Anak Perempuan Pertama Sering Tak Bahagia, Pakar Keluarga Ungkap Penyebab Utamanya

anak perempuan pertama, Anak Perempuan Pertama Sering Tak Bahagia, Pakar Keluarga Ungkap Penyebab Utamanya, Anak Sulung Sering Jadi “Orangtua Kedua”, Tekanan untuk Selalu Sempurna, Pengaruh Ekspektasi Sosial terhadap Perempuan, Dampaknya terhadap Kebahagiaan, Cara Mengurangi Beban Tanggung Jawab, Pentingnya Bersikap Lebih Lembut pada Diri Sendiri

Rasa tanggung jawab yang berlebihan disebut menjadi salah satu faktor utama yang dapat mengganggu kebahagiaan anak perempuan pertama.

Selama ini, anak perempuan sulung kerap dikenal sebagai sosok yang paling bertanggung jawab dalam keluarga. Mereka sering diasosiasikan dengan sifat mandiri, perfeksionis, dan selalu bisa diandalkan dalam berbagai situasi.

“Anak perempuan sulung sering merasa terlalu bertanggung jawab terhadap keluarganya, bahkan hingga membawa beban tersebut ke dalam hubungan lain dan kehidupan sehari-hari,” ujar terapis pernikahan dan keluarga, Natalie Moore, dikutip dari HuffPost, Senin (30/3/2026).

Rasa tanggung jawab ini tidak hanya terbatas pada hal-hal besar, tetapi juga mencakup berbagai tugas kecil yang kerap tidak terlihat, seperti mengingat kebutuhan keluarga hingga memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat seseorang sulit untuk melepaskan kontrol dan menikmati hidup.

Anak Sulung Sering Jadi “Orangtua Kedua”

Terapis Danica Harris menjelaskan bahwa anak perempuan sulung sering kali mengambil peran layaknya “orangtua kedua” dalam keluarga.

Peran ini bisa muncul secara langsung maupun terbentuk secara tidak sadar dalam dinamika keluarga.

Dalam keluarga dengan beberapa anak, anak perempuan pertama kerap diminta membantu mengurus adik atau menjaga situasi tetap kondusif.

Akibatnya, mereka tumbuh dengan perasaan harus selalu kuat dan tidak boleh merepotkan orang lain.

Bahkan, tidak jarang mereka merasa tidak memiliki ruang untuk meminta bantuan.

Tekanan untuk Selalu Sempurna

Selain tanggung jawab, anak perempuan sulung juga kerap dibebani ekspektasi untuk selalu menjadi contoh yang baik.

Mereka sering dianggap sebagai anak yang “tidak perlu dikhawatirkan” sehingga merasa tidak memiliki ruang untuk melakukan kesalahan.

Kondisi ini dapat memicu perfeksionisme dan kecenderungan untuk mengkritik diri sendiri secara berlebihan.

Menurut Harris, tekanan tersebut membuat banyak anak sulung merasa harus selalu memenuhi standar tinggi, bahkan sejak usia dini.

Jika terjadi terus-menerus, hal ini dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti stres, kelelahan emosional, hingga kecemasan.

Pengaruh Ekspektasi Sosial terhadap Perempuan

Tekanan ini juga diperkuat oleh ekspektasi sosial terhadap perempuan.

Moore menjelaskan bahwa perempuan sering diharapkan untuk lebih peka secara emosional serta mengambil peran sebagai pengasuh dalam keluarga.

Ketika dikombinasikan dengan posisi sebagai anak sulung, beban tersebut menjadi berlipat ganda.

Akibatnya, anak perempuan sulung tidak hanya memikul tanggung jawab sebagai anak tertua, tetapi juga sebagai sosok yang diharapkan selalu mengurus orang lain.

“Kita cenderung mengharapkan anak perempuan dan wanita untuk lebih peka secara emosional dan mengambil peran sebagai pengasuh,” jelas Moore.

Dampaknya terhadap Kebahagiaan

Rasa tanggung jawab yang berlebihan dapat membuat seseorang lebih mudah merasa kewalahan.

Ketika terus-menerus merasa harus mengatur segala hal, seseorang bisa mengalami kelelahan (burnout), stres, hingga penurunan kualitas hidup.

Moore menyebut bahwa mengambil tanggung jawab melebihi kapasitas dapat meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.

Selain itu, perasaan bersalah juga kerap muncul ketika mereka tidak mampu memenuhi ekspektasi yang telah dibangun sendiri.

Hal inilah yang pada akhirnya dapat mengganggu kebahagiaan dalam jangka panjang.

Cara Mengurangi Beban Tanggung Jawab

Para ahli menekankan bahwa langkah pertama untuk mengatasi kondisi ini adalah menyadari pola yang terbentuk sejak kecil.

Dengan memahami asal-usul peran tersebut, seseorang dapat mulai mengevaluasi apakah peran itu masih relevan dalam kehidupannya saat ini.

Selain itu, penting untuk mulai menetapkan batasan (boundaries) dalam hubungan, baik dengan keluarga maupun lingkungan sosial.

Seseorang tetap dapat membantu orang lain, tetapi tidak harus mengambil semua tanggung jawab sendirian.

Pentingnya Bersikap Lebih Lembut pada Diri Sendiri

Harris juga menekankan pentingnya self-compassion atau sikap welas asih terhadap diri sendiri.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mencoba melakukan hal-hal yang mungkin terlewat di masa kecil karena terlalu banyak tanggung jawab.

Selain itu, memberi ruang untuk beristirahat, tidak menyalahkan diri saat melakukan kesalahan, serta mencari dukungan dari orang lain juga dapat membantu.

Menurut Harris, ketika seseorang mulai bersikap lebih ramah terhadap diri sendiri, kualitas hidup secara keseluruhan dapat meningkat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang