Tim Aceh Dapat Penghargaan Khusus Peserta Tergigih Budaya Go! Berkat Smart Keuneunong di Tengah Bencana
Perjalanan sebuah inovasi tak selalu berlangsung mulus. Ada kalanya sebuah karya lahir di tengah situasi sulit, bahkan saat kondisi lapangan tidak mendukung. Begitulah gambaran perjalanan tim teknologi asal Aceh yang tetap melanjutkan pengembangan ide mereka meski wilayahnya sedang menghadapi bencana banjir.
Upaya mereka itu kemudian mendapat perhatian ketika memasuki tahap akhir kompetisi Budaya Go! 2025 yang merupakan program dari Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI. Pada malam apresiasi, tim Bintang Kala dipanggil ke panggung untuk menerima penghargaan khusus sebagai peserta tergigih. Pengakuan ini diberikan karena ketangguhan mereka menjalani proses hingga akhir meski menghadapi kendala besar di daerah asal, termasuk sulitnya akses dan keterbatasan fasilitas.
Penghargaan tersebut hadir sebagai bentuk apresiasi atas komitmen mereka menjaga warisan budaya Aceh melalui pendekatan modern. Walau tidak termasuk dalam jajaran pemenang utama, usaha Bintang Kala tetap mendapatkan tempat tersendiri berkat konsistensi mereka membawa nilai budaya lokal ke ruang digital melalui aplikasi yang mereka kembangkan.
Inovasi itu diberi nama Smart Keuneunong, sebuah aplikasi yang dirancang untuk mendokumentasikan dan menghidupkan kembali kalender tradisional Aceh yang dikenal sebagai Keuneunong. Kalender ini sudah berabad-abad menjadi acuan petani dan nelayan dalam menentukan musim tanam, waktu melaut, hingga membaca tanda-tanda alam. Karena diwariskan secara lisan, penggunaannya perlahan memudar dan berisiko hilang dari generasi mendatang.
Melihat kondisi tersebut, Bintang Kala berinisiatif mentransformasikan tradisi itu ke platform digital. Mereka tetap mempertahankan perhitungan asli kalender tradisional, lalu menambahkan teknologi kecerdasan buatan untuk memberikan rekomendasi yang menyesuaikan lokasi pengguna, kondisi cuaca, dan pola adat yang biasa digunakan para Kejurun Blang serta Panglima Laut di Aceh.
Menurut Syahrul Hamdi, salah satu anggota tim, Smart Keuneunong bukan sekadar proyek digital, tetapi bagian dari upaya pelestarian budaya.
“Kami ingin memastikan ia tetap hidup, diakses, dan dipahami oleh generasi sekarang. Jika digunakan dengan benar, rekomendasinya bisa membantu mengurangi risiko gagal panen dan meningkatkan keselamatan nelayan,” ujarnya.
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, turut menekankan pentingnya mendukung inovator muda agar karya berbasis budaya dapat terus berkembang.
“Teknologi bisa menjadi sayap yang membuat budaya terbang lebih jauh, dan Bintang Kala sudah memberi contoh itu,” kata Giring.