Lubang Raksasa di Aceh Tengah Mengancam Permukiman dan Infrastruktur, Warga Harapkan Kompensasi
Lubang raksasa muncul di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Lubang ini terus meluas dan menimbulkan dampak serius bagi infrastruktur dan persawahan warga.
Pergerakan tanah itu telah berlangsung sejak 2011. Kini, fenomena ini memutus akses jalan utama, mengancam infrastruktur kelistrikan, serta merusak lahan pertanian warga di sekitar lokasi.
Pergerakan tanah sejak 2011
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mencatat pergerakan tanah di kawasan Pondok Balik telah terpantau sejak 2011.
Dalam kurun waktu belasan tahun, luas longsoran terus bertambah hingga mencapai lebih dari 30.000 meter persegi atau sekitar tiga hektar.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, mengatakan hasil kajian menunjukkan longsoran terjadi pada lapisan tanah permukaan yang jenuh air.
Ketika longsoran berada di lapisan tanah jenuh air dan didominasi material vulkanik, maka pergerakan tanah bersifat aktif dan berkelanjutan.
Akses terputus dan infrastruktur listrik terancam
Meluasnya longsoran menyebabkan akses jalan utama di ruas Pondok Balik–Ketol terputus total dan mengganggu konektivitas antarwilayah sejak Sabtu (2/6/2026).
Ancaman juga mengarah ke infrastruktur kelistrikan, karena longsoran tanah berada hanya beberapa meter dari tower Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 150 kilovolt.
Untuk mengantisipasi risiko gangguan listrik, PLN memindahkan Tower SUTET Nomor 76 sejauh sekitar 150 meter dari lokasi rawan.
Lahan pertanian warga rusak
Selain infrastruktur, dampak longsoran juga dirasakan warga di sektor pertanian. Tingginya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir mempercepat pelebaran lubang dan membuat kawasan sekitar ditetapkan sebagai zona merah.
Salah seorang warga, Edi Syaputra, mengaku lahan perkebunannya terdampak cukup parah.
"Lahan kebun saya yang terdampak longsor sekitar lima rante. Bukan hanya saya, kebun warga lain juga banyak yang rusak. Rata-rata yang terdampak itu tanaman cabai," kata Edi dikutip dari Tribun Gayo, Senin (9/10/2026).
Warga berharap pemerintah memberikan perhatian dan kepastian terkait kompensasi atas lahan yang kini tidak lagi dapat digarap.
Menteri PU dorong penangan cepat
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan penanganan cepat dan maksimal perlu dilakukan untuk mencegah longsoran semakin meluas.
Ia menilai pergerakan air menjadi salah satu faktor utama pemicu longsoran di kawasan tersebut.
"Perlu waktu, tapi kita upayakan maksimal agar jalan alternatif yang lebih pendek itu tidak hancur, dikutip dari Tribunnews, Senin (9/2/2026).
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian ESDM menyampaikan bahwa lubang raksasa di Pondok Balik bukanlah sinkhole yang biasa terjadi di kawasan karst.
Sebagai informasi, Aceh Tengah didominasi tanah vulkanik yang secara karakter lebih padat.
Meskipun demikian, air memiliki peran besar dalam pembentukan rongga tanah.
Adanya curah hujan ekstrem meningkatkan inflitrasi air ke dalam tanah dan mempercepat hilangnya lapisan daya dukung tanah. Apalagi, sempat terjadi siklon Senyar pada akhir 2025 yang meningkatkan curah hujan.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribungayo.com dengan judul Lubang Raksasa Rusak Lahan Pertanian, Warga Berharap Ada Kompensasi.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul 4 Fakta Lubang Raksasa di Aceh Tengah, Meluas Jadi 3 Hektare hingga Respons Pemerintah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang