Kenapa Anak Remaja Sering Ngegas Saat Ditegur Orangtua? Ini Penjelasan Psikolog
Punya anak remaja yang sulit diajak bicara? Ketika orangtua menegur sedikit, anak langsung ngegas, nada bicaranya tinggi, ekspresinya seolah sedang marah, padahal buah hati sedang "ngomong" biasa.
Fenomena ini, menurut psikolog anak dan play therapy, Anastasia Satriyo, M.Psi, bukan selalu tanda kurang ajar, tapi bagian dari perubahan biologis yang terjadi pada masa remaja awal.
"Jadi kalau itu mirip kayak di film Inside Out, pada saat teenager (remaja) awal itu lagi ada perubahan hormon di otak mereka," kata Anastasia dalam peluncuran Lexus edisi spesial BT21, di Jakarta, Jumat (10/10/2025).
Remaja sering kali tidak sadar bahwa nada suaranya terdengar tinggi atau ketus bagi orangtua. Mereka hanya bereaksi spontan terhadap emosi yang muncul, sedangkan bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi belum sepenuhnya matang.
"Mereka sendiri kalau ditanya, 'Aku juga kaget kenapa aku se-ngegas itu ngomongnya'. Jadi itu lebih karena isu biologis, karena perubahan hormon," tambahnya.
Anak ngegas tidak selalu kurang ajar, tapi...
Anak remaja sering ngegas saat diajak bicara? Psikolog menjelaskan bahwa perubahan hormon dan emosi jadi penyebabnya, bukan karena kurang ajar.
Menurut Anastasia, banyak remaja awal yang masih kebingungan dengan emosinya sendiri. Mereka sering tidak bisa menamai perasaan yang muncul sehingga cara bereaksi pun tampak seperti meledak-ledak.
"Anak remaja tuh juga nggak aware (sadar) sama emosinya kan. Kayak, 'Oh yaudah kesel aja'. Jadi kalau anak remajanya mulai ngegas, kayak, 'Oh yaudah hari ini aku kelepasan, tapi besok aku bisa coba lagi," jelasnya.
Oleh sebab itu, yang dibutuhkan orangtua bukan reaksi marah, tapi pemahaman bahwa anak sedang berada dalam masa adaptasi emosi.
Dengan cara ini, orangtua dapat membantu remaja memahami dan mengatur emosinya sedikit demi sedikit.
Saat emosi orangtua tersulut, inner teenager ikut bangun
Anak remaja sering ngegas saat diajak bicara? Psikolog menjelaskan bahwa perubahan hormon dan emosi jadi penyebabnya, bukan karena kurang ajar.
Masalahnya, kata Anastasia, banyak juga orangtua yang ikut terpancing ketika anak berbicara dengan nada tinggi.
Hal ini sering terjadi karena "inner teenager" atau remaja batin dalam diri orangtua ikut terpicu oleh pengalaman masa kecil dulu.
"Kadang-kadang kan orangtuanya jadi bereaksi juga, inner teenager kita ke-trigger (kepicu) karena dulu kita dimarahi orangtua, jadi makin rungsing di masa-masa itu," ucapnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa menghadapi remaja memang sebuah tantangan dan tidak mudah.
Orangtua perlu berlatih untuk tetap tenang sebelum menegur. Sebab, jika sama-sama bereaksi dengan nada tinggi, konfik hanya akan berulang setiap hari.
"Gimana mau ngajarin remaja enggak reaktif, kalau kita juga reaktif. Jadi benar-benar sama remaja itu, harus walk the talk (berbicara sesuai tindakan) gitu," tuturnya.
Cara hadapi anak ngegas
Anak remaja sering ngegas saat diajak bicara? Psikolog menjelaskan bahwa perubahan hormon dan emosi jadi penyebabnya, bukan karena kurang ajar.
Menurut Anastasia, yang paling penting bagi orangtua adalah belajar meregulasi diri sebelum merespons anak.
Ia menekankan pentingnya latihan sederhana untuk menenangkan sistem saraf, seperti pernapasan dan berjalan kaki, sebelum berbicara dengan si anak.
"Jadi makin ke sini aku makin melihat penting banget latihan meregulasi sistem saraf, sesederhana latihan napas sama jalan kaki. Jadi kitanya napas dulu," terang Anastasia.
Apabila nada suara anak terdengar mulai meninggi, Anastasia menyarankan agar orangtua menanggapi dengan kalimat yang penuh empati.
"Kita bisa bilang, 'Mama ngerasa tersinggung nih pas kamu nada suaranya gede, tapi mama tahu ini karena kamu lagi masuk masa remaja awal ya, yang kamu juga bingung sama emosi kamu sendiri'," tutur Anastasia.
"Jadi nada suara yang kita pakai tuh menyampaikan, I understand you (aku paham sama kamu), bukan, 'Kamu kurang ajar banget sih'," tambahnya.
Parenting adalah tentang orangtua yang mau belajar
Tidak ada remaja yang selalu tenang, dan tidak ada orangtua yang selalu sabar. Namun, yang membedakan adalah kesediaan orangtua untuk terus belajar menjadi lebih sadar terhadap reaksi diri sendiri.
"Kenapa namanya parenting (pengasuhan orangtua), bukan childing (pengasuhan anak), karena kuncinya ada di orangtuanya. Yang mesti kerja keras tuh kita," kata Anastasia.
Menjadi orangtua yang tenang dan sadar diri adalah bentuk kematangan emosional. Dengan begitu, anak remaja pun belajar bahwa marah boleh, tapi cara menyampaikannya bisa lebih sehat.
"Aku juga bikin kalimat kayak, 'Kamu enggak perlu sempurna, cukup sabar memperbaiki diri setiap hari'," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.