Sejarah Pit Hitam, Asisten Sinterklas yang Sering Memasukkan Anak Nakal dalam Karung

Pit Hitam, Pit Hitam adalah, Sinterklas, Natal, Sejarah Pit Hitam, Asisten Sinterklas yang Sering Memasukkan Anak Nakal dalam Karung

Saat Natal tiba, selain sosok Sinterklas, ada pula sosok Pit Hitam yang sering hadir di perayaan-perayaan modern.

Zwarte Piet sering disebut Black Pete dalam bahasa Inggris. Sedangkan di Indonesia, tokoh yang dinantikan sekaligus ditakuti anak-anak ini disebut Pit Hitam.

Pit Hitam adalah tokoh dalam folklor Belanda yang menjadi pendamping Sinterklas (Saint Nicholas), dilansir dari Ensiklopedia Britania.

Ia digambarkan sebagai asisten yang membantu membagikan permen dan hadiah kepada anak-anak yang berkelakuan baik selama perayaan Sinterklas setiap tahunnya.

Karakter ini biasanya digambarkan mengenakan kostum warna-warni bergaya Renaissance, dengan wajah yang dicat hitam, rambut keriting, bibir merah, dan anting emas.

Asal-usul Pit Hitam

Sejarah karakter ini bermula pada abad ke-19 ketika seorang guru sekolah dari Amsterdam, Jan Schenkman, memperkenalkan sosok pendamping Sinterklas dalam bukunya Sint Nikolaas en zijn Knecht (1850).

Dalam buku tersebut, asisten Sinterklas digambarkan sebagai seorang pelayan berkulit gelap yang berasal dari Spanyol, yang kemudian berkembang menjadi karakter Zwarte Piet dalam cerita dan parade Belanda.

Asal-usulnya sendiri masih diperdebatkan hingga kini. Ada yang melihatnya sebagai representasi Moor (orang Afrika Utara/Spanyol), sementara yang lain menyebutkan pengaruh tradisi hitam karena jelaga dari cerobong, tempat Sinterklas masuk ke rumah-rumah di malam Natal.

Sedangkan dikutip dari Al Jazeera (29/11/2019), Pit Hitam kerap dijumpai dalam tradisi menjelang Natal di Belanda ratusan tahun lalu.

Pit Hitam diyakini datang dari Spanyol dengan naik kapal uap dan membawa karung berisi mainan.

Ketika karungnya kosong, Pit Hitam disebut bakal mengisinya dengan anak-anak nakal yang akan dibawa pulang ke Spanyol.

Karena inilah, selain ditunggu, Pit Hitam juga ditakuti.

Nama Zwarte Piet kemudian muncul di media cetak untuk pertama kalinya pada 1891 dalam buku anak-anak berjudul Het feest van Sint-Nicolaas atau Pesta Saint Nicholas.

Pada era tersebut, Belanda masih terlibat erat dalam perdagangan budak dan baru menghapusnya pada 1863.

Sejarawan Lise Koning telah menulis tentang hubungan antara Zwarte Piet dan pertunjukan penyanyi berwajah hitam yang diciptakan di Amerika pada 1800-an.

Dalam versi lain, ada yang menghubungkan Pit Hitam dengan narasi tradisional dari abad pertengahan.

Mereka percaya, kedatangan Santo Nikolas sering kali dipasangkan dengan pelayan gelap yang mewakili iblis atau karakter jahat.

Perubahan Pit Hitam

Walaupun banyak dijumpai di beberapa negara, Pit Hitam sering dianggap sebagai sosok yang kontroversial, dilansir dari (23/12/2024).

Hal ini karena ia digambarkan dengan ciri rasial, yaitu wajah hitam, rambut keriting, bibir merah, dan sering memakai anting emas.

Dilansir dari Britannica, saat Pit Hitam berbicara, para aktor/pemain cenderung menggunakan aksen Suriname, negara bekas koloni Belanda di Amerika Selatan dengan populasi kulit hitam yang cukup besar.

Penggambaran rasial tentang Pit Hitam telah menjadi subyek kritik dan protes publik dari kelompok aktivis sejak tahun 1980-an.

Pada abad ke-20, kampanye seperti Kick Out Zwarte Piet dan Zwarte Piet Is Racisme telah mengadvokasi untuk mengakhiri tradisi Pit Hitam.

Pelopor gerakan Kick Out Zwarte Piet, Mitchell Esajas mengatakan, orang Belanda cenderung berpendapat bahwa Pit Hitam adalah budaya Belanda.

Namun, Pit Hitam dianggap bagian dari tradisi internasional dengan stereotip rasial yang sangat kental.

Pada 2015, sekolah dasar Belanda mulai melarang penggambaran wajah hitam Zwarte Piet.

Dan pada 2017, kota Rotterdam juga melarang kostum wajah hitam selama parade tahunan.

Beberapa orang “menyusun” ulang karakter tersebut dan memanggilnya sebagai Pit saja, tanpa ada kata hitam.

Dalam beberapa tahun terakhir, Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag menghapus versi Pit Hitam dari perayaan resmi dan memperkenalkan versi yang lebih netral seperti Soot Piet. Yaitu Si Pit yang wajahnya hanya berbekas jelaga cerobong, tidak dicat hitam penuh.

Survei menunjukkan dukungan publik terhadap Zwarte Piet tradisional menurun, dan kampanye sosial melahirkan banyak modifikasi atau penghapusan karakter dalam rangka menghormati sensitivitas rasial.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang