Aceh Tengah Masih Lumpuh Imbas Banjir: Warga Bertahan Tanpa Listrik, Sinyal, dan Logistik

banjir aceh, listrik padam di aceh, longsor aceh tengah, banjir Aceh Tengah, dampak banjir sumatera, korban banjir aceh tengah, Aceh Tengah Masih Lumpuh Imbas Banjir: Warga Bertahan Tanpa Listrik, Sinyal, dan Logistik, Mengapa Puluhan Desa di Gayo Lues Masih Terisolasi?, Bagaimana Kondisi Krisis di Kecamatan Jagong Jeget?, Mengapa Aceh Tengah Mengalami Pemadaman Listrik Berkepanjangan?, Bagaimana Kondisi Terkini Akses Menuju Celala?

Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Kabupaten Gayo Lues serta Aceh Tengah sejak akhir November hingga awal Desember 2025 menyebabkan puluhan desa terisolasi total.

Sebanyak 40 desa di empat kecamatan di Gayo Lues hingga kini masih sulit dijangkau akibat jalan yang amblas dan akses transportasi yang terputus.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah terpencil Aceh Tengah, termasuk Kecamatan Jagong Jeget dan Celala yang mengalami krisis logistik dan energi.

Mengapa Puluhan Desa di Gayo Lues Masih Terisolasi?

Kapolres Gayo Lues, AKBP Hyrowo, menjelaskan bahwa banjir bandang yang terjadi sejak Kamis (27/11/2025) hingga Sabtu (6/12/2025) membuat ruas jalan di sejumlah titik amblas tergerus sungai. Hal ini membuat kendaraan roda empat maupun roda dua tidak dapat melintasi jalur utama.

"Lokasi itu tak bisa dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua umumnya, karena ruas jalan yang amblas tergerus sungai," ujarnya dalam video yang dikirimkan kepada TribunGayo.com, Jumat (5/12/2025).

Untuk menyalurkan logistik, personel kepolisian dan relawan terpaksa berjalan kaki atau memanfaatkan Jembatan Tripe Jaya Rerebe sebagai jalur alternatif. Sebagian bantuan juga dikirimkan melalui jalur udara.

Namun, Kapolres menegaskan bahwa jembatan darurat yang terbuat dari tali dan rakit masih mengancam keselamatan warga.

Polres Gayo Lues telah mendistribusikan bantuan sembako ke Desa Rerebe, Kecamatan Tripe Jaya, sekaligus mengecek kondisi Pos Polisi Tripe Jaya pascabanjir.

Pemerintah daerah juga telah mengerahkan alat berat untuk membuka jalan yang tertimbun longsor agar mobilitas warga segera kembali normal.

banjir aceh, listrik padam di aceh, longsor aceh tengah, banjir Aceh Tengah, dampak banjir sumatera, korban banjir aceh tengah, Aceh Tengah Masih Lumpuh Imbas Banjir: Warga Bertahan Tanpa Listrik, Sinyal, dan Logistik, Mengapa Puluhan Desa di Gayo Lues Masih Terisolasi?, Bagaimana Kondisi Krisis di Kecamatan Jagong Jeget?, Mengapa Aceh Tengah Mengalami Pemadaman Listrik Berkepanjangan?, Bagaimana Kondisi Terkini Akses Menuju Celala?

Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Desa Rigeb, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo lues, Aceh, Selasa (2/12/2025). Banjir bandang yang melanda daerah itu pada Rabu (26/11) mengakibatkan empat orang meninggal dunia dan merusak ribuan rumah warga serta menyebabkan 15.110 jiwa dari 3.992 kepala keluarga terpaksa mengungsi, sementara akses utama menuju lokasi tersebut terputus sehingga menjadikan Gayo Lues terisolir.

Bagaimana Kondisi Krisis di Kecamatan Jagong Jeget?

Dampak banjir dan longsor juga sangat dirasakan warga Kecamatan Jagong Jeget, Aceh Tengah. Dalam sepekan terakhir, wilayah ini bahkan menghadapi krisis pangan serta kelangkaan BBM.

Joko Susilo, salah satu pemuda Jagong Jeget, mengungkapkan bahwa warga sudah kehabisan stok pangan dalam empat hari terakhir.

"Hingga hari ini, kami masih membutuhkan bantuan logistik, diutamakan melalui helikopter, karena BBM terbatas stok," jelasnya, Sabtu (6/12/2025).

Selain kesulitan pangan, warga juga terisolasi akibat jaringan seluler dan internet yang terputus.

Robi Sugara, Sekretaris Kampung Gegarang, menyebutkan bahwa warga hanya dapat berkomunikasi melalui posko kecamatan.

"Jika ada yang mau menyampaikan pesan ke orang tuanya, biar saya sampaikan," ujarnya.

Mengapa Aceh Tengah Mengalami Pemadaman Listrik Berkepanjangan?

Pemadaman listrik di Aceh Tengah telah berlangsung lebih dari sepekan akibat kerusakan jaringan yang disebabkan hujan deras dan banjir.

Hal ini memicu putusnya jaringan internet dan berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Fazrul, warga setempat, menggambarkan situasi yang serba sulit.

"Musibah ini mengakibatkan perekonomian masyarakat benar-benar ambruk, jangankan melakukan hal lain-lain, tingkat beras sudah sangat langka," katanya.

Ia berharap pemerintah segera memperbaiki infrastruktur dasar agar masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

Bagaimana Kondisi Terkini Akses Menuju Celala?

Kecamatan Celala menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karena akses menuju daerah tersebut terputus total.

Jalur utama melalui Kecamatan Silih Nara maupun Lintas Kuyun tidak dapat dilalui kendaraan. Jalur menuju Beutong pun putus, membuat wilayah ini benar-benar terkurung.

Hanya kendaraan roda dua yang bisa memaksa melewati jalur menuju Beutong Atas, itupun dengan risiko tinggi. Akibat terisolasi, harga pangan melambung drastis.

Sulaiman, warga Kampung Blang Kekumur, menjelaskan bahwa stok beras di wilayahnya sudah hampir habis.

"Satu kaleng Rp 300 ribu, satu kaleng setara dengan 10 bambu. Itu pun beras sisa dari petani dan penggilingan padi, sekarang juga sudah mulai habis," ujarnya Minggu (7/12/2025).

Bantuan pangan mulai masuk ke Celala pada Jumat (5/12/2025), namun jumlahnya masih sangat terbatas.

"Bantuan yang masuk baru lima karung beras per desa, isi 50 kilogram. Itu juga harus diangkut pakai roda dua karena aksesnya tidak memungkinkan kendaraan besar lewat," kata Sulaiman.

Warga kini berharap pemerintah daerah dan pusat dapat bergerak cepat membuka akses jalan serta memperbanyak distribusi bantuan sebelum situasi semakin memburuk.

"Kami mohon pemerintah segera turun tangan sebelum semuanya benar-benar habis," pungkasnya.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribungayo.com dengan judul 40 Desa di Gayo Lues Masih Terisolasi, Warga Menyebrang Sungai Gunakan Seutas Tali.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang