Melihat Kondisi Keluarga Siswa SD yang Tewas di NTT, Hidup dalam Kemiskinan Ekstrem, Tak Dapat Bantuan

Dunia pendidikan Indonesia berduka. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia di sebuah pohon cengkeh di Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/1/2026).
Tragedi memilukan ini diduga dipicu oleh tekanan ekonomi. YBR dikabarkan nekat mengakhiri hidup karena keinginannya membeli buku dan pena seharga Rp 10.000 tidak terpenuhi.
Kronologi dan Surat Terakhir untuk Sang Ibu
Ibu kandung korban, MGT (47), menceritakan pertemuan terakhirnya dengan sang anak. Pada pagi hari sebelum kejadian, YBR sempat mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah.
Namun, karena khawatir anaknya tertinggal pelajaran, MGT tetap meminta YBR berangkat menggunakan jasa ojek.
"Saya kaget ada kabar dari tetangga (YBR meninggal), saya pikir dia pergi sekolah," ungkap MGT saat dijumpai di rumah duka, Selasa (3/2/2026).
Saat ditemukan warga pada siang hari, YBR masih mengenakan seragam olahraga berwarna merah.
Di lokasi kejadian, ditemukan sepucuk surat dalam bahasa daerah (bahasa Bajawa) yang ditujukan untuk ibunya.
Berikut adalah petikan isi surat pilu tersebut:
"Kertas ti'i Mama Reti. Mama galo ze'e. Mama molo, galo ja'o mata, Mama ma'e rita ee Mama..."
(Terjemahan: Kertas untuk Mama Reti. Mama terlalu kikir (pelit). Mama baik sudah, saya kalau mati jangan sampai menangis ee Mama. Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. Baik sudah Mama.)
Hidup dalam Kemiskinan Ekstrem
Ilustrasi miskin dan kaya
YBR merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang hidup dalam kondisi ekonomi memprihatinkan. Sejak usia 1 tahun 7 bulan, ia diasuh oleh neneknya di sebuah pondok bambu sederhana.Ayahnya telah merantau ke Kalimantan selama 12 tahun tanpa pernah memberi kabar atau pulang.
Sehari-hari, YBR membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk makan, mereka hanya mengandalkan hasil kebun seadanya.
Ironisnya, keluarga ini dilaporkan luput dari berbagai skema bantuan pemerintah, mulai dari bantuan rumah layak huni hingga bantuan sosial lainnya.
Pihak Kepolisian Resor (Polres) Ngada menyatakan bahwa dugaan awal mengarah pada tindakan bunuh diri.
"Proses penyelidikan masih berlangsung. Kami telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti berupa pesan tertulis," ujar pihak kepolisian.
Tamparan bagi Dunia Pendidikan dan Komisi X DPR RI
Kasus ini menyita perhatian nasional. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyebut peristiwa di Ngada sebagai tragedi yang tidak bisa diterima akal sehat, terlebih terjadi di tengah anggaran pendidikan negara yang besar.
"Tragedi yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun. Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena," tegas Hetifah, Rabu (4/2/2026).
Hetifah mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem pendidikan dan perlindungan sosial. Ia menekankan bahwa konsep "sekolah gratis" harus benar-benar mencakup perlengkapan belajar, bukan sekadar uang gedung.
"Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin," pungkas politisi Partai Golkar tersebut.
Sebagai bentuk empati, Pemerintah Desa Naruwolo melalui Kepala Desa Dion Roa telah menyerahkan santunan dan bantuan kepada keluarga korban pada Jumat (30/1/2026).
Kontak bantuan
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Bocah SD di Ngada NTT Akhiri Hidup di Pohon Cengkeh, Korban Sehari-hari Bantu Nenek Jual Sayur
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang