Siswa SD di NTT Diduga Akhiri Hidup, Psikolog Soroti Dampak "Fatherless" dan Luka Emosional

Siswa SD di NTT Diduga Akhiri Hidup, Psikolog Soroti Dampak

 Dampak fatherless sering kali muncul secara terselubung melalui kemarahan atau sikap defensif anak.

Tragedi memilukan ini diduga kuat dipicu oleh tekanan ekonomi yang menghimpit keluarga korban.

YBR dikabarkan nekat mengambil langkah ekstrem tersebut karena keinginannya untuk membeli buku tulis dan pena seharga Rp 10.000 tidak terpenuhi oleh ibunya.

Pagi hari sebelum ditemukan meninggal, YBR sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Namun sang ibu meminta YBR tetap ke sekolah dengan menggunakan jasa ojek.

YBR ditemukan warga pada siang hari dalam kondisi masih mengenakan seragam olahraga berwarna merah.

Di lokasi kejadian, ditemukan sepucuk surat dalam bahasa daerah (bahasa Bajawa) yang ditujukan untuk ibunya. Surat tersebut menyiratkan kekecewaan mendalam sang anak yang salah satunya karena tak bisa membeli alat tulis.

Selama ini YBR banyak menghabiskan waktu bersama sang nenek dan keluarga mereka masuk kategori miskin.

Fenomena Fatherless dan Kerentanan Mental

Salah satu fakta yang mencuat dalam kasus ini adalah kondisi ayah korban yang telah merantau selama 12 tahun.

Dalam psikologi, fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah, baik secara fisik maupun emosional, merupakan faktor risiko psikososial yang signifikan.

Psikolog dan founder Lembaga Pelayanan Psikologi (LPP) EKSHAFIT Banyuwangi, Fitriatul Masruro menjelaskan bahwa bagi anak laki-laki, sosok ayah berfungsi sebagai figur pengatur emosi eksternal.

Melalui relasi dengan ayah, anak belajar mengelola impuls, menghadapi frustrasi, dan membangun rasa aman.

"Anak laki-laki yang tumbuh tanpa figur ayah berpotensi mengalami berbagai kerentanan, seperti melemahnya rasa aman secara psikologis, munculnya perasaan tidak berharga, serta hambatan dalam pengembangan kontrol diri," jelasnya.

Namun, ia menekankan bahwa dampak fatherless tidak selalu berujung pada hal negatif jika anak mendapatkan figur pengganti yang suportif, seperti kakek, paman, atau mentor.

Dalam kasus YBR, ketiadaan figur ayah yang dibarengi dengan tekanan ekonomi menciptakan beban emosional yang sangat berat.

Mengapa Anak 10 Tahun Memikirkan Kematian?

Siswa SD di NTT Diduga Akhiri Hidup, Psikolog Soroti Dampak

Ilustrasi anak menangis. ? Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Seorang siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di sebuah pohon cengkeh di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026). Tragedi memilukan ini diduga kuat dipicu oleh tekanan ekonomi yang menghimpit keluarga korban.

Fitriatul yang juga menjadi di dosen Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi tersebut juga memberikan pandangan mendalam terkait fenomena anak 10 tahun yang diduga mengakhiri hidup.

Menurutnya, pemikiran untuk mengakhiri hidup pada anak usia 10 tahun bukanlah manifestasi keinginan untuk mati layaknya orang dewasa.

"Pikiran tersebut muncul sebagai manifestasi keputusasaan emosional yang mendalam. Pada tahap perkembangan ini, anak umumnya belum memiliki kematangan kognitif untuk memahami konsekuensi kematian secara menyeluruh," ujar Fitriatul saat dihubungi.

Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut sering kali menjadi upaya terakhir anak untuk menghentikan penderitaan emosional yang dirasakannya.

Hal ini bisa dipicu oleh rasa tidak berdaya, keterbatasan regulasi emosi, hingga tuntutan lingkungan yang melampaui kapasitas mereka.

Ia menekankan, tragedi YBR menjadi pengingat keras bagi masyarakat Indonesia mengenai pentingnya kehadiran orang tua secara utuh. Karena dampak fatherless sering kali muncul secara terselubung melalui kemarahan atau sikap defensif anak.

Intervensi psikologis dan pendampingan yang tepat sangat diperlukan untuk membantu anak-anak yang kehilangan peran ayah agar mereka tetap merasa didukung secara emosional.

Pada akhirnya, yang paling menentukan dalam tumbuh kembang anak bukan hanya siapa yang tidak hadir, melainkan siapa yang hadir secara konsisten dan bermakna dalam hidup mereka

Kontak bantuan

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang