Medis Ungkap Penyebab Korban Petasan Ponorogo Meninggal, Hantaman Ledakan Kena Leher

Korban luka berat akibat ledakan petasan di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dilaporkan meninggal dunia, Kamis (5/3/2026) pagi.
Ahmad Fato’ani (A), warga Desa Morosari, Kecamatan Sukorejo, mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif selama 4 hari dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Harjono Ponorogo.
Penyebab Kematian dan Kondisi Medis
Humas RSUD dr Harjono Ponorogo, Sugiyanto, mengonfirmasi bahwa korban meninggal dunia pada pukul 05.40 WIB. Meski luka bakar yang dialami sebesar 36 persen, hantaman ledakan petasan tersebut menyebabkan gangguan fatal pada organ pernapasan.
"Korban mengalami luka bakar cukup parah disertai gangguan pada saluran pernapasan. Memang lukanya sekitar 36 persen, namun ada gangguan pada saluran pernapasan. Korban meninggal dunia pukul 05.40 WIB,“ ujar Sugiyanto saat ditemui di RSUD dr Harjono, Kamis.
Lebih lanjut, Sugiyanto menjelaskan bahwa lokasi luka yang berada di area leher sangat krusial karena memengaruhi pembuluh darah dan jalan napas. Sejak dievakuasi pada Minggu (1/3/2026), korban langsung menjalani operasi pembersihan luka dan harus dibantu alat pernapasan.
"Luka berada di sekitar leher sehingga pembuluh darah dan jalan napas terganggu. Risiko terbesar yang kami jaga adalah infeksi pascaledakan. Kekuatan hantaman ledakan juga sangat mempengaruhi kondisi tubuh sehingga kondisi pasiennya sangat kritis," imbuhnya.
Konfirmasi Pihak Kepolisian
Kapolres Ponorogo, AKBP Andin Wisnu Sudibyo, membenarkan kabar duka tersebut. Pihaknya telah menerima laporan dari Kapolsek dan Kasatreskrim terkait meninggalnya korban petasan yang sebelumnya dalam kondisi kritis.
"Laporan dari Kapolsek dan Kasatreskrim, korban petasan di Polsek Sumoroto yang luka berat tadi pagi meninggal dunia. Anggota sedang di rumah sakit untuk persiapan proses selanjutnya," pungkas AKBP Andin.
Kesaksian Korban Selamat
Di sisi lain, satu korban lainnya berinisial H (Hindar Agusta) masih menjalani perawatan di ruang Flamboyan RSUD dr Harjono. Hindar, yang mengalami luka bakar 16 persen, menceritakan detik-detik mencekam saat ledakan terjadi di rumah milik Minten tersebut.
Hindar mengaku saat itu ia baru saja datang untuk mengembalikan kunci sepeda motor. Ia melihat korban meninggal dunia lainnya (Rifai Kurnia Putra) sedang merakit petasan bersama Ahmad Fato’ani di depan pintu.
“Saya kasih kunci, saya dingkluk (menunduk) gitu, terus meledak. Terus saya sempat mencelat (terlempar). Yang sadar cuma saya, yang satu sudah meletik jauh, yang satunya meninggal di tempat,” kisah Hindar dengan suara lirih.
Peristiwa tragis ini bermula pada Minggu (1/3/2026) sore menjelang waktu berbuka puasa. Ledakan dahsyat yang berasal dari bahan peledak racikan, yang diperkirakan mencapai 5 kilogram, menghancurkan rumah warga di Dukuh Cuwet.
Tim Gegana Polda Jatim telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk menyelidiki penyebab pasti ledakan.
Dengan meninggalnya Ahmad Fato’ani, total korban jiwa dalam insiden ini menjadi dua orang, setelah sebelumnya satu pelajar SMP (Rifai) dinyatakan tewas di lokasi kejadian.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul dan di TribunJatim.com dengan judul Kesaksian Korban Ledakan Petasan di Ponorogo, Mengaku Sempat Terpelanting
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang