Anak Anda Usia 5 Tahun Saat Ini, Nanti Dewasa Tak Perlu Cari Kerja Lagi

Anak Anda Usia 5 Tahun Saat Ini, Nanti Dewasa Tak Perlu Cari Kerja Lagi

Miliarder sekaligus salah satu investor awal OpenAI, Vinod Khosla, melontarkan prediksi ekstrem terkait masa depan dunia kerja.

Ia meyakini anak-anak yang saat ini baru berusia lima tahun tidak akan pernah perlu repot-repot mencari pekerjaan saat mereka dewasa nanti.

Revolusi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) diprediksi akan mengambil alih 80 persen dari seluruh pekerjaan manusia yang ada saat ini. Mulai dari dokter, ahli radiologi, akuntan, hingga karyawan penjualan.

Dihimpun KompasTekno dari Fortune, prediksi berani ini disampaikan Khosla dalam podcast bertajuk "Titans and Disruptors of Industry".

Tentu saja, masa depan tanpa pekerja manusia ini tidak terjadi dalam semalam.

Khosla meramalkan adanya fase transisi di mana para pekerja profesional memiliki "anak magang" berwujud AI.

Mesin ini akan dilatih terus-menerus untuk mewarisi keahlian spesialis mereka, hingga akhirnya sanggup menuntaskan pekerjaan tersebut secara otonom.

Ketika era itu tiba, institusi pendidikan dan kepemilikan gelar sarjana, seperti sarjana teknik, tak lagi menjadi syarat wajib untuk mencari nafkah.

Pendidikan akan digratiskan dan untuk bidang-bidang yang butuh keahlian ultra-spesifik seperti bedah jantung.

"Orang-orang hanya akan belajar jika passion mereka memang murni untuk belajar," ungkap Khosla.

Nasihat usang seperti "ikuti passion-mu" yang selama ini sering dikorbankan demi sekadar bertahan hidup, akan menjadi norma baru.

Tanpa tuntutan untuk mencari uang, manusia dijanjikan punya kebebasan waktu tak terbatas untuk keluarga dan kreativitas. AI, menurut Khosla, justru akan membebaskan manusia untuk menjadi "lebih manusia".

1 miliar robot dan "kiamat" PDB

Lebih lanjut, pendiri Khosla Ventures ini memprediksi kehadiran satu miliar robot berkaki dua atau humanoid dalam dekade mendatang. Kehadiran robot dan AI akan menekan ongkos tenaga kerja hingga menyentuh angka nol.

Otomatisasi massal ini akan menciptakan deflasi besar-besaran. Khosla memprediksi sekitar 15 triliun dollar AS (sekitar Rp 255 kuadriliun) dari Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat akan lenyap.

Alhasil, metrik PDB tidak akan lagi relevan untuk mengukur kesuksesan ekonomi suatu negara.

Meski terdengar mengerikan, Khosla menilai ini adalah kabar baik. Biaya produksi yang anjlok akan membuat harga barang dan jasa menjadi sangat murah.

Pada tahun 2040, ia memperkirakan uang senilai 10.000 hingga 30.000 dollar AS (sekitar Rp 170 juta - Rp 500 juta) akan memiliki daya beli yang jauh lebih besar dibandingkan penghasilan 100.000 dollar AS (sekitar Rp 1,7 miliar) saat ini.

Diamini Elon Musk

Visi utopia Khosla ini rupanya sejalan dengan pandangan bos Tesla dan SpaceX, Elon Musk.

Musk sebelumnya juga membayangkan dunia di mana bekerja hanyalah sebuah pilihan opsional, dan robot medis akan melampaui jumlah dokter manusia.

Untuk menopang hidup manusia, Musk mengusulkan sistem Pendapatan Tinggi Universal (Universal High Income).

Di sisi korporat, pergeseran ekstrem ini bahkan sudah mulai memakan korban nyata. Pekan lalu, CEO Block (perusahaan fintech raksasa), Jack Dorsey, nekat memangkas 40 persen stafnya.

Dalam suratnya kepada pemegang saham, Dorsey terang-terangan menyebut pemutusan hubungan kerja (PHK) ini dilakukan untuk mengkapitalisasi perangkat AI yang telah mengubah cara perusahaan beroperasi.

Cuma hype sesaat?

Yang menarik, di luar gelembung para bos teknologi, prediksi kiamat pekerjaan ini justru ditanggapi dingin oleh para ekonom dan eksekutif perusahaan non-teknologi.

Dalam sebuah studi terbaru yang menyurvei ribuan eksekutif level C-suite, sebanyak 90 persen responden menyatakan bahwa AI sama sekali tidak memberikan dampak nyata pada lapangan kerja atau produktivitas mereka dalam tiga tahun terakhir.

Para eksekutif ini secara konservatif memprediksi bahwa AI hanya akan mendongkrak produktivitas sebesar 1,4 persen dan hasil produksi sebesar 0,8 persen hingga tahun 2029 mendatang.

Kepala Ekonom Apollo, Torsten Slok, turut melontarkan kritik tajam atas narasi yang digaungkan Khosla.

"AI ada di mana-mana, kecuali di dalam data makroekonomi yang masuk. Hari ini, Anda tidak melihat dampak AI di data ketenagakerjaan, data produktivitas, maupun data inflasi," tegas Slok.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang