Kasus Bocah SD di Ngada Meninggal Dunia, Psikolog Soroti Beban Mental dan Kemiskinan pada Anak

psikolog, Kasus Bocah SD di Ngada Meninggal Dunia, Psikolog Soroti Beban Mental dan Kemiskinan pada Anak, Beban Perkembangan Sebelum Waktunya, Bahaya di Balik Sosok "Anak Penurut", Mengenal Gejala Psikosomatik sebagai Sinyal Darurat, Dampak Lingkungan Sekolah dan Perundungan, Kontak bantuan

Kasus kematian tragis YBR, seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar mengenai kondisi psikologis anak-anak yang tumbuh dalam jeratan kemiskinan ekstrem.

YBR dikenal sebagai anak yang memikul tanggung jawab besar di usia dini, mulai dari membantu neneknya mencari kayu bakar hingga menjadi tulang punggung emosional keluarga.

Kondisi ini memicu keprihatinan dari berbagai kalangan, termasuk pakar psikologi.

Beban Perkembangan Sebelum Waktunya

Fitriatul Masruroh, psikolog dari Lembaga Pelayanan Psikologi (LPP) EKSHAFIT Banyuwangi, menilai situasi yang dialami YBR sebagai beban perkembangan yang muncul sebelum waktunya.

Menurutnya, anak-anak seharusnya fokus pada pembentukan rasa aman dan kelekatan, bukan memikirkan keberlangsungan hidup.

"Ketika anak justru mengambil peran untuk menopang keberlangsungan hidup keluarga, terjadi pergeseran peran yang tidak sejalan dengan tahap perkembangannya," ujar Fitriatul saat dihubungi, Rabu (4/2/2026).

Fitriatul menjelaskan bahwa kemiskinan terus-menerus bukan sekadar masalah material, melainkan sumber stres kronis.

Sistem psikologis anak dipaksa berada dalam kondisi "siaga" untuk bertahan hidup, sehingga kapasitas mental yang seharusnya digunakan untuk bermain dan belajar justru terkuras oleh kecemasan masa depan.

Bahaya di Balik Sosok "Anak Penurut"

psikolog, Kasus Bocah SD di Ngada Meninggal Dunia, Psikolog Soroti Beban Mental dan Kemiskinan pada Anak, Beban Perkembangan Sebelum Waktunya, Bahaya di Balik Sosok "Anak Penurut", Mengenal Gejala Psikosomatik sebagai Sinyal Darurat, Dampak Lingkungan Sekolah dan Perundungan, Kontak bantuan

ilustrasi orangtua dan anak laki-laki.

Seringkali, anak yang rajin bekerja dan tidak mengeluh dipandang sebagai anak yang mandiri. Namun, dalam perspektif psikologi, hal ini bisa menjadi bom waktu.

"Anak belajar terlalu cepat bahwa ia harus berguna, kuat, dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Pola ini membentuk keyakinan bahwa harga dirinya diukur dari pengorbanan, bukan karena ia layak dirawat dan dilindungi," tegas Fitriatul.

Ia menambahkan, anak yang tampak "baik-baik saja" atau sangat penurut justru menyimpan risiko depresi yang lebih tinggi karena cenderung menekan emosinya.

Ketangguhan mereka sering kali hanyalah hasil adaptasi terhadap tekanan hidup, bukan kematangan emosi yang sehat.

Mengenal Gejala Psikosomatik sebagai Sinyal Darurat

Sebelum meninggal dunia, ibu korban menyebutkan bahwa YBR sempat mengeluh pusing dan enggan pergi ke sekolah. Fitriatul menyebut fenomena ini sebagai gejala psikosomatik.

"Keluhan fisik yang muncul berulang seperti sakit kepala, nyeri perut, mual, atau lemas, sering kali merupakan cara anak mengekspresikan tekanan emosional saat ia belum mampu mengungkapkannya secara verbal," jelasnya.

Orang tua dan wali diminta waspada terhadap perubahan perilaku tiba-tiba sebagai sinyal darurat tekanan batin, di antaranya:

  • Menarik diri secara sosial (menjadi pendiam dan kehilangan minat bermain).
  • Emosi tidak stabil (mudah marah atau justru tampak datar/tumpul).
  • Perubahan pola tidur dan makan yang drastis.
  • Ucapan bernuansa putus asa atau sering membahas kematian.

Dampak Lingkungan Sekolah dan Perundungan

Selain faktor ekonomi, lingkungan sekolah memegang peran krusial. Bagi anak dengan keterbatasan ekonomi seperti YBR, sekolah bisa menjadi tempat pembentukan harga diri atau justru sumber luka baru.

Munculnya potensi bullying (perundungan) atau rasa minder akibat perbedaan status sosial dapat memperparah kondisi mental anak.

"Anak berisiko memiliki rasa rendah diri dan tidak berharga, bahkan dapat memicu niatan menyakiti diri sendiri jika menghadapi stigma atau diskriminasi di sekolah," pungkas Fitriatul.

Pihak berwenang kini terus mendalami kasus kematian YBR di Ngada untuk memastikan apakah ada unsur kekerasan fisik atau murni akibat tekanan kondisi kesehatan yang diperburuk oleh faktor psikologis.

Kontak bantuan

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang