Top 7+ Kalimat yang Sering Diucapkan Orangtua, Ternyata Bisa Memicu Kecemasan pada Anak
Banyak orangtua, guru, atau pengasuh mungkin pernah berkata, "Jangan khawatir" atau "Kamu baik-baik saja" saat melihat anak merasa takut, sedih, atau cemas.
kalimat tersebut biasanya diucapkan dengan niat baik untuk menenangkan anak. Namun, menurut neuropsikolog anak Dr. William Cheung Tsang, Psy.D., dampaknya tidak selalu sesuai dengan maksud yang diinginkan.
Melansir Parade (8/6/2026), Tsang menjelaskan bahwa beberapa kalimat yang terdengar menenangkan justru bisa membuat anak merasa tidak dipahami, meragukan perasaannya sendiri, atau bahkan semakin cemas.
"Tujuannya hampir selalu karena kasih sayang," kata Tsang.
"Yang penting dipahami adalah mengapa kata-kata yang dimaksudkan untuk memberi kenyamanan justru dapat meningkatkan kecemasan anak. Dampak tidak selalu sama dengan niat," ujarnya.
7 kalimat yang meningkatkan kecemasan pada anak
Berikut tujuh kalimat yang menurut Tsang sebaiknya dihindari karena berpotensi memicu kecemasan pada anak.
1. "Jangan khawatir"
Kalimat ini sering digunakan untuk menenangkan anak yang sedang takut atau cemas. Namun menurut Tsang, ucapan tersebut bisa membuat anak merasa emosinya tidak valid.
"Mengatakan kepada anak untuk tidak khawatir dapat membuat perasaannya terasa diabaikan, seolah emosi yang mereka rasakan salah atau tidak pantas," jelas Tsang.
Akibatnya, anak bisa belajar menekan emosinya alih-alih memahami dan mengelolanya.
2. "Kamu baik-baik saja"
Banyak orang dewasa mengucapkan kalimat ini ketika menganggap situasi yang dialami anak tidak berbahaya. Masalahnya, anak mungkin sedang benar-benar merasa takut atau tertekan.
"Bagi anak yang sedang mengalami tekanan emosional, diberi tahu bahwa mereka baik-baik saja bisa terasa membingungkan dan membuat mereka merasa sendirian," kata Tsang.
3. "Itu bukan masalah besar"
Ilustrasi orangtua dan anak. Banyak orangtua mengucapkannya setiap hari untuk menenangkan anak, padahal beberapa kalimat ini justru bisa membuat anak makin cemas.
Orangtua biasanya mengatakan hal ini untuk membantu anak melihat masalah dari sudut pandang yang lebih ringan. Namun, sesuatu yang tampak sepele bagi orang dewasa bisa terasa sangat besar bagi anak.
"Apa yang terlihat kecil bagi orang dewasa bisa terasa sangat penting bagi anak," ujar Tsang.
Kalimat ini berisiko membuat anak merasa emosinya diremehkan dan enggan bercerita lagi di kemudian hari.
4. "Jangan menangis"
Menangis adalah respons alami ketika seseorang merasa takut, kewalahan, atau sedih.
Menurut Tsang, meminta anak berhenti menangis justru mengirim pesan bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan.
"Menangis adalah respons alami saat seseorang merasa kewalahan. Menekan ekspresi ini dapat menyebabkan penumpukan kecemasan dan stres," katanya.
5. "Biar saya yang mengerjakannya"
Kalimat ini sering muncul ketika orang dewasa ingin membantu anak yang sedang kesulitan.
Meski terlihat membantu, Tsang mengatakan kebiasaan mengambil alih tugas anak bisa berdampak negatif dalam jangka panjang.
"Dengan mengambil alih, orang dewasa tanpa sadar menyampaikan pesan bahwa anak tidak mampu menghadapi situasi tersebut sendiri," jelasnya.
Hal ini dapat mengurangi rasa percaya diri sekaligus menghambat kemampuan anak memecahkan masalah.
6. "Lihat, ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
Kalimat ini biasanya diucapkan setelah sesuatu yang ditakuti anak ternyata berjalan baik-baik saja.
Meski terdengar positif, Tsang menilai ucapan tersebut dapat membuat kecemasan yang sebelumnya dirasakan anak terasa tidak dihargai.
"Kalimat ini bisa terdengar meremehkan dan mengabaikan kecemasan yang benar-benar dirasakan anak sebelumnya," kata dia.
7. "Kamu bikin aku pusing"
Saat orangtua sedang frustrasi, kalimat seperti ini mungkin keluar tanpa disadari. Namun bagi anak, ucapan tersebut bisa memunculkan rasa bersalah dan ketakutan.
"Kalimat ini memberi sinyal kemarahan dan ketidaksabaran orang dewasa, yang dapat terasa menakutkan bagi anak," ujar Tsang.
Menurut dia, anak bahkan bisa mulai merasa dirinya adalah sumber masalah dan menjadi takut melakukan kesalahan.
Kalimat apa yang sebaiknya diucapkan?
Alih-alih menolak atau meremehkan emosi anak, Tsang menyarankan orang dewasa menunjukkan empati dan dukungan.
Salah satu contoh kalimat yang direkomendasikan adalah, "Aku tahu kamu takut, dan aku ada di sini untuk membantu."
Menurut Tsang, pendekatan seperti ini membuat anak merasa dipahami sekaligus memberi ruang untuk membicarakan apa yang sedang mereka rasakan.
"Aku tahu kamu bisa menghadapi ini, dan kita bisa mencari cara bersama agar terasa lebih mudah," kata Tsang sebagai contoh kalimat lain yang dapat membantu anak membangun kepercayaan diri.
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya merasa didengar, tetapi juga belajar bahwa rasa cemas adalah sesuatu yang bisa dikelola, bukan disembunyikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang