Ahli Geologi Ungkap Risiko Sinkhole di Balik Meluasnya Longsoran Tanah Aceh Tengah

Ahli Geologi Ungkap Risiko Sinkhole di Balik Meluasnya Longsoran Tanah Aceh Tengah, Mengapa pengalihan aliran air dinilai penting?, Bagaimana kronologi terbentuknya lubang raksasa di Ketol?, Apa dugaan penyebab terbentuknya lubang raksasa tersebut?, Apa itu sinkhole dan bagaimana karakteristiknya?, Apakah lubang raksasa masih berpotensi meluas?, Apa langkah jangka panjang yang perlu dilakukan?

 Fenomena pergerakan tanah yang terjadi di Desa Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, kembali menjadi sorotan publik.

Longsoran yang terus berkembang sejak awal 2000-an tersebut kini membentuk lubang raksasa dengan luasan yang semakin bertambah dan berpotensi mengancam keselamatan lingkungan sekitar.

Ahli Geologi Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Bambang Setiawan, menilai diperlukan langkah cepat untuk menahan laju pergerakan tanah tersebut.

Salah satu upaya jangka pendek yang disarankan adalah dengan mengalihkan aliran air permukaan agar tidak melewati lokasi longsoran.

“Untuk menangani fenomena tersebut dalam jangka pendek, saya menyarankan untuk mengalihkan aliran air permukaan yang ada agar tidak melewati lokasi kejadian,” kata Bambang Setiawan di Banda Aceh, Rabu, menanggapi pergerakan tanah di Ketol, Kabupaten Aceh Tengah dikutip dari Antara, Rabu (4/2/2026).

Mengapa pengalihan aliran air dinilai penting?

Menurut Bambang, air memiliki peran besar dalam mempercepat pergerakan tanah, terutama pada material yang bersifat lepas dan mudah jenuh.

Oleh karena itu, pengalihan aliran air permukaan dinilai dapat mengurangi tekanan dan kejenuhan tanah di area longsoran.

Namun demikian, Bambang menegaskan bahwa pengalihan aliran air tidak bisa dilakukan sembarangan.

Penentuan lintasan aliran air harus mempertimbangkan kondisi geologi di lapangan agar tidak memicu masalah baru di lokasi lain.

“Pengalihan aliran air termasuk penentuan lintasan alirannya juga harus mempertimbangkan kondisi geologi di lapangan,” ujarnya.

Bagaimana kronologi terbentuknya lubang raksasa di Ketol?

Berdasarkan catatan, lubang raksasa di kawasan Ketol awalnya hanya berupa lubang kecil pada awal tahun 2000-an.

Sejak 2004, lubang tersebut terus mengalami pergerakan secara bertahap hingga membesar dari tahun ke tahun.

Tim Geologi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mencatat bahwa luas lubang tersebut kini telah melebihi 30 ribu meter persegi.

Sebagai perbandingan, pada 2021 luasnya tercatat sekitar 20.199 meter persegi. Artinya, dalam lima tahun terakhir terjadi penambahan area sekitar 10 ribu meter persegi.

Ahli Geologi Ungkap Risiko Sinkhole di Balik Meluasnya Longsoran Tanah Aceh Tengah, Mengapa pengalihan aliran air dinilai penting?, Bagaimana kronologi terbentuknya lubang raksasa di Ketol?, Apa dugaan penyebab terbentuknya lubang raksasa tersebut?, Apa itu sinkhole dan bagaimana karakteristiknya?, Apakah lubang raksasa masih berpotensi meluas?, Apa langkah jangka panjang yang perlu dilakukan?

Foto udara kondisi perkebunan milik warga yang amblas di jalan lintas Kecamatan Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (30/1/2026). Fenomena tanah amblas yang terjadi sejak beberapa tahun lalu meluas dua bulan terakhir dan menyebabkan jalan lintas Kabupaten Aceh Tengah-Kabupaten Bener Meriah terputus. ANTARA FOTO/Abiyyu/Lmo/rwa.

Apa dugaan penyebab terbentuknya lubang raksasa tersebut?

Bambang menyebutkan bahwa fenomena alam di Ketol masih tergolong misterius dan memerlukan penelitian geologi lanjutan.

Secara ilmiah, kondisi tersebut berpotensi mengarah pada fenomena sinkhole sebagai salah satu pemicu utama terbentuknya lubang raksasa.

Menurut Bambang, berdasarkan kajian Cameron dkk tahun 1983 yang menyusun peta geologi lembar Takengon, wilayah Aceh Tengah memiliki formasi Sembuang (MPs) berupa batu gamping atau limestone yang mengalasi batuan vulkanik satuan Lampahan (Qvl) di bagian permukaan.

Di sisi lain, batuan vulkanik dari satuan Lampahan juga memiliki potensi longsor yang tinggi, terutama pada lereng yang curam. Kombinasi kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar risiko pergerakan tanah.

“Permasalahan akan menjadi rumit jika memang fenomena sinkhole yang memicu munculnya lubang raksasa tersebut. Karena pekerjaan teknis untuk menangani dampak sinkhole ini memerlukan effort dan sumber daya yang lebih besar dibandingkan longsor biasa,” kata Bambang.

Apa itu sinkhole dan bagaimana karakteristiknya?

Secara harfiah, sinkhole didefinisikan sebagai kondisi bawah permukaan yang terbentuk akibat pelarutan batu gamping atau batu kapur selama periode geologis yang panjang. Proses ini menciptakan rongga di bawah tanah yang pada akhirnya dapat runtuh.

Sinkhole adalah cekungan yang disebabkan oleh tanah dan material lain yang amblas ke dalam lubang terbuka atau rongga di bawah permukaan tanah,” jelas Bambang.

Ia menambahkan bahwa sinkhole umumnya dibedakan menjadi dua model, yakni runtuhan lapisan penutup (collapse) dan penurunan lapisan penutup (subsidence).

Penelitian geologi lanjutan diharapkan dapat memastikan mekanisme terbentuknya lubang raksasa di Ketol.

Apakah lubang raksasa masih berpotensi meluas?

Berdasarkan analisis citra satelit tahun 2015, 2021, dan 2025, Bambang menyebutkan adanya peluang perluasan lubang raksasa tersebut.

Citra satelit menunjukkan pergerakan lubang ke arah selatan atau mendekati jalan lintas kabupaten.

“Citra satelit itu memperlihatkan adanya perluasan lubang ke arah selatan atau mendekati jalan lintas kabupaten,” ujarnya.

Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi mengganggu infrastruktur dan aktivitas masyarakat.

Apa langkah jangka panjang yang perlu dilakukan?

Selain solusi jangka pendek berupa pengalihan aliran air dan pemasangan rambu-rambu peringatan di sekitar lokasi, Bambang menekankan pentingnya kajian geologi mendalam sebagai dasar penanganan jangka panjang.

“Upaya-upaya mitigasi teknis untuk penanganan jangka panjang sebaiknya mengacu pada hasil dari penelitian geologi lebih lanjut tersebut,” katanya.

Sebagai informasi, kajian sementara Dinas ESDM Aceh menyebutkan bahwa pergerakan tanah di Ketol dipengaruhi oleh material penyusun berupa tufa vulkanik dari Formasi Geureudong yang bersifat lepas dan berpori, sehingga mudah menyerap dan menahan air.

Selain itu, adanya aliran air bawah tanah yang mengerosi material secara lateral, kondisi drainase yang meluap saat musim hujan, serta tebing yang curam dan hampir tegak turut meningkatkan ketidakstabilan lereng.

Faktor lain seperti curah hujan tinggi dan potensi gempa bumi juga dapat memicu pergerakan tanah di kawasan tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang