Ini Alasan Keluarga Siswa SD di NTT yang Tewas Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah

Ngada, Ini Alasan Keluarga Siswa SD di NTT yang Tewas Tak Pernah Dapat Bantuan Pemerintah

Kematian YBR (10), siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus mengingatkan kembali potret kemiskinan di Indonesia.

YBR diduga mengakhiri hidupnya dengan gantung diri karena keluarganya tidak mampu membelikan buku tulis dan pena untuk sekolah.

Keluarganya yang hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan ekonomi pun disebut tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

Ditinggalkan Ayah, Ibu Bekerja sebagai Petani dan Buruh Serabutan

YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.

Sang ayah telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tidak pernah kembali. Sementara sang Ibu, MGT (47), bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

Untuk mengurangi beban ekonomi, YBR sejak berusia 1 tahun 7 bulan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana turut Desa Naruwolo.

Berdasarkan pantauan di lapangan, YBR tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk bambu berukuran sekitar 2 x 3 meter.

Selain sekolah, sehari-hari YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.

Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya. Pisang dan ubi menjadi menu yang paling sering dikonsumsi.

Menurut keterangan nenek, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia tidak pernah menunjukkan perilaku aneh. Keluhannya pun sederhana, hanya meminta buku tulis dan pulpen untuk sekolah.

"Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami," tutur sang nenek lirih.

Masalah Administrasi Jadi Alasan Keluarga YBR Tak Dapat Bantuan Pemerintah

Di tengah duka tersebut, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, turun langsung meninjau rumah korban dan bertemu keluarga pada Selasa (3/2/2026).

"Setelah membaca berita di media, saya sangat tersentuh. Saya ingin memastikan langsung apakah benar korban tinggal bersama nenek di pondok. Dan setelah saya lihat, itu benar," ujar Gerardus.

Ia menemukan persoalan administrasi kependudukan yang membuat keluarga korban luput dari sistem bantuan pemerintah.

Ibu korban diketahui masih ber-KTP Kabupaten Nagekeo, meski telah 11 tahun tinggal di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada.

"Ibu korban masih ber-KTP Nagekeo. Saat itu juga kami langsung mendata dan memproses pindah penduduk. Besok, seluruh dokumen kependudukan sudah selesai,” jelasnya.

Polisi Masih Lakukan Pendalaman

Kepala Seksi Humas Polres Ngada Inspektur Dua Benediktus R Pissort mengatakan, dugaan sementara korban meninggal dunia akibat bunuh diri. Meski demikian, hingga Selasa (3/2/2026), polisi masih melakukan pendalaman.

Ia membenarkan adanya surat yang diduga ditulis oleh korban sebelum kejadian. Hal itu berdasarkan pencocokan tulisan tangan korban di sejumlah buku tulis.

“Penyidik menemukan adanya kecocokan,” kata Benediktus.

Sejumlah saksi juga telah diperiksa, di antaranya Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34), warga Dusun Sawasina, Desa Naruwolo.

Kornelis menuturkan, pada Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 WITA, ia hendak mengikat kerbau di sekitar pondok nenek korban. Dari kejauhan, ia melihat korban dalam kondisi tergantung dan langsung berteriak meminta pertolongan.

Sementara itu, sekitar pukul 08.00 WITA, Gregorius dan Rofina sempat melihat korban duduk murung di bale-bale di luar pondok. Mereka sempat berbincang dan menanyakan alasan korban tidak pergi ke sekolah.

Dalam keterangan terpisah, ibu korban, MGT (47), menuturkan bahwa sehari sebelum kejadian, YBR sempat menginap di rumahnya. Saat itu, korban meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000.

Namun, MGT menjawab bahwa mereka tidak memiliki uang. Bagi keluarga tersebut, nominal itu pun bukan perkara mudah.

Kemudian pada Kamis pagi (29/1/2026) sekitar pukul 06.00 WITA, korban diantar kembali ke pondok neneknya oleh tukang ojek.

Sebelum berpisah, ibu korban sempat menasihati YBR agar rajin bersekolah, seraya menjelaskan kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.

Namun, pada siang harinya, YBR sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di pondok sederhana saat sang nenek sedang mandi di sungai.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "" dan Kompas.id dengan judul "Anak SD Bunuh Diri lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang