Apa Penyebab Bercak di Celana Dalam Wanita? Dokter Ungkap Penjelasannya
Diskusi mengenai bercak di celana dalam wanita tengah ramai di media sosial.
Salah seorang pengguna X @fe***yy mengutip foto celana delam dengan bercak putih dan menjelaskan kondisi tersebut disebabkan flora vagina sehat.
Ia mengomentari foto celana dalam dengan bercak di bagian tengah unggahan @Doctors__squad.
"Tanda kalo flora vagina sehat," bunyi komentar @fe***yy di X pada Kamis (5/3/2026).
Komentar itu mendapatkan impresi lebih dari 2,2 juta kali dan dikomentari ribuan pengguna X.
Lantas, apa yang disebut dengan flora vagina yang disebutkan oleh dokter tersebut?
Apa penyebab munculnya bercak di celana dalam?
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di RST Wijayakusuma Purwokerto, Ismiralda Oke Putranti menjelaskan tentang munculnya bercak di celana dalam wanita.
Masyarakat pada umumnya menyebut bercak celana dalam itu sebagai keputihan.
"Bercak pada celana dalam wanita sering kali disebut sebagai 'keputihan' oleh orang awam," kata Ismiralda saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (6/3/2026).
Menurut penjelasan Ismiralda, keputihan normal dihasilkan oleh lapisan dalam lahir maupun vagina.
"Keputihan yang normal merupakan cairan (lendir) yang bisa dihasilkan oleh lapisan dalam rahim (endometrium) maupun vagina," kata Ismiralda.
Namun, produksi lendir ini dapat meningkat karena berbagai hal seperti perubahan hormon hingga kehamilan.
"Produksi dapat meningkat akibat perubahan hormonal sebelum dan sesudah menstruasi, aktivitas berat, stres fisik/psikis, dan kehamilan," sambungnya.
Dalam kondisi normal, keputihan tidak berwarna atau bening dan tidak berbau. Ketika lendir melekat di celana, maka akan menimbulkan bercak.
"Keputihan yang normal biasanya bening, agak kental dan tidak bebau. Tentunya kalau melekat pada celana dalam dan kering akan menimbulkan bercak," jelasnya.
Kapan harus waspada terhadap bercak di celana dalam?
Ismiralda menjelaskan, seseorang perlu waspada jika menemukan perubahan pada lendir vagina.
Kondisi seperti lendir berbau atau muncul rasa gatal dan panas terbakar menandakan infeksi pada vagina.
"Kita harus waspada pada perubahan pada lendir vagina yang berubah warna, bau, jumlahnya meningkat, cair atau bahkan menjadi sangat kental, disertai gatal, rasa panas terbakar, nyeri pada saat berhubungan seksual bahkan disertai perdarahan," jelas Ismiralda.
Ia menjelaskan, sejumlah penyakit yang dapat memicu infeksi ini.
"Keputihan yang seperti ini biasanya disebabkan karena adanya infeksi baik bakteri, jamur maupun parasit. Contoh penyakitnya adalah servisitis gonore, servisitis klamidia, vaginitis kandida, vaginosis bakterial dan trikomoniasis," paparnya.
Apa itu flora vagina?
Mengenai istilah flora vagina seperti yang disebutkan warganet, Ismiralda menjelaskan bahwa organ tersebut umumnya dihuni bakteri dan jamur.
Keberadaan bakteri dan jamur ini membuat pH vagina menjadi seimbang. Vagina yang normal menghasilkan pH 4,5 atau bersifat asam.
"Di dalam vagina memang terdapat flora normal yang terdiri dari bakteri dan jamur. Bakteri dan jamur ini saling menyeimbangkan satu dengan yang lain sehingga mempertahankan pH vagina normal 4.5," jelas Ismiralda.
Ia menambahkan, penggunaan pembersih wanita, interaksi dengan benda asing hingga penyakit kronis dapat menyebabkan pH tidak seimbang dapat memicu masalah pada vagina.
"Akan bermasalah bila terjadi ketidakseimbangan pH vagina yang bisa dicetuskan oleh penggunaan pembersih kewanitaan, benda asing, penggunaan antibiotik, penyakit kronis seperti diabetes," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang