Sering Dianggap Wajar, Ini Deretan Perilaku Toksik Orangtua pada Anak
Sangat wajar jika orangtua melakukan kesalahan. Namun, ada berbagai kebiasaan beracun yang wajib segera dihentikan karena jika terus berulang berpotensi memicu ketakutan, kecemasan, hingga trauma jangka panjang pada anak.
"Ketidakdewasaan emosional orangtua, kebutuhan untuk mengontrol, atau ketidakmampuan untuk mengatur emosi mereka sendiri, secara konsisten membahayakan rasa aman dan harga diri anak mereka," jelas Psikolog Klinis Cynthia Edwards-Hawver, PsyD, mengutip Parents, Rabu (10/6/2026).
Lantas, apa saja perilaku toksik orangtua yang berdampak buruk bagi anak?
Deretan perilaku toksik orangtua yang perlu diwaspadai
1. Memaksakan kehendak pada jalan hidup anak
Konselor Klinis Profesional Terdaftar Dawn Friedman mengungkap, sifat toksik yang sering ia jumpai dalam sebuah keluarga adalah orangtua tidak memahami bahwa anak memiliki jalan dan tujuan hidupnya sendiri.
Oleh karena itu, biarkan anak membuat kesalahan sendiri agar lebih mandiri dan lepaskan kendali atas pilihan ekstrakurikuler mereka.
2. Melibatkan anak dalam konflik orangtua
Terapis di Gateway to Solutions, Danielle Dellaquila menjelaskan, pemaksaan ini umum terjadi akibat perceraian atau rumah tangga yang penuh konflik.
"Orangtua perlu menghindari pelibatan anak-anak dalam konflik atau masalah mereka, karena melibatkan anak dapat menyebabkan banyak kecemasan dan rasa bersalah yang tidak perlu bagi si kecil," tutur dia.
3. Terlalu mengekang
Pengekangan ketat seperti helicopter parenting justru menghasilkan anak yang suka memberontak.
"Orangtua tipe ini ingin tahu setiap detail dari apa yang terjadi, mencoba mendikte apa yang akan dilakukan anak mereka dengan masa depannya, atau terlalu memantau anak mereka," jelas Dellaquila.
Menurut dia, perilaku ayah dan ibu yang seperti ini, biasanya bermula dari kecemasan atau ketidakamanan orangtua itu sendiri.
Padahal, terlalu mengekang anak memiliki efek sebaliknya. Alih-alih membuat si kecil merasa aman, ini malah membuat anak menjauh atau menyembunyikan sesuatu dari orangtua.
4. Manipulasi emosi melalui rasa bersalah
Ilustrasi anak murung.
Psikolog Klinis di Thriving Center of Psychology, Tirrell De Gannes, PsyD, mengungkapkan bahwa memanfaatkan rasa bersalah anak adalah perilaku toksik yang cukup sering dilakukan oleh orangtua.
Orangtua mungkin merasa sedang membimbing, padahal sebenarnya sedang memanipulasi anak agar patuh tanpa mengajarkan keterampilan hidup.
"Membuat anak merasa bersalah untuk mencegah mereka membuat keputusan yang tidak kamu setujui menyebabkan anak-anak merasa tidak mampu membuat keputusan sendiri," tutur De Gannes.
Hal ini juga bisa menyebabkan anak lebih suka membuat keputusan secara rahasia, sehingga membuat bantuan dan intervensi tidak mungkin diterima, meskipun mereka sangat membutuhkannya.
5. Ketidakmampuan mengelola emosi diri
Orangtua yang meledak-ledak, mendiamkan, atau menarik diri membuat anak ketakutan. Menurut Edwards-Hawver, anak-anak membutuhkan konsistensi emosional untuk merasa aman dan mengembangkan keterampilan mengatasi masalah yang sehat.
6. Mengabaikan batasan yang sehat
Ketidakmampuan orangtua dalam menetapkan batasan yang sehat dapat berakibat buruk bagi perkembangan anak.
Ketika orangtua cenderung terlalu banyak membagikan masalah pribadi yang tidak pantas, terlibat terlalu dalam pada urusan anak, hingga mengabaikan privasi, hal tersebut justru membuat anak menjadi pribadi yang sangat bergantung dan kurang cakap.
Akibatnya, anak mungkin merasa enggan untuk menjalin komunikasi atau kedekatan dengan orangtua karena merasa ruang pribadinya tidak dihargai.
7. Menjadikan anak sebagai sasaran amarah
Sikap orangtua yang terus-menerus menyalahkan anak atas dampak perilaku mereka terhadap lingkungan sosial sering kali merendahkan kepribadian anak secara mendalam.
Perlakuan ini membuat anak merasa bahwa keberadaan mereka di sekitar orang lain selalu membawa suasana buruk atau beban yang tidak diinginkan.
Jika dibiarkan, anak cenderung menginternalisasi perasaan tersebut hingga percaya bahwa mereka adalah sumber masalah bagi siapa pun di sekitarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang