Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup, Terungkap Beban Sumbangan Sekolah Rp 1,2 Juta dan Utang Rp 8 Juta

Kasus kematian YBR (10), seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka tabir kelam kondisi sosial dan ekonomi keluarga korban.
Bocah yang dikenal berprestasi tersebut nekat mengakhiri hidupnya diduga akibat tekanan beban hidup yang kompleks, mulai dari kemiskinan ekstrem hingga tunggakan sumbangan sekolah sebesar Rp 1,2 juta.
Berikut adalah fakta-fakta terbaru yang dihimpun terkait tragedi tersebut:
Beban Sumbangan Sekolah Rp 1,2 Juta
Kepala Sekolah SD Rutojawa, Maria Negene, membenarkan adanya kewajiban pembayaran sumbangan sebesar Rp 1,2 juta bagi setiap siswa untuk tahun ajaran Juli 2025 hingga Juni 2026.
Hingga sebelum kematiannya, YBR tercatat baru membayar Rp 500.000. Artinya, masih ada sisa tunggakan sebesar Rp 720.000.
"Iya, itu kesepakatan bersama terkait sumbangan. Kami rapat komite di awal September, sehingga pembayaran dimulai setelah rapat tersebut," ujar Maria, Jumat (6/2/2026).
Pihak sekolah berdalih, uang tersebut diperlukan karena sekolah akan menjadi tuan rumah peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Mei 2026 mendatang.
Namun, Maria menegaskan pihak sekolah tidak pernah melakukan penagihan secara paksa kepada siswa.
Kemiskinan Ekstrem dan Utang Koperasi
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada NTT, Gerardus Reo, meninjau rumah YBR, siswa SD yang diduga bunuh diri.
Bupati Ngada, Raymundus Bena, mengungkapkan bahwa keluarga YBR masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem desil 1. Tekanan ekonomi keluarga ini diperparah dengan adanya utang koperasi sebesar Rp 8 juta dengan cicilan Rp 130.000 per minggu.Ibu korban, MGT harus berjuang sendirian sebagai orang tua tunggal (single parent) setelah suaminya merantau ke Kalimantan 10 tahun lalu dan hilang kontak tanpa memberi nafkah.
"Dari hasil pemantauan lapangan, faktor dominan yang mempengaruhi kondisi psikologis korban adalah kemiskinan ekstrem, minimnya pendampingan orang tua, beban ekonomi keluarga, serta tekanan sosial yang dialami," kata Raymundus dalam konferensi pers, Kamis (5/2/2026).
Kondisi rumah tangga yang sulit juga menyebabkan dua kakak YBR putus sekolah. Ibu korban yang bekerja sebagai buruh tani serabutan hanya berpenghasilan rata-rata Rp 50.000 per hari, yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Kendala Administrasi Bantuan Pemerintah
Ironisnya, meski masuk kategori sangat miskin, keluarga YBR kerap terkendala masalah administrasi dalam mencairkan bantuan pemerintah seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Dokumen kependudukan Maria Goreti masih tercatat di Kabupaten Nagekeo, sehingga dana PIP milik YBR tidak bisa dicairkan di Bank BRI Cabang Bajawa.
"Pada Senin (26/1), Maria Goreti ke Bajawa untuk melakukan pencairan dana PIP. Namun dibatalkan pencairannya karena pada KTP masih terdaftar sebagai penduduk Kabupaten Nagekeo," tulis laporan hasil asesmen Pemkab Ngada.
DPR RI Bakal Selidiki Dugaan Pungutan
Tragedi ini memicu reaksi keras dari Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. Ia menegaskan akan mendalami apakah uang Rp 1,2 juta tersebut benar-benar sumbangan sukarela atau justru pungutan liar yang berkedok kesepakatan komite.
"Kita harus memastikan kebenaran informasi tersebut, dengan melakukan klarifikasi, apakah benar terjadi pungutan di sekolah," tegas Hetifah, Jumat (6/2/2026).
Hetifah mengingatkan bahwa berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan dasar di sekolah negeri wajib gratis.
"Dalam rangka wajib belajar, pungutan di sekolah pada prinsipnya sudah tidak diperbolehkan," imbuhnya.
Siswa Berprestasi yang Periang
Wali Kelas IV SD Negeri Rj, Bonifasius Snae, mengaku sangat terpukul. Di matanya, YBR adalah siswa yang sangat berbakat dan menempati peringkat 5 di kelasnya.
"YBR anak yang periang, suka menolong, tidak nakal. Dia juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pernah ikut lomba baca puisi," kenang Bonifasius.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Ngada melalui Sekretaris Daerah Yohanes CW Ngebu menekankan perlunya intervensi lintas sektor agar kejadian serupa tidak terulang kembali, terutama pada keluarga rentan yang terjebak dalam kemiskinan ekstrem.
Artikel ini telah tayang di Pos-Kupang.com dengan judul Potret Kemiskinan Ekstrem Keluarga Korban Bunuh Diri di Jerebuu Ngada
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang