak, struktur otak dapat berubah menjadi:

  • Amigdala: Menjadi hiperaktif, menyebabkan seseorang selalu merasa terancam atau cemas.
  • Hipokampus: Mengalami penyusutan, yang mengganggu memori dan pembelajaran.
  • Prefrontal Cortex: Bagian yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan menjadi lemah.

"Stres toksik pada orangtua sering kali diturunkan kepada anak melalui pola asuh. Orangtua yang tertekan secara finansial cenderung memiliki ruang emosional yang sempit, yang dapat menyebabkan pengabaian atau reaksi emosional yang keras," ujarnya.

Hal inilah, yang akhirnya secara tak disadari "menurunkan" stres hingga depresi pada anak.

Mengapa anak tak bisa mengungkapkan masalahnya?

Di samping itu, anak-anak usia dini atau di bawah umur, cenderung tak bisa mengungkapkan apa yang menjadi masalahnya, atau apa yang tengah dirisaukannya.

Hal inilah yang membuat depresi atau stres pada anak terjadi dengan cara menyelinap secara pelan-pelan, tanpa orangtua menyadarinya sama sekali.

Menurut Danti, ada beberapa alasan mendasar secara psikologis dan perkembangan mengapa anak usia di bawah 12 tahun jarang bisa berkata, "Aku sedang depresi".

1. Keterbatasan kosakata emosi (emotional literacy)

Anak-anak dalam tahap perkembangan ini sering kali belum memiliki kosakata yang cukup untuk menggambarkan perasaan yang kompleks.

"Mereka mungkin tahu rasanya sedih atau marah, tetapi mereka tidak memiliki kata untuk menggambarkan perasaan hampa, putus asa, atau mati rasa," terang Danti.

2. Tahap perkembangan kognitif

Menurut Danti, berdasar teori Jean Piaget, anak usia SD masih berada dalam tahap operasional konkret.

"Mereka lebih mudah memahami hal-hal yang bersifat fisik dan terlihat. Perasaan depresi yang bersifat abstrak dan internal sangat sulit bagi mereka untuk diidentifikasi dan dihubungkan dengan penyebab tertentu," kata Danti.

3. Ketakutan akan stigma atau reaksi orangtua

Selain itu, anak-anak juga sangat peka terhadap dinamika emosi orangtua. Mereka mungkin:

  • Takut mengecewakan: Khawatir bahwa mengakui rasa sedih akan membuat orangtua mereka sedih atau marah.
  • Anggapan "anak nakal": Karena depresi pada anak sering muncul sebagai kemarahan, mereka sering dicap sebagai "anak nakal" oleh lingkungan. Hal ini membuat mereka merasa bahwa apa yang mereka rasakan adalah sebuah kesalahan, bukan sebuah kondisi medis.

4. Normalisasi perasaan

Terakhir, karena mereka belum memiliki perbandingan pengalaman hidup yang luas, anak-anak mungkin menganggap bahwa perasaan berat dan menyakitkan yang mereka alami adalah hal yang "normal" atau memang begitulah hidup seharusnya.

"Sehingga mereka tidak merasa perlu untuk mengeluh," pungkas Danti.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang