Kasus Kematian Bocah SD di Ngada, Kenali Tanda Darurat Tekanan Batin pada Anak

psikolog, Kasus Kematian Bocah SD di Ngada, Kenali Tanda Darurat Tekanan Batin pada Anak, Psikosomatik: Saat Tubuh "Berbicara" Menggantikan Kata-Kata, Sinyal Darurat yang Harus Diwaspadai, Sekolah sebagai "Jaring Pengaman", Komunikasi Terbuka di Tengah Keterbatasan, Kontak bantuan

Kasus kematian tragis YBR, seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar mengenai kondisi psikologis anak-anak di daerah pelosok.

Sebelum ditemukan meninggal dunia, YBR dilaporkan sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. 

Keluhan fisik ini, dalam kacamata psikologi, bukanlah sekadar gangguan kesehatan biasa, melainkan sinyal darurat yang sering kali terabaikan oleh orang tua dan lingkungan sekitar.

Psikosomatik: Saat Tubuh "Berbicara" Menggantikan Kata-Kata

Fitriatul Masruroh, psikolog dari Lembaga Pelayanan Psikologi (LPP) EKSHAFIT Banyuwangi, menjelaskan bahwa keluhan fisik berulang seperti pusing, sakit perut, atau mual pada anak merupakan manifestasi dari tekanan emosional.

"Dalam psikologi anak, ini dikenal sebagai gejala psikosomatik. Ini adalah cara anak mengekspresikan tekanan emosional saat ia belum mampu mengungkapkan rasa sedih atau putus asa secara verbal," ujar Fitriatul kepada Kompas.com, Rabu (4/2/2026).

Meskipun tidak semua keluhan fisik berarti depresi berat, Fitriatul menegaskan bahwa sinyal distress psikologis ini harus ditanggapi serius, terutama jika muncul berulang dan berkaitan dengan perubahan emosional yang signifikan.

Banyak pihak mengenal YBR sebagai sosok yang sangat pendiam dan penurut. Namun, predikat "anak baik" ini justru bisa menjadi bumerang.

Menurut Fitriatul, anak yang tampak tenang dan tidak banyak menuntut justru menyimpan risiko depresi yang lebih tersembunyi.

"Anak yang terlihat 'baik-baik saja' sering kali memendam beban sendirian agar tidak merepotkan orang tua. Risikonya justru lebih tinggi karena gejala depresinya tidak ekspresif atau meledak-ledak seperti anak lainnya," jelasnya.

Sinyal Darurat yang Harus Diwaspadai

Ia menjelaskan, orang tua dan wali murid diminta untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Beberapa tanda darurat tekanan batin hebat meliputi:

  • Menarik diri secara sosial: Menjadi pendiam dan kehilangan minat bermain.
  • Emosi tidak stabil: Mudah marah, sering menangis, atau justru tampak datar (tumpul).
  • Perubahan pola hidup: Sulit tidur, mimpi buruk, atau nafsu makan yang berubah drastis.
  • Ucapan putus asa: Sering membahas kematian atau merasa diri tidak berharga.
  • Penurunan fungsi harian: Sulit fokus dan prestasi sekolah menurun drastis.

Sekolah sebagai "Jaring Pengaman"

psikolog, Kasus Kematian Bocah SD di Ngada, Kenali Tanda Darurat Tekanan Batin pada Anak, Psikosomatik: Saat Tubuh "Berbicara" Menggantikan Kata-Kata, Sinyal Darurat yang Harus Diwaspadai, Sekolah sebagai "Jaring Pengaman", Komunikasi Terbuka di Tengah Keterbatasan, Kontak bantuan

Ilustrasi anak menangis. Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Seorang siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di sebuah pohon cengkeh di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026). Tragedi memilukan ini diduga kuat dipicu oleh tekanan ekonomi yang menghimpit keluarga korban.

Fitriatul menekankan bahwa pencegahan kasus serupa tidak bisa hanya dibebankan pada individu.

Sekolah dan lingkungan harus menjadi "jaring pengaman" bagi anak-anak rentan, terutama yang hidup dalam keterbatasan ekonomi atau kehilangan figur pengasuh.

"Bunuh diri pada anak bukan kegagalan satu individu, melainkan tanda bahwa sistem di sekitarnya belum cukup kuat menahan beban yang ia pikul. Jaring pengaman yang efektif adalah sistem yang melihat lebih cepat, merespons lebih hangat, dan mendampingi lebih lama," tegas Fitriatul.

Komunikasi Terbuka di Tengah Keterbatasan

Bagi orang tua tunggal (single parent) yang hidup dalam keterbatasan, membangun komunikasi terbuka adalah kunci. Fitriatul menyarankan agar orang tua fokus menciptakan rasa aman secara emosional, bukan sekadar memberi nasihat atau solusi.

"Anak mau berbagi beban emosional bukan karena hidupnya ringan, tetapi karena ia percaya bahwa orang tuanya adalah tempat aman. Komunikasi yang hangat dan penuh empati adalah kekuatan utama melindungi kesehatan mental anak," tambahnya.

Terkait stigma kesehatan jiwa di daerah pelosok yang masih dianggap tabu, Fitriatul menyarankan pendekatan empati.

Edukasi tidak boleh bersifat konfrontatif atau memberi label "sakit jiwa", melainkan ditekankan sebagai upaya saling menjaga dan memahami emosi anggota keluarga.

Kontak bantuan

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang