Bukan Sinkhole, ESDM Ungkap Penyebab Longsoran Tanah yang Terus Membesar di Aceh Tengah

Dinas ESDM Aceh, Bukan Sinkhole, ESDM Ungkap Penyebab Longsoran Tanah yang Terus Membesar di Aceh Tengah, Apa sebenarnya jenis fenomena longsoran yang terjadi?, Bagaimana hasil kajian Badan Geologi Kementerian ESDM?, Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mitigasi?, Bagaimana riwayat longsoran di kawasan tersebut?

 Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mencatat fenomena pergerakan atau longsoran tanah di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus mengalami perluasan signifikan.

Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, luasan longsoran kini telah melebihi 30 ribu meter persegi dan menunjukkan tren membesar dibandingkan data beberapa tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, mengatakan bahwa luasan longsoran tersebut telah bertambah lebih dari 10 ribu meter persegi sejak pendataan terakhir pada 2021.

"Untuk luasan saat ini kami hitung sudah di atas 30.000 m². Kalau 2021 masih 20.199 m², jadi ada penambahan 10.000 m² lebih," kata Ikhlas saat dikonfirmasi di Banda Aceh, Selasa (3/2/2026) dikutip dari Antara.

Apa sebenarnya jenis fenomena longsoran yang terjadi?

Ikhlas menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di wilayah tersebut bukanlah sinkhole seperti yang kerap dipersepsikan masyarakat.

Menurutnya, longsoran tersebut merupakan erosi bawah permukaan atau piping erosion. Fenomena ini terjadi akibat proses erosi yang dipicu oleh aliran air tanah dan air permukaan yang secara perlahan menggerus material di bawah permukaan.

"Longsoran ini bukan sinkhole, melainkan piping erosion atau erosi buluh/erosi bawah permukaan yang disebabkan oleh erosi air tanah dan air permukaan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tebing yang curam serta faktor eksternal seperti hujan dengan intensitas tinggi dan aktivitas gempa bumi dapat mempercepat ketidakstabilan lereng di kawasan tersebut.

Dinas ESDM Aceh, Bukan Sinkhole, ESDM Ungkap Penyebab Longsoran Tanah yang Terus Membesar di Aceh Tengah, Apa sebenarnya jenis fenomena longsoran yang terjadi?, Bagaimana hasil kajian Badan Geologi Kementerian ESDM?, Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mitigasi?, Bagaimana riwayat longsoran di kawasan tersebut?

PLN bergerak cepat melakukan relokasi jaringan transmisi 150 kV Bireuen-Takengon ke lokasi yang lebih aman menyusul terjadinya longsoran _sinkhole_ di Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah.

Bagaimana hasil kajian Badan Geologi Kementerian ESDM?

Selain kajian dari Dinas ESDM Aceh, Badan Geologi Kementerian ESDM juga telah melakukan analisis awal untuk memutakhirkan data. Dari hasil kajian tersebut, disimpulkan bahwa fenomena pergerakan tanah di Kampung Bah juga bukan sinkhole.

"Badan Geologi sudah menyatakan itu bukan sinkhole, melainkan piping erosion atau erosi bawah permukaan," kata Ikhlas.

Berdasarkan kajian sementara, material tanah di lokasi longsoran tersusun di atas tufa vulkanik dari formasi Geureudong. Material ini bersifat lepas dan berpori, sehingga mudah menyerap air dan menjadi jenuh.

Selain itu, terdapat aliran air bawah tanah yang mengerosi material secara lateral. Kondisi tersebut diperparah oleh sistem drainase yang berpotensi meluap dan memberikan beban tambahan pada tanah, terutama saat musim hujan.

"Kondisi tebing yang curam, hampir tegak, menambah ketidakstabilan lereng, serta dapat dipicu oleh hujan dan juga gempa bumi, sehingga lerengnya tidak stabil," ujar Ikhlas.

Langkah apa yang perlu dilakukan untuk mitigasi?

Dinas ESDM Aceh mengimbau seluruh pihak terkait, khususnya unsur pemerintahan daerah, untuk meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi longsor susulan.

Masyarakat diminta tidak mendekati area longsoran, terutama pada musim penghujan, mengingat kondisi lereng yang sangat tidak stabil.

Ikhlas menekankan perlunya pemantauan perkembangan longsoran secara rutin. Pemantauan ini bertujuan untuk mendeteksi retakan baru yang dapat memanjang dan melebar, sebagai indikasi potensi longsor lanjutan.

"Terakhir, harus dilakukan pemantauan perkembangan longsoran secara berkala, terutama apabila ditemukan retakan baru memanjang dan melebar, serta laporkan segera ke instansi berwenang," kata Ikhlas.

Bagaimana riwayat longsoran di kawasan tersebut?

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, fenomena longsoran tanah di kawasan tersebut telah berlangsung sejak awal tahun 2000-an.

Awalnya, longsoran hanya berupa lubang kecil, namun sejak 2004 pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap.

Pada 2006, longsoran tersebut sempat memutus akses jalan Blang Mancung–Simpang Balik yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dengan Kabupaten Bener Meriah.

Dampak lanjutan dari pergerakan tanah juga memaksa dilakukannya relokasi permukiman warga Kampung Bah Serempah ke Kampung Serempah Baru pada periode 2013–2014.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang