Berkaca dari Kasus Bocah SD di Ngada, Psikolog: Kemiskinan Bisa Picu Stres Toksik

kemiskinan, Berkaca dari Kasus Bocah SD di Ngada, Psikolog: Kemiskinan Bisa Picu Stres Toksik, 1. Dampak pada biologi otak, 2. Dampak intergenerasi, 1. Perubahan emosional, 2. Gejala fisik (somatik), 3. Perubahan perilaku dan sosial

Cerita pilu membuntuti kisah tragis di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat seorang bocah berusia 10 tahun dengan inisial YBR, diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri pada Kamis (29/1/2026) siang.

Diberitakan Kompas.id, sebelum kejadian, siswa yang baru duduk di bangku kelas IV SD tersebut sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen.

Tapi permintaan itu tak bisa dikabulkan sang ibunda, Maria Goreti Te’a (47), lantaran keterbatasan ekonomi keluarga.

Dilansir dari , Rabu, Maria Goreti menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi itu terjadi.

Menurut Maria, YBR sempat mengeluh pusing dan tidak mau berangkat ke sekolah pagi itu.

Namun karena khawatir bisa tertinggal pelajaran, Maria tetap memintanya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek.

Siang harinya, kabar duka itu datang dan menghantamnya tanpa aba-aba.

“Saya kaget ada kabar dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ungkap Maria, saat dijumpati di rumah duka, Selasa (3/2/2026).

Diketahui, YBR adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Sejak berusia 1 tahun 7 bulan, ia tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya dan diasuh oleh neneknya di pondok sederhana berdinding bambu.

Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali. Sehari-hari, selain bersekolah, YBR membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar.

Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.

Kondisi ini membuat pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan pun terbatas.

Kemiskinan picu stres toksik

Menurut psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, kemiskinan bukan sekadar masalah kekurangan saldo di rekening bank atau di dalam dompet.

"Secara psikologis, ia bertindak sebagai beban kognitif yang konstan. Ketika seseorang hidup dalam kemiskinan ekstrem, otak mereka terus-menerus beroperasi dalam mode 'bertahan hidup', yang memicu apa yang disebut sebagai stres toksik," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (4/2/2026).

Berbeda dengan stres biasa yang bersifat sementara, stres toksik adalah aktivasi sistem respons stres yang berkepanjangan dan berlebihan tanpa adanya dukungan yang memadai.

Menurut Danti, stres toksik bisa memicu dua dampak seperti berikut ini:

1. Dampak pada biologi otak

Stres toksik memicu pelepasan hormon kortisol secara terus-menerus. Jika ini terjadi sejak masa kanak-kanak, struktur otak dapat berubah menjadi:

  • Amigdala: menjadi hiperaktif, menyebabkan seseorang selalu merasa terancam atau cemas.
  • Hipokampus: mengalami penyusutan, yang mengganggu memori dan pembelajaran.
  • Prefrontal Cortex: bagian yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan menjadi lemah.

2. Dampak intergenerasi

Stres toksik pada orangtua sering kali diturunkan kepada anak melalui pola asuh.

Orangtua yang tertekan secara finansial cenderung memiliki "ruang emosional" yang sempit, yang dapat menyebabkan pengabaian atau reaksi emosional yang keras. 

Hal ini menanamkan benih stres toksik pada anak, yang nantinya akan memengaruhi kemampuan mereka untuk sukses secara akademis dan ekonomi di masa depan.

Gejala depresi pada anak sering tak terlihat

Selain itu, Danti juga mengungkap bahwa depresi pada anak usia sekolah dasar (di bawah 12 tahun) sering kali tidak terlihat seperti depresi pada orang dewasa.

"Jika orang dewasa cenderung menunjukkan kesedihan yang mendalam, pada anak-anak, gejalanya sering kali terwujud dalam bentuk perubahan perilaku dan keluhan fisik," ujarnya.

Gejala ini biasanya berlangsung setidaknya selama dua minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari mereka di rumah maupun di sekolah.

Ini dampak atau gejala yang bisa diraba oleh orangtua:

1. Perubahan emosional

  • Irritabilitas (mudah marah): Ini adalah gejala yang paling umum. Anak menjadi sangat sensitif, sering mengamuk (tantrum), atau merasa frustrasi karena hal-hal kecil.
  • Perasaan tidak berharga: Sering menyalahkan diri sendiri, merasa "bodoh", atau merasa tidak ada orang yang menyukai mereka.
  • Kehilangan minat: Tidak lagi tertarik pada permainan, hobi, atau aktivitas yang biasanya mereka sukai (anhedonia). Dalam hal ini, bisa pula minat untuk bersekolah.

2. Gejala fisik (somatik)

Anak-anak sering kali mengekspresikan beban mental melalui tubuh mereka, seperti:

  • Keluhan fisik tanpa penyebab medis: Sering mengeluh sakit perut atau sakit kepala, terutama saat harus pergi ke sekolah.
  • Perubahan pola tidur: Kesulitan tidur (insomnia) atau justru tidur terlalu banyak.
  • Perubahan nafsu makan: Penurunan atau peningkatan berat badan yang signifikan untuk usia mereka.

3. Perubahan perilaku dan sosial

  • Menarik diri: Menghindari teman sebaya dan lebih memilih menyendiri di kamar.
  • Penurunan prestasi akademik: Sulit berkonsentrasi di kelas, sering melamun, atau nilai-nilai yang tiba-tiba merosot.
  • Kehilangan energi: Terlihat lesu dan cepat lelah secara fisik meski tidak melakukan aktivitas berat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang